Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaRINGGIT - BANGKALAN, JAWA TIMUR
Sejarah: RINGGIT di Bangkalan Madura sudah ada sejak jaman pemerintahan di Bangkalan masih bersifat kerajaan. Pada waktu itu, RINGGIT sebagai mata uang emas berfungsi sebagai alat tukar. Volume RINGGIT, setiap keping berkisar seberat 15 – 25 gram. Oleh karena itu orang pada jaman dahulu suka menyimpan RINGGIT, di samping sebagai harta kekayaan (persediaan alat tukar), juga sebagai lambang status sosial. Artinya, semakin banyak RINGGIT yang dikumpulkan, berarti orang tersebut semakin kaya. Orang Madura (Bangkalan) jaman dahulu dalam menyimpan RINGGIT tidak hanya dalam hitungan biji (10/50/100 keping), melainkan dalam hitungan peti. Di samping dipergunakan sebagai alat tukar, RINGGIT juga berfungsi sebagai asesoris busana wanita Madura (Bangkalan), yaitu sebagai tusuk konde dan sebagai kancing/hiasan baju, khususnya bagi wanita dari golongan rakyat kebanyakan yang kaya. Sebagai asesoris busana wanita bagi wanita Madura (Bangkalan), untuk sekali pakai 1-10 biji/keping, baik sebagai tusuk konde maupun sebagai kancing/hiasan baju. Deskripsi: Sampai saat ini ringgit masih banyak dikoleksi oleh orang Madura, khususnya Bangkalan, baik sebagai simpanan harta kekayaan maupun sebagai status sosial. Dalam ivent-ivent tertentu wanita Madura (Bangkalan), khususnya yang berasal dari rakyat kebanyakan selalu mengenakan asesoris busana berupa RINGGIT, yaitu sebagai tusuk konde dan kancing baju. Dalam hal ini, RINGGIT di samping sebagai asesoris busana, juga sebagai simbol status sosial, yaitu semakin banyak asesoris RINGGIT yang dikenakan berarti status sosialnya semakin kaya. Diandaikan berat setiap keping ringgit yang dikenakan sebesar 25 gram, jika seorang putri mengenakan 10 keping ringgit, berarti membawa 250 gram emas.