Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Adat Tanjungsaren Dlimas - Kab. Klaten, Jawa Tengah
Sejarah: Desa Dlimas yang sekarang ini dahulu adalah dukuh peralihan yang awalnya berupa hutan alang-alang ‘ilalang’. Pada abad ke 18 Desa Dlimas telah dihuni oleh beberapa keluarga yang merupakan trukan (desa kecil). Adapun yang menjadi sesepuh pada waktu itu Ki Demang Rawatmejo. Kemudian ada pendatang baru yang menurut cerita ia dari kerabat kraton Yogyakarta Hadiningrat menamakan diri Ki Dlimas, yang diceritakan oleh sesuatu sebab di Kraton Yogyakarta timbul peperangan, kemudian ia mengembara sampai suatu tempat yang telah ada penduduknya yaitu di tempat Ki Demang Rawatmejo. Pada waktu itu ia melihat sebuah pohon dlima yang berbuah berwarna kekuning-kuningan seperti warna emas. Oleh Ki Demang Rawatmejo dan para pendatang baru daerah yang mereka tempati dinamakan Desa Dlimas (ada buah dlima yang yang warnanya kekuning-kuningan seperti warna emas). Selanjutnya Ki Dlimas menjadi cikal bakal Desa Dlimas. Disebelah barat Desa Dlimas pada waktu itu masih berupa alang-alang. Ditengah-tengah ladang alang-alang tumbuh pohon tanjung yang sampai sekarang masih hidup dengan kokohnya. Dibawah pohon itu setiap malam Jumat Kliwon ada cahaya yang dapat dilihat oleh beberapa penduduk Dlimas. Pada suatu hari malem Jemuwah Kliwon, Ki Demang Rawatmejo dan beberapa orang mendatangi tempat itu, ternyata di pohon tanjung itu terlihat ada seorang wanita yang cantik bersandar di pohon itu dengan berkata tanjungsari beberapa kali. Kemudian wanita itu hilang tak ada yang tahu (musna). Bersamaan dengan saat itu penduduk Dlimas terserang penyakit ambah-ambah pagebluk banyak orang yang meninggal. Sebagai seorang Demang Ki Rawatmejo melakukan bertapa untuk minta petunjuk kepada Tuhan supaya rakyatnya tidak kena bencana; dengan cara bertapa (nglakoni ngebleng) selama 21 hari. Akhirnya Ki Demang pada suatu ketika didatangi dua orang putri yang cantik menemui Ki Demang yang pada waktu itu masih bertapa, kemudian Ki Demang berdialog dengan kedua putri tersebut. Setelah mengadakan dialog dengan Ki Demang Rawatmejo kedua putri itu kemudian hilang atau musna. Sejak peristiwa itulah tradisi Tanjungsaren Desa Dlimas dilaksanakan oleh Ki Demang Rawatmejo beserta rakyatnya sampai turun-temurun hingga sekarang. Deskripsi: Upacara tradisional Tanjungsaren Dlimas diselenggarakan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rakhmat yang telah dilimpahkan-Nya sehingga warga masyarakat dapat mendapatkan hasil panen yang baik, disamping itu juga merupakan permohonan kepada Tuhan agar seluruh warga selalu dalam lindunganya, dapat berhasil dalam bermatapencaharian, khusunya petani dengan hasil panennya yang baik; dan dapat hidup aman dan tenteram. Upacara tradisional Tanjungsaren Dlimas diselenggarakan dengan berpedoman pada penanggalan Jawa, yaitu pada bulan Sura. Pemilihan bulan Sura sebagai bulan pelaksanaan karena dikaitkan dengan lahirnya tokoh atau pepundhèn Desa Dlimas, Nyi Tanjungsari dan Nyi Payung Gilap yang lahir pada bulan Sura. Pemilihan hari Jemuwah Kliwon berkaitan dengan hari lahirnya Nyi Tanjungsari sedang hari Jemuwah Wage merupakan hari lahirnya Nyi Payung Gilap. Kedua hari tersebut dipilih sebagai hari pelaksanaan karena bagi masyarakat pendukung tradisi ini hari Jemuwah Kliwon dan Jemuwah Wage merupakan hari yang dikeramatkan. Tempat upacara di lingkungan pundhen Desa Dlimas, di halaman gedung kesenian atau serbaguna Desa Dlimas di bawah pohon tanjung, Sedangkan waktunya sesudah tengah hari. Pada hari puncak upacara setelah masyarakat pendukungnya datang ketempat upacara dengan sesaji yang sudah disiapkan, kemudian dilakukan pelaksanaan puncak upacara, yang diawali dengan kata sambutan dari ketua panitia dan Kepala Desa Dlimas, kemudian dilaksanakan ikrar yang isinya tentang tujuan diadakannya tradisi Tanjungsaren yaitu memohon ketenteraman, keselamatan, kesejahteraan warga masyarakat, dilanjutkan dengan doa dari 3 agama yaitu Islam, Budha, dan Kristen. Setelah doa selesai kemudian para pendukung dan pengunjung tradisi ini dipersilahkan menikmati berbagai macam makanan sesaji yang telah dipersiapkan. Setelah acara makan selesai maka selesailah puncak acara tradisi Tanjungsaren Desa Dlimas, dan masyarakat pendukungnya dengan hati yang lega kembali kerumah masing-masing dengan membawa sisa makanan sesaji untuk diberikan kepada sanak saudara dan tetangganya. Puncak acara tradisi Tanjungsaren Desa Dlimas diakhiri dengan pertunjukkan tayub yang bertempat di bawah pohon tanjung. Pertunjukkan tayub ini merupakan salah satu pelangkap tradisi Tanjungsaren sejak jaman dahulu. Menurut kepercayaan masyarakat pendukungnya pertunjukkan tayub ini harus selalu dilaksanakan, sebab kalau tidak dilaksanakan maka upacara ini dirasa kurang lengkap, sehingga akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.