Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTosan Aji Pacitan - Pacitan, Jawa Timur
Sejarah: Pada zaman dulu, Gunung Limo lebih dikenal karena wilayah ini digunakan sebagai tempat untuk bertapa para orang sakti. Banyak empu yang sering bertapa disini karena daerahnya yang nyaman, sejuk, sehingga para empu tersebut bisa fokus dalam bertapa. Salah satu tokoh bertapa yang terkenal adalah Tunggul Wulung. Selain tempat bertapa, Wilayah Gunung Limo adalah tempat yang digunakan untuk Pandean. Dalam kisah sejarah pejalanan Kabupaten Pacitan, pernah untuk satu dekade Pacitan menjadi referensi utama dalam pembuatan keris. Tepatnya adalah sejak keruntuhan Majapahit atau sekitar tahun 1470-an, daerah yang dulu terkenal dengan nama Wengker Kidul ini dikenal sebagai daerah empu yang membuat keris dengan kualitas yang baik. Selain Pacitan, yaitu tepatnya di wilayah Gunung Limo, daerah pembuat keris yang terkenal lainnya adalah wilayah Bagelen di Kabupaten Banyumas dan wilayah Madiun. Keunggulan dari keris Pacitan pada wkatu itu adalah terkenal kuat dan tahan lama, pamornya dari besi sejati. Sultan Agung dalam kisah pandean Pacitan memiliki kaitan sangat erat, karena pada waktu itu menjadikan Pacitan sebagai lumbung senjata. Seperti diketahui dalam buku sejarah, Sultan Agung Hanyokrokusumo yang memerintah Tahun 1613 sampai 1646 adalah raja terbesar dari Mataram, menggantikan ayahandanya, Panembahan Seda ing Krapyak setelah ayahnya wafat pada tahun 1613. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Pacitan dikenal sebagai wilayah pandean, disinilah pasokan senjata borongan prajurit seperti tumbak, keris, pedang, perisai baja diproduksi. Dengan adanya Besi Sejati” dari masa ke masa telah sesuai dengan perannya mengiring para ksatria dalam menjalankan tugas Negara, yaitu perang melawan penjajah. Bahkan konon saat peristiwa penyerangan Batavia, Tuban, Surabaya, Madura, Wirasaba, Malang sampai Banyuwangi, Begenen Pacitan memproduksi lebih dari 500 juta suku cadang senjata, terutama keris. Peran Tosan Aji dan Begenen Pacitan sangat vital pada saat itu, mengiringi kejayaan Sultan Agung di medan tempur dalam usaha mempersatukan Jawa dibawah Panji Mataram. Kisah Pandean Pacitan sebagai daerah penghasil keris berlanjut pada masa perang Diponegoro. Pada waktu itu Pacitan adalah tempat utama pemasok senjata pasukan laskar Pangeran Diponegoro. Karena kebetulan ibunda Pangeran Diponegoro anak kyai dari Pacitan. Salah satu empu (pembuat keris) yang terkenal dari Pacitan adalah Empu Wonogati berasal dari jaman Pajang, daerah Surakarta. Dalam sejarahnya, beliau datang di Pandean Pacitan bersama panjaknya yang kemudaian disebut suroing pati, dan beberapa Pajurit menginjakkan kaki di Pacitan, tepatnya di wilayah Gunung Limo Pacitan. Inilah cikal bakal Empu pra Mataram yang dikenal sebagai peracik senjata berpamor Pandean Pacitan yang kemudian dikenal sebagai pijeran Besi Sejati. Deskripsi: Batuan Yoni adalah sebutan dari kristal maupun dari jenis agate yang dilebur bersama bahan slorogan. Menghasilkan debu yang kemungkinan bersifat seperti kapur, secara teknis sebagian menyatu dengan besi sebagian lainnya mempercepat proses pemurnian pijeran. Menurut para ahli begenen di Pacitan batuan ini memiliki daya magis dan karakter , sehingga apabila dilebur dengan besi maka dipercaya keris tersebut memiliki tuah, sesuai dengan jenis dan karakter yang dimasukkan.Yoni, menurut ahli esoteri dianggap sebagai kekuatan yang ada pada tuah keris. Ini menunjukan ketinggian ilmu empu yang membuat. Dalam tradisi begenen Pacitan, selain laku tirakat pembuatanya, bahan baku dan ramuan yang terangkum dalam pijeran juga menentukan. Sebab kelak akan menjadi media yang akan menyimpan tayuh, hal ini bisa dianalogikan sebagai media rekam dan penyimpanan tayuh (memori penyimpanan) yang terkompres di dalamnya, yang sewaktu-waktu bisa di ekstrak pada saat-saat dibutuhkan. Yang sangat membedakan justru pada kisah-kisah magis yang dibangun bersama kehadiran keris atau tombak dan pedang.Kisah-kisah magis itulah yang menjadikan keris sangat sulit untuk diproduksi massal. Tetapi dampak lain juga memunculkan sikap keengganan.Namun dari kisah-kisah magis itu pulalah keris menjadi seni tingkat tinggi yang hanya dinikmati oleh mereka yang benar-benar mengerti, memahami dan menghargai serta mencintai benda yang dihasilkan oleh seni tempa itu. Teknik pijeran Yoni yang dilakukan adalah pada saat membuat besi slorogan, yaitu dimasukkan bersamaan dengan menapih bijih besi, kuarsa, badar besi dan tembaga. Setelah dipijer (dilebur) campuran tersebut dilipat berulang ulang agar terjadi penyatuan. Selain itu ada beberapa jenis batu yang dilebur bersamaan selain kristal kuarsa, antara lain adalah Badar Besi, Batu Krepu Hitam yang (mengandung Pyrit maupun Hematit), Inilah sebuah teknologi tempa tradisional, yang semenjak dulu juga dipakai oleh empu/pandai begenen. Supaya lempengan logam, pasir besi batu yoni dan bahan pamor meteorit tidak hancur berantakan, ramuan tersebut harus ”ditapih yaitu dibungkus besi, baru kemudian dipijar di bara api arang kayu jati lalu ditempa.“Kempit” adalah istilah penapihan yang dilakukan para ahli begenen yang ada di Pacitan, istilah umumnya adalah tapih. ”Tapih” adalah kain sarung, yang biasa dipakai untuk membungkus bagian bawah badan manusia tradisional Jawa, digunakan dalam begenen sebagai pembungkus ramuan logam. Batu Yoni diletakkan di tengah-tengah logam mirip dengan memijar lontong baja (ditapih). Karakter logam inti yang bercampur dengan debu kristal batu mulia ini menghasilkan efek tajam dan bisa mencederai tulang secara permanen. Sebab peleburan 4 anasir 1200 derajat celcius dari ragam jenis materi tersebut membuat karakter logam meteorit yang cukup berbahaya .. hanya untuk koleksi2 benda antik saja sebaiknya, karena jenis ini adalah logam langka yang pernah digunakan sebagai senjata perang dimasa penjajahan (Prajurit Sultan Agung) yang sangat ditakuti Belanda masa itu. Besi Pengempit (tapih) berpamor memiliki sifat liat ulet dan menjaga kestabilan besi isi tanpa perlu diasah cukup direndam, perpaduan dua jenis (kempitan bahan pamor disusun sebelum dilipat-lipat) Pijeran, Adalah peleburan beberapa unsur logam dengan cara ditapih/kempit, dibakar lalu di tempa supaya menyatu. Pijeran juga disebut sebagai proses pembuatan bakalan saton (tempaan lempeng besi berlapis yang sudah mengandung bahan pamor). Begenen, Adalah seorang pandai besi pada umumnya dengan kemampuan:1. menempa ragam jenis besi, 2. menyatukan leburan ragam unsur logam dan batuan pijeran, 3. tahan terhadap percikan api (menempa tanpa alat pelindung tubuh) pada tingkatan tertentu bagi yang sudah berumur mampu memegang bara api dan besi panas. Salah satu warisan besi kempit /lipat/tapih yang masih lestari. Mbah Parnen seorang ahli begenen dari Desa Sanggrahan Kebonagung Pacitan.