Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTRADISI BARIKAN - Surabaya, Jawa Timur
Tradisi barikan atau barekan - slametan atau selamatan, adalah ritual turun-temurun yang diwariskan nenek moyang khususnya di desa-desa daerah Surabaya, Jawa Timur yang bertujuan untuk memohon keselamatn, keamanan, dan sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada awalnya tradisi barikan dilakukan secara sederhana oleh warga desa setingkat RT. Kesederhaan acara ini dapat dilihat dari barang-barang atau ubo rampe dan juga pada saat pelaksanaan acara. Barikan telah dilakukan ketika wilayah Made masih berupa hutan. Tahun 1962, made bergeser menjadi daerah pertanian. Pada saat itu tradisi barikan baru dilaksanakan ketika desa terkena bencana, musibah, atau wabah penyakit dan dilaksanakan di tempat khusus seperti pertigaan atau perempatan jalan. Tradisi ini dilaksanakan pada hari Jumat Legi setelah panen raya sekitar bulan September dan Oktober. Namun di beberapa tempat ada yang melaksanakan setelah shalat ashar, ada juga yang melaksanakan setelah magrib atau isya. Khusus untuk Desa Made sendiri dilaksanakan pagi hari menjelang siang sekitar pukul 9 - 11 siang sebelum shalat jumat. Barikan dimulai dengan pengumpulan jajan pasar, buah-buahan, dan tumpeng yang disiapkan oleh warga masyarakat sendiri. Pada zaman dahulu, barang-barang perlengkapan barikan menggunakan pelepah daun pisang. Pelepah pisang yang panjang dipotong dan dibentuk segi empat dan dibentuk sepeeti wadah. Namun saat ini barikan menggunakan wadah makanan berbahan plastik atau stainless. Setelah warga berkumpul di perempatan desa dengan membawa makanan masing-masing dan dikumpulkan lalu acara dipimpin oleh sesepuh desa. Sesepuh desa akan menerangkan ujub (tujuan) dari barikan, dan mengucapkan pengharapan-pengharapan atau doa untuk memohon kesehatan, keselamatan, dan keamanan bagi desa. Setelah selesai berdoa, warga dipersilakan untuk menikmati sajian yang telah disediakan dalam kebersamaan dan jika sisa boleh dibawa pulang. Sisa makanan yang dibawa pulang tersebut disebut berkat kuat yang merupakan simbol makanan yang telah didoakan bersama agar barokah. Berkat dibawa pulang dengan wadah yang terbuat dari pelepah pisang. Setelah sampai di rumah berkat diberikan kepada anggota keluarganya masing-masing. Kemudian wadah pelepah pisang bekas wadah berkat tadi diletakan di atas pagar rumah masing-masing sebagai tanda orang tersebut telah mengikuti baritan.