Deskripsi : Sedekah bumi di Sendang kembar (laki-laki dan perempuan) dilakukan selama masyarakat mendapat penghasilan (panen) mengadakan syukuran adanya sumber air, yang dapat untuk tanaman. Syukuran ini dimaksud supaya sumber air lancar, selain untuk kebutuhan sehari-hari juga untuk tanaman.
Semula sendang ini agak luas (100 m2), kemudian dibangket sekitar tahun 1960 an. Dahulu di sendang ini pohon besar kobin. Sumber air dari sendang ini sekarang masih lancar dan dibuatkan penampungan sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, juga sebagian untuk pengairan diambil dari sendang lanang (laki-laki).
Bentuk ritual, manganan dengan membaca tahlil (selamatan), dengan umba-rampe membawa nasi tumpeng ayam panggang (ingkung). jodhang (pak Lurah), jajan pasar, dan sesuai kemampuan masyarakat. Peserta sedekah bumi, dulu semua warga, kini sebagian karena keyakinan sendiri-sendiri. Hari pelaksanaan Kamis Paing, bulannya menyesuaikan cuaca bila sudah tidak hujan atau musim kemarau. Do’a dipimpin oleh bapak kaum (modin).
Jadi upacara sedekah bumi di sendang sebagai rasa syukur mohon kepada Tuhan Yang Esa, pada musim kemarau tidak dilanda kekeringan. Meskipun dibandingkan dulu sumber air sudah berkurang.