Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Adat Buka Luwur Makam Ki Ageng Pantaran : Upacara Adat Sadranan Buka Luwur - Kab. Boyolali, Jawa Tengah
Sejarah: Upacara buka Luwur Ki Agang Pantaran dilatarbelakangi cerita bahwa pada zaman Kerajaan Demak Bintoro (Demak), diceritakan bahwa di sebelah timur lereng Gunung Merbabu dikenal sebuah padepokan yang dipimpin seorang pertapa sakti dan baik hati. Berita baik itu menyebar cepat hingga ke Kerajaan Pengging di bawah kuasa Prabu Kusumowicitra. Dia memerintahkan anaknya yang bernama Citrasoma untuk melihat kebenaran itu. Jika hal itu benar adanya, dia ingin agar anaknya dapat berguru pada pertapa yang suka menolong itu. Kedatangan Pangeran Citrasoma ternyata berbarengan dengan datangnya seorang penyebar agama Islam yang tak lain adalah Syeh Maulana Malik Maghribi. Kedatangan kedua sosok itu diterima dengan baik oleh pertapa yang juga memiliki padepokan. Di sana Citrasoma tidak hanya bertemu dengan pertapa sakti. Dia juga bertemu dengan putri pertapa yaitu Dewi Nawangsih. Pangeran Citrasoma dan Dewi Nawangsih ternyata saling mencintai. Hubungan mereka direstui oleh pertapa sakti namun oleh Syeh Maulana Malik Maghribi dirinya disarankan untuk terlebih dahulu membuat sumber air untuk melengkapi lamarannya kepada Dewi Nawangsih. Tak lama berselang, masih dekat dengan lokasi bertapa sang pangeran munculah sumber air yang dapat dimanfaatkan oleh warga seperti yang diminta pertapa sakti. Pangeran segera memberitahu pertapa dan Syeh Maulana Malik Maghribi bahwa dia telah menjalankan syarat yang diminta. Mata air yang dimaksud kemudian dinamai Tuk Si Pendok oleh Syeh Maulana Malik Maghribi karena pancarannya serupa pendok (lengkung) keris. Melihat apa yang telah dilakukannya, pangeran akhirnya dapat meminang Dewi Nawangsih dan memboyongnya ke Kerajaan Pengging. Sepeninggal kepindahan Pangeran Citrasoma dan Dewi Nawangsih, Syeh Maulana Malik Maghribi kemudian berencana membangun masjid di lingkungan padepokan. Karena minimnya bahan, dia memerintah utusan untuk meminta bantuan berupa saka atau tiang kayu jati kepada Kerajaan Demak. Namun karena di Demak juga sedang membangun masjid, Masjid Agung Demak, maka mereka tidak dapat menyanggupi permintaan itu. Dengan keterbatasan yang ada akhirnya masjid itu tetap dibangun dan diberi nama Masjid Pantaran yang berarti sebaya karena dibangun bersamaan dengan Masjid Agung Demak. Nama Pantaran kemudian juga menjadi sebutan bagi pertapa sakti dan juga wilayah di lereng Gunung Merbabu itu. Karena itu hingga saat ini nama makam itu disebut Makam Ki Ageng Pantaran. Setiap tahun penutup nisan atau luwur makam Ki ageng Pantaran selalu diganti, penggantian luwur ini kemudian dinamakan upacara adat buka luwur makan Ki Ageng Pantaran Boyolali. Deskripsi: Upacara adat Buka Luwur Ki Ageng Pantaran dilaksanakan di makam Ki Ageng pantaran yang terletak di Desa Candisari, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Upacara adat ini dilaksanakan setiap tahun sekali pada hari Jumat minggu keempat di bulan Sura. Buka luwur makam Ki ageng Pantaran mempunyai pengertian menggati kelambu penutup makam Ki ageng Pantaran. Tradisi Buka Luwur merupakan upacara mengganti kain penutup makam dilaksanakan oleh warga masyarakat pendukungnya sejak ratusan tahun yang lalu. Tradisi ini dimaksudkan untuk memperingati jasa Syeh Maulana Malik Maghribi yang pernah menyebarkan agama Islam di kawasan ini dan mendirikan Masjid Pantaran. Upacara adat Buka Luwur sendiri selalu ramai dikunjungi ribuan warga dari berbagai daerah. Ritual yang digelar di petilasan Syeh Maulana Malik Maghribi yang terletak tidak jauh dari Bumi Perkemahan Indra Prasta Pantaran ini akan diawali dengan kirab 20 orang yang mengenakan pakaian kejawen. Mereka akan membawa kain mori putih baru serta payung mutho. Kain mori dan payung tadi akan diserahkan kepada juru kunci untuk menggantikan kain dan payung yang sudah digunakan di makam. Selain kain dan payung, 20 orang tadi juga membawa tumpeng, gunungan, serta berbagai sesaji lainnya. Dalam upacara adat itu akan digelar juga acara tabur bunga dan juga tahlilan sebelum akhirnya mereka yang hadir akan berebut sesaji yang tadi dikirab. Selain sesaji yang diperebutkan, peziarah yang hadir juga datang untuk mendapatkan potongan kain mori penutup lama yang dianggap memiliki berkah. Pada kesempatan ini panitia dan warga masyarakat menyediakan berbagai makanan dan sesaji untuk dibagi pada peziarah. Warga sekitar juga akan berbondong-bondong membawa makanan yang ditempakan dalam tenong. Makanan setelah didoakan dibagikan kepada mereka yang hadir dalam prosesi penggantian kain penutup makam.