Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Adat Labuhan Gunung Lawu - Kab. Karanganyar, Jawa Tengah
Sejarah: Asal mula upacara labuhan Gunung Lawu yaitu pada awal masa pemerintahannya Panembahan Senopati mencoba mencari dukungan moral untuk memperkuat kedudukannya. Dukungan itu diperoleh dari Kanjeng Ratu Kidul yaitu makhluk halus penguasa laut selatan. Panembahan Senopati membuat perjanjian kerjasama dengan Kanjeng Ratu Kidul yang pada intinya bahwa Kanjeng Ratu Kidul bersedia membantu segala kesulitan Panembahan Senopati. Sebagai imbalannya Panembahan Senopati harus memberikan persembahan yang diwujudkan dalam bentuk upacara labuhan. Pada periode-periode berikutnya upacara labuhan menjadi tradisi di Kerajaan Mataram. Karena Kanjeng Ratu Kidul dipercaya hidup sepanjang masa, maka para raja Mataram pengganti Panembahan Senopati tetap melestarikan tradisi labuhan sebagai penghormatan atas ikatan perjanjian tersebut. Apabila kewajiban itu diabaikan oleh anak cucu Panembahan Senopati yang memerintah Mataram, maka menurut kepercayaan, Kanjeng Ratu Kidul akan murka. Akibatnya, Kanjeng Ratu Kidul akan mengirim pasukan jin, dan semua makhluk halus untuk menyebarkan penyakit dan berbagai macam musibah yang akan menimbulkan malapetaka bagi rakyat dan kerajaan Mataram. Namun apabila anak cucu Panembahan Senopati memenuhi kewajibannya dengan melakukan labuhan di tempat-trempat tertentu seperti: Parangkusuma, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Kahyangan. Deskripsi: Upacara labuhan Gunung Lawu diselenggarakan setiap 8 tahun sekali bertepatan dengan tahun Dal. Bertepatan dengan Wiyosan Dalem (hari penobatan raja) Sultan Hamengkubuwono yang bertahta di Karaton Yogyakarta. Dengan demikian maksud dan tujuan diadakannya upacara labuhan ialah untuk keselamatan pribadi Sri Sultan, Keraton Yogyakarta dan rakyat Yogyakarta. Upacara labuhan dilaksanakan sebelum hari penobatan Sri Sultan yang sudah memimpin kerajaan, sehingga setiap pergantian raja akan terjadi pergantian jadwal upacara labuhan, karena masing-masing raja berbeda waktu penobatannya. Sejak zaman kemerdekaan waktu penyelenggaraan upacara labuhan adalah satu hari setelah upacara tingalan dalem, namun persiapan kedua upacara tersebut dilakukan secara bersamaan Wiyosan Dalem. Tingalan dalem atau wiyosan dalem adalah hari kelahiran Sri Sultan yang dihitung bukan berdasarkan gabungan hari dan pasaran yang setiap 35 hari (selapan dina) berulang, melainkan tanggal dan bulan kelahiran Sri Sultan menurut perhitungan tarikh Jawa (ulang tahun). Sesaji untuk upacara labuhan yang dibuat oleh kedua pawon keraton Yogyakarta yaitu pawon Sakalanggen dan pawon Gebulen. Sesaji tersebut terdiri dari: sanggan, tukon pasar, pala gumantung, pala kependhem dan pala kasimpar. Tepat pada hari tingalan dalem, kawedanan Ageng Punakawan Widya Budaya menyiapkan barang-barang yang akan dilabuh dan mengatur barang-barang tersebut menjadi tiga bagian pada saat labuhan alit atau empat bagian pada saat labuhan ageng. Masing-masing bagian benda labuhan itu dimasukkan ke dalam kotak kayu kecil yang tertutup. Semua kotak tersebut bersama-sama dengan benda labuhan yang lain disimpan di bangsal Sri Manganti, dan diinapkan satu malam hingga keesokan harinya saat pelepasan upacara labuhan. Benda-benda yang dilabuh antara lain : - Potongan kuku (kenaka) dari Sri Sultan yang dikumpulkan selama satu tahun. - Potongan rambut (rikma) dari Sri Sultan yang dikumpulkan selama satu tahun - Beberapa potong pakaian bekas milik Sri Sultan - Benda bekas milik Sri Sultan yang berujud payung (songsong) - Layon sekar, yaitu sejumlah bunga yang telah layu dan kering, dari bekas bunga sesaji pusaka-pusaka keraton yang dikumpulkan selama satu tahun - Sejumlah barang yang sebagian besar terdiri dari kain. Labuhan gunung Lawu dilaksanakan setiap 8 tahun sekali bertepatan dengan tahun Dal, labuhan ageng dilaksanakan di empat tempat yaitu Parangkusuma, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Kahyangan. Khusus untuk labuhan ageng yang dialksanakan di Gunung Lawu sesajinya ditambah dengan sebuah payung yang disebut songsong pethak seret praos. Jika dalam satu tahun sudah dilakukan labuhan ageng (tahun Dal), maka untuk tahun tersebut tidak dilaksanakan labuhan