Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTRADISI ADAT TOMPANG TRESNA - BANGKALAN, JAWA TIMUR
Sejarah: Tradisi adat TOMPANG TRESNA merupakan tradisi untuk menguji kesucian seorang gadis pada saat malam pertama pengantin. Tradisi adat TOMPANG TRESNA dilakukan pada malam pertama setelah pernikahan seorang gadis. Setelah pada siang harinya dilangsungkan akad nikah, pada malam harinya diadakan tirakatan, yang biasanya dilakukan dengan acara mamaca (macapatan=Jawa). Pada saat itu kemanten (pengantin) priya ikut bergabung dengan bapak-bapak tamu undangan yang melakukan mamaca. Ketika hari sudah menjelang malam, ayah pengantin wanita akan memerintahkan kepada menantunya (pengantin priya) untuk beristirahat bersama istrinya, sembari menyerahkan sebilah keris bersarung kepada sang menantu sebagai sarana untuk memberi tanda kepada mertuanya, apakah istrinya masih gadis atau sudah ‘blong’. Keris tersebut harus segera dikembalikan kepada mertuanya sesaat setelah dia melaksanakan tugasnya sebagai suami, dengan cara dilemparkan keluar kamar. Jika istrinya masih gadis, keris harus dilkemparkan keluar kamar dalam keadaan tidak bersarung. Jika ternyata istrinya sudah tidak gadis, keris dilemparkan keluar kamar dalam keadaan masih bersarung. Jika sampai terjadi seorang gadis menikah dalam keadaan sudah tidak suci, akan menjadi aib besar dalam keluarga tersebut, karena hal itu akan diketahui oleh banyak orang, khususnya bagi bapak-bapak yang melakukan mamaca, karena acara mamaca belum akan bubar sebelum keris dilemparkan keluar. Bagi sang suami, jika mengetahui gadis yang baru saja dinikahi ternyata sudah tidak suci, biasanya dia akan bertindak, yaitu perkawinannya akan langsung bubar pada saat itu juga, bahkan ada yang menuntut mas kawin yang sudah diberikan harus dikembalikan karena dia merasa dibohongi. Deskripsi: Pada masa sekarang TRADISI ADAT TOMPANG TRESNA sudah jarang dilakukan