Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Ngalungi Sapi - Blora, Jawa Tengah
Sejarah: Tidak Diketahui Deskripsi: Upacara ini berkaitan dengan mata pencaharian sebagian besar masyarakat Kabupaten Blora yaitu bertani dan beternak. Bagi warga setempat, sapi adalah rajakaya, artinya dengan memiliki sapi, seseorang memiliki kekayaan yang berharga. Di samping sebagai tabungan, sapi juga digunakan tenaganya untuk mengolah sawah dan tegalan. Upacara ini biasanya dilaksanakan setahun sekali setelah panen di rumah masing-masing dimana sapi sudah selesai dipergunakan untuk membantu bekerja bertani, dan juga diharapkan dapat berkembang baik dengan cepat dan baik. Hal ini diistilahkan secara local sebagai; dongkrok dadi kemroyok, dungkul dadi kemrujul, branggah dadi gemrayah. Dongkrak (sapi yang tanduknya menghadap ke bawah), dungkul (sapi yang tidak memiliki tanduk), branggah (sapi yang tanduknya naik ke atas0. Ketiganya diharapkan dapat sehat dan memiliki banyak anak. Peralatan dan ubarampe yang diperlukan upacara ini terdiri dari ketupat, lepet, alau-alu (lopis), dan sayur lodeh Lombok ijo (sayur bersantan yang digunakan untuk makan ketupat), selain sapi yang akan dikalungi tersebut. Prosesi pelaksanaa upacara adalah: a.Malam sebelum hari yang ditentukan, orang yang mempunyai sapi memasak ketupat, lepet,dan alau-alu (lopis). Jumlah ketupat yang dimasak 44 bermakna papat papat, yaitu untuk hewan berkaki empat. b.Pagi hari mengundang tetangga kiri kanan (lazimnya anak penggembala sapi. Anak yang biasa mengambil makanan untuk sapi, tukang ngarit, atau pemberi pangan) untuk melaksanakan kajatan ngalungi. c.Ketupat ditempatkan di tampah/baki, beserta lepet dan alu-alu (lopis) dan sayur lodeh. d.Setelah berkumpul didoakan yang intinya memeohon kepada Yang Maha Kuasa Pencipta dan alam seisinya agar diberikan keselamatan termasuk hewan ternak sapnya agar sehat dan dapat berkembang baik dengan cepat dan baik (gemrayah) e.Doanya disebut Murwati Dadung Awuk Kaladipa, yang diperuntukkan kepada yang baureksa sapi (roh para pelindung sapi) f.Setelah didoakan, ambeng ketupat dimakan bersama dan yang punya kajat mengambil seikat ketupat kemudian dikalungkan pada sapid an dienduskan ke mulut sapi. g.Apabila ambeng lebih, dibagikan pada orang yang mengikuti kajatan ngalungi sapi tersebut. Upacara ini dilakukan juga untuk meminta maaf pada hewan tersebut apabila dalam pekerjaannya melakukan kesalahan, seperti mencambuk terlalu keras atau bahkan memukulnya. Makna yang terkandung di dalam upacara ini adalah wujud syukur pada Tuhan Yang Mahaesa yang telah memberikan berkah berupa panen yang baik dan hewan ternak sapi yang baik pula.