Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKerajinan Batu Hias - Kebumen, Jawa Tengah
Sejarah : Batuan Luk Ula yang memiliki bermacam – macam jenis dan kekhasan tersendiri, memiliki daya manfaat sebagai hasil induksi energi statis makrokosmos yang dikandungnya terhadap energi dinamis mikrokosmos yang terdapat dalam diri manusia (si pemakai atau pemilik batu). Proses ini merupakan proses reaksi alam baik kimia, fisika, kelistrikan, kemagnetan dan lain – lain. Daya yang ditimbulkan dari pemakaian dan kepemilikan batu Luk Ula berbeda dengan batuan – batuan dari daerah lain yang lebih bersifat klenik dan erat dengan pencitraan bahwa batu atau akik identik dengan dunia perdukunan. Mencari Bahan Dasar di Aliran Sungai Luk Ula Karangsambung Mencari bahan dasar berupa batuan untuk dijadikan akik di sungai luk Ula sangat sulit. Hal ini disebabkan oleh kegiatan eksplorasi pasir secara besar – besaran yang telah berlangsung lebih dari 25 tahun ini dengan menggunakan mesin sedot, sehingga batuan – batuan mulia ikut tesedot dan terbawa oleh truk pasir ke tempat – tempat konsumen pasir, tidak hanya di dalam kabupaten Kebumen saja, tetapi sampai ke luar kabupaten, dikarenakan kualitas pasir Luk Ula yang dikenal unggul sejak dahulu. Selain aktivitas penambangan pasir, hal lain yang menyebabkan langkanya batuan Luk Ula adalah banyaknya kolektor dari luar kota bahkan macanegara seperti Jepang, Korea, Cina, dan lain – lain yang membeli dan mengangkut bongkahan – bongkahan batuan berkualitas Luk Ula Karangsambung yang tidak jarang menggunakan kendaraan berat. Batuan berupa bongkahan besar tersebut dijadikan hiasan taman bernilai tinggi. Keadaan ini sangat sulit dicegah sebab batuan – batuan ini tidak hanya tersebar di tanah milik LIPI saja, akan tetapi lebih banyak dan beragam di tanah milik warga. Kondisi ekonomi warga yang pas – pasan dan medan pegunungan menjadikan batuan – batuan ini sebagai sumber mata pencaharian warga. Harga murah untuk batu berkualitas tinggi ini tidak menjadi masalah bagi warga yang sehari – harinya mayoritas bergantung pada alam Luk Ula dan Karangsambung. Efek kelangkaan seperti yang terjadi sekarang ini pun tidak dihiraukan warga. Deskripsi : Pembuatan Akik Batu Luk Ula melalui beberapa tahap yaitu: 1. Pencarian Bahan Batuan Pencarian batuan bahan tidak bisa dipastikan, artinya; saat mencari batuan bahan, kita tidak bisa memastikan akan mendapatkan batuan bahan jenis tertentu. Semua bergantung pada keberuntungan dan julung (bahasa jawa yang berarti sesuai dengan grade jiwa dan spiritual sang pencari. Maka terkadang dalam mencari batuan bahan, para pencari batu melakukan tirakat atau puasa yang bertujuan agar bersihnya raga, kejernihan batin dan ruhani akan menciptakan hukum ketertarikan dan kesepadanan antara pencari batuan sebagai mikrokosmos dengan batuan bahan sebagai makrokosmos. Hal ini dikarenakan Batu Mulia Luk Ula sangat sulit dideteksi. Kebanyakan terbungkus kulit dengan warna yang tidak sama dengan dalamnya. Banyak yang menemukan batuan bahan dengan corak dan warna kulit yang indah, akan tetapi setelah dipecah dalamnya tidak jenih dan merupakan batuan biasa. Batuan bahan yang bagus dan mengandung daya induksi makrokosmos yang kuat kebanyakan terbungkus oleh kulit yang biasa dan pekat sehingga dalam mencari bahan di lokasi terkadang diperlukan palu untuk memecah batuan bahan temuan. Apakah benar – benar bagus dan tergolong batu mulia, atau hanya merupakan batu biasa? Dalam satu bulan pencarian terkadang bisa terjadi si pencari batuan tidak mendapatkan batuan bahan Luk Ula. 2. Pembentukan Proses pembentukan adalah proses dibentuknya batuan bahan menjadi batuan akik sesuai dengan keinginan. Dimulai dari pengamplasan kasar, sedang dan halus hingga batuan terbentuk menjadi akik yang diinginkan. 3. Penyanglingan Penyanglingan adalah proses finishing berupa pengkilapan batuan yang sebelumnya tidak hidup dan memantulkan cahaya dikarenakan proses pengamplasan. Penyanglingan tradisional dilakukan dengan menggosok batuan menggunakan klaras (daun pisang yang telah kering) atau pring wulung (bambu wulung). Saat ini dikenal penyanglingan secara praktis yakni dengan menggosoknya menggunakan serbuk khusus buatan. Bagaimanapun, agar daya induksi batuan maksimal, gunakan media penyanglingan alami yakni klaras ataupun pring wulung. 4. Pengembanan Pengembanan adalah tahap pemasangan batu yang telah mengkilap ditempatnya. Yang dimaksud dengan tempat adalah cincin, kalung ataupun yang lain. Artinya, batu dipasang sebagai mata cincin, kalung ataupun asesoris lain. Bahan emban bermacam – macam mulai dari monel, kuningan, perak, dan emas. Batuan mulia dengan daya induksi yang baik akan sangat maksimal daya induksi dan pancarnya jika dipasang dalam emban berbahan mulia juga. emban disesuaikan dengan grade batuan yang dalam ilmu alam Jawa dikenal dengan adanya tingkatan grade: 1. Wahyu, 2. Pulung, dan 3. Handaru. Masing – masing grade ini memiliki fungsi dan daya berbeda meskipun dalam batuan dengan jenis yang sama. Grade tersebut merupakan pecampuran saripati alam tertentu dari penyusun mineral unsur – unsur mulia seperti sesotya, emas, perak, timah, tembaga dan sebagainya. Perbedaan campuran materi penyusun inilah yang kemudian menimbulkan grade dan daya yang berbeda sehingga dikenal adanya tingkatan derajat kemuliaan dari atas ke bawah yakni Wahyu, Pulung dan Handaru. Masih terdapat dua derajat di bawah Handaru, akan tetapi tidak dibahas di sini karena dua grade terbawah itu tersusun oleh saripati alam yang keras dan tidak baik untuk manusia. Itulah yang terkadang dalam masyarakat Jawa dikenal dengan istilah daya gatel, galak dan sebagainya, sehingga jika batuan berunsur daya tersebut dipakai ataupun berada di dalam rumah akan menimbulkan efek penyakit pada si pemakai atau pun keadaan yang tidak baik di dalam rumah, dimana sesungguhnya hal tersebut meupakan efek sinergi induksi makrokmosmos dalam batu dengan mikrokosmos dalam diri manusia yang kebetulan daya makrokosmosnya adalah daya 2 grade terbawah.