Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Ngiter Raja Wana dan Senthe Rewe - Pacitan, Jawa Timur |
Ngiter Rojo Wono dan Senthe Rewe merupakan upacara adat yang sudah lama dan sering dilakukan oleh warga di desa Sukorejo Kecamatan Sudimoro Kabupaten Pacitan.
Jaman dahulu di Desa Sukorejo banyak hewan-hewan buas seperti harimau, ular dan celeng/babi hutan yang memangsa hewan ternak dan merusak tanaman warga bahkan mengganggu ketentraman warga Desa Sukorejo. Kemudian ketua adat setempat mengundang orang-orang yang perkasa yang mempunyai kesaktian untuk dijadikan prajurit ketalang pati (prajurit berkuda) untuk melawan hewan buas tersebut. Singkat cerita hewan buas kalah dan bisa dijinakan. Untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan karena warga telah berhasil menaklukan hewan buas yang mengganggu ketentraman warga, diadakan upacara ngiter rojo wono.
Deskripsi ::
Ngiter Rojo Wono dan Senthe Rewe merupakan upacara adat yang sudah lama dan sering dilakukan oleh warga di Desa Sukorejo Kecamatan Sudimoro Kabupaten Pacitan. Ngiter berarti mengepung, Rojo Wono berarti raja hutan. Jaman dahulu di Desa Sukorejo banyak hewan-hewan buas seperti harimau, ular dan celeng/babi hutan yang memangsa hewan ternak dan merusak tanaman warga bahkan mengganggu ketentraman warga Desa Sukorejo.
Pada perayaan upacara ini banyak warga yang berjoged ala kuda, harimau, ataupun babi hutan sampai mereka tidak sadarkan diri/kesurupan. Selain itu, perayaan ngiter rojo wono diiringi oleh tarian senthe rewe. Tarian senthe rewe hampir sama dengan tarian kuda lumping/jatilan/jaranan pada umumnya. Tarian ini mempertunjukan atau menceritakan prajurit ketalang pati ketika sedang menaklukan hewan buas. Tarian ini biasanya berlangsung selama 6 sampai 8 jam dengan diiringi musik gamelan sederhana dan lagu.