Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | TARI BLANDARAN - BANGKALAN, MADURA |
Sejarah:
TARI BLANDARAN sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda di Bangkalan, Madura. TARI BLANDARAN diciptakan oleh Bapak Anwar pada tahun 1900-an. Penciptaan TARI BLANDARAN terinspirasi oleh adanya Perang Diponegoro yang terjadi pada tahun 1825-1830. TARI BLANDARAN merupakan tari laki-laki atau tari gagahan namun dengan karakter halus yang melambangkan kekuatan, kewibawaan dan pesona, sebagai penggambaran karakter sosok Pangeran Diponegoro sebagai peminpin pasukan yang gagah berani tetapi halus sehingga sangat berwibawa. Disebut TARI BLANDARAN, berasal dari kata BLANDAR (molo = Jawa ‘bagian atap rumah yang paling tinggi’). Artinya, TARI BLANDARAN dicipta untuk menghormati Pangeran Diponegoro sebagai pemimpin perjuangan melawan penjajah Belanda yang paling berani pada saat itu.
TARI BLANDARAN tergolong sebagai genre tari rakyat. Tarian tersebut pada jaman dahulu selalu ditampilkan dalam setiap perhelatan. Pada waktu itu kostum TARI BLANDARAN terdiri dari kain panjang (sewek/jarik), selendang, udeng, dengan tanpa baju. Pada masa sekarang kostum TARI BLANDARAN ada perubahan, yaitu mengenakan celana hitam, kain witu, kemeja putih, dasi, dan rompi.
Deskripsi:
TARI BLANDARAN sangat populer di Bangkalan pada masa awal kemerdekaan sampai tahun 1980-an. Katika itu TARI BLANDARAN merupakan tarian wajib yang harus selalu dipentaskan di Bangkalan dalam setiap event, sebagai tari penghormatan untuk menyambut tamu. Pada masa sekarang keberadaan TARI BLANDARAN di Bangkalan sudah semakin surut. Sejak 5 tahunan terakhir TARI BLANDARAN sudah jarang ditampilkan. Hal itu sebagai akibat kebijakan pemerintah sekarang yang tidak begitu mendukung.