Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaLegenda Punden Jajang - Blora, Jawa Tengah
Sejarah: Makam Janjang yang terletak di Desa Janjang merupakan tempat dimakamkannya Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jati Kuswara serta Nyi Randa Kuning yang setia mengikuti perjalanan sang pangeran. Makam tersebut sampai sekarang banyak dikunjungi oleh para peziarah. Setiap tahun diadakan upacara sedekah bumi yang dilaksanakan pada hari Jumat Pon. Disamping itu makam tersebut juga sering dipergunakan untuk melepas nazar, yang bisa dilaksanakan dengan acara mementaskan pertunjukan wayang Krucil khas Janjang dengan menampilkan wayang keramat ciptaan sang pangeran yang terdiri dari Lakon Wayang Panji, Wayang Brojol, Wayang Kyai Kuripan dan Wayang Nyi Sekentir. Konon wayang tersebut tidak mau dibawa dengan berjalan kaki atau digendong. Selain itu Makam Janjang juga sering digunakan sebagai sarana untuk melakukan peradilan tradisional yang dikenal dengan istilah Sumpah Janjang. Acara tersebut biasanya dilakukan dalam rangka untuk mencari kebenaran yang sudah tidak bisa dilakukan denagn jalan lain. Sumpah Janjang jaman sekarang disebut dengan istilah Sumpah Pocong. Deskripsi: Legenda Punden Janjang terkait dengan cerita tentang kisah perjalanan Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jati Kuswara dalam pengembaraanya untuk mencari pusaka kerajaan Pajang yang hilang. Konon setelah berpisah dengan ketiga saudaranya yang melanjutkan perjalanan ke arah timur antara lain Pangeran Anom dan Pangeran Jati Kuswara. Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jati Kuswara melanjutkan perjalanan ke arah utara yang jalannya cukup sulit karena terhalang oleh sungai yang curam. Pangeran Jati Kusuma dengan kesaktiannya lalu menciptakan sebauh jembatan dlam sekejap jembatan dari tanah yang menghubungkan dua tebing sungai sudah jadi. Tempat tersebut lalu dikenal dengan sebutan Wot lemah. Konon di seberang jembatan ada tempat yang dianggap patut untuk bertapa, makan kedua pangeran tersebutberhasil membuat masjid di desa genjang dekat Nglebur. Selama dalam pembuatan masjid kedua pengeran tersebut selalu didatangi seorang wanita cantik dari Desa Bleboh bernama Nyi Randa Kuning. Konon Nyi Randa Kuning ingin agar diperkenankan mengabdi sebagai selir sang pangeran, tetapi ditolaknya, tetapi dia hanya diperbolehkan tinggal disitu. Sebelum masjid selesai dikerjakan, kedua pangeran tersebut segera meninggalkan tempat untuk bertapa di Desa Janjang. Selam bertapa Ki Randa Kuning tetap setia menunggu sampai akhir hayatnya. Akibat dari perbuatan Nyi Randa Kuning menjadikan orang dari Desa Bleboh dan Desa Nglebur tidak boleh menikah dengan orang dari Desa Janjang. Seandainya terpaksa harus terjadi maka kedua mempelai harus bersedia terlebih dahulu tidur bersama baik di Desa Nglebur maupun Desa Bleboh. Selain itu juga belaku adat bahwa wanita Nglebur atau Bleboh lah yang mengajukan lamaran terlebih dahulu, seperti halnya kisah yang dijalani Nyi Randa Kuning.