Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Adat Pasar Kumandang - Kab. Karanganyar, Jawa Tengah
Sejarah: Upacara Adat Pasar Kumandang diselenggarakan dalam rangka mengisi bulan Sura pada penanggalan Jawa. Tradisi ini sudah menjadi kegiatan rutin orang Jawa bahwa pada bulan Sura dianggap sebagai bulan untuk melakukan tiraka, banyak memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mencari berkah, kesehatan, keberhasilan/kesuksesan baik dibidang pertanian maupun perdangan. Bulan Sura adalah bulan untuk perenungan dengan apa yang telah dilakukannya selam in. Tradisi Pasar Kumandang di Tawangmangu adalah suatu kegiatan ritual doa bersama yang dilakukan oleh para pedagang pasar tradisional pada hari Minggu Paing bulan Sura setiap tahunnya, dimulai dari pukul 08.00 sampai selesai, biasanya sore hari. Kegiatan ini diselenggarakan/dipusatkan di pasar tradisional atau pasar wisata. Pada saat dilaksanakan kegiatan upacara Pasar Kumandang ini para pedagang berhenti dari kegiatan jual beli. Tujuan diadakannya Upacara adat Pasar Kumandang sebagai pengharapan para pedagang akan kelancaran dalam menjajakan dagangannya dan mendapatkan perlindungan Tuhan dari gangguan roh halus atau sesuatu yang tak kasat mata, mohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dijauhkan dari segala bencana dan dimurahkan rejekinya. 3. Disamping untuk mempertahankan keberadaan pasar tradisional agar tidak kalah bersaing dengan pasar modern seperti: mall, super market, luwes, indo maret, alpha mart dll). Selain itu supaya terjalin kerjasama atau gotong royong dan kerukunan antar pedagang. Deskripsi: Para pedagang pasar dengan membawa peralatan sesaji (uba rampe) semua berkumpul di pasar untuk melaksanakan acara ritual doa bersama sambil bersedhekah, dengan cara memberi secara gratis macam dagangan yang dijual kepada pengunjung. Kegiatan diawali upacara kirab gunungan dengan membawa sesaji yang berupa hasil bumi dan atau dagangannya. Gunungan setinggi + 2 m ini dihiasi dengan hasil bumi berupa buah-buahan, sayuran, bunga, palawija, pala gumantung dan pala kependem, menuju tempat upacara. Kegiatan tersebut ditempatkan di obyek wisata atau Pasar Wisata karena selain kegiatan ini rutin dilakukan sekaligus sebagai wahana guna promosi dan peningkatan kunjungan wisata. Gunungan dikirabkan dengan diikuti oleh para pedagang pasar, pedagang kaki lima, pedagang buah, pedagang bunga, pedagang sayuran, asongan, Perdabita , PHRI, masyarakat dan praktisi pariwisata, serta diiringi oleh kesenian seperti; reog, lesung, kesenian bambu (Tek-tek), dagelan, maching band dan sebagainya Setelah dipanjatkan doa bersama para pedagang akan menerima barikan, yaitu bingkisan kain putih atau kantong yang berisi abon-abon berupa kacang hijau, beras kuning, empon-empon, kaca rias kecil yang dipercaya bisa sebagai penolak makhluk halus yang ingin mengganggunya. Barikan tersebut bisanya disimpan pada tempat tertentu atau pada tempat menyimpan uang. Sedangkan Gunungan yang berisi hasil bumi dibagikan kepada para pengunjung. Dipercaya bahwa barang siapa bisa mendapatkan bagian sesaji gunungan tersebut akan membawa berkah bagi keluarganya. Kegiatan ini diikuti oleh para pedagang pasar dari berbagai tempat, antara lain: pedagang Pasar Tawangmangu, pedagang pasar Karangpandan, pedagang pasar Matesih, pedagang pasar Kemuning, pedagang pasar Klewer dan Pasar Legi Solo dan sekitarnya.