Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaBabad Dalan - Gunungkidul, D.I. Yogyakarta
Sejarah: Asal usul dari upacara Babad Dalan menurut juru kunci makam Ki Ageng Giring ada dua versi: Pertama diceritakan, konon pada waktu Ki Ageng Giring atas perintah Sunan Kalijaga untuk mencari wahyu kraton, dalam perjalanannya sampai di desa Sumberan (kini bernama Sodo), karena sumber air yang melimpah. Di saat menanti datangnya wahyu, beliau menyempatkan diri untuk berda’wah. Oleh karena agama Islam baru dikenal oleh masyarakat, maka dimulailah dengan membaca syahadat. Masyarakat setempat kemudian menhghafal kalimat syahadat tersebut, maka tempat tersebut disebut Desa Sodo. Ki Ageng Giring dalam memberikan keyakinan Agama Islam tadi masih sangat awal, dan baru dimulai mengucapkan Syahadad maka disebut Babat Dalan. Versi kedua, penduduk Desa Sodo atau Giring jaman dahulu diserang wabah penyakit, atau disebut “Pageblug”. Penduduk yang sakit pagi sakit sore meninggal, dan sakit sore pagi meninggal. Melihat kenyataan tersebut, sedbagian masyarakatnya pergi meninggalkan Desa Sodo menuju ke Pandanaran Bayat Klaten. Sesampainya di Desa Bayat, Ki Ageng Pandanaran memberikan petunjuk bahwa di Desa Sodo, dekat Sendang/sumber itu ada makam. Dengan memperhatikan petunjuk Ki Ageng Pandanaran, mereka kembali ke Desa Sodo dengan maksud untuk mencari makam yang ditunjuk tadi. Pada waktu masyarakat mencari makam yang dimaksud, ditempuh dengan membabat semak semak dan ilalang, lama kelamaan makam yang dicari ditemukan. Makam tersebut beridentitas makam Ki Ageng Giring yang wafatnya pada hari Jum’at Kliwon. Deskripsi: Setiap tahun sekali masyarakat Desa Sodo menyelenggarakan upacara tradisional yang disebut babad dalan. Upacara tersebut dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon (sesuai hari wafatnya Ki Ageng Giring). Namun bulannya tidak menentu karena biasanya disesuaikan dengan jatuhnya musim labuhan, yang berarti musim menabur benih tanaman palawija. Persiapan upacara dimulai dua hari sebelum pelaksanaan (hari H). Sedang pada puncak acara diadakan pengajian . Pengajian tersebut dilakukan di masjid dekat makam Ki Ageng Giring.. Upacara tersebut juga didukung dengan adanya keramaian yang diadakan oleh masyarakat desa tersebut (seperti pasar malam). Pada upacara tersebut kecuali dihadiri masyarakat setempat dan lingkungannya, dihadiri pula masyarakat dari luar daerah, seperti dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, bahkan dari luar Jawa pun ada yang hadir seperti dari Bali dan Sumatera.Maksud dari kedatangannya adalah untuk melihat dari dekat tentang Upacara Tradisi Babat Dalan, juga sekaligus bermaksud untuk berziarah ke makam Ki Ageng Giring. Upacara Babat Dalan itu sendiri oleh masyarakat setempat bertujuan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar selalu diberikan keselamatan baik lahir maupun batin, sekaligus untuk memperingati wafatnya Ki Ageng Giring.