Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Mitoni Tingkeban - Sleman, D.I. Yogyakarta |
Sejarah:
Upacara adat Mitoni diperkirakan muncul pada saat agama islam mulai merambah di kerajaan Majapahit. Tersiarnya agama Islam di Jawa bersamaan dengan kekacauan di dalam kerajaan Majapahit yang menyebabkan kelemahan dan akhirnya runtuh sama sekli. Pada masa itu kaum intelek Jawa makin banyak yang masuk agama islam, hal itu menyebabkan timbulnya kitab-kitab bahasa Jawa yang berisi tentang keislaman, dengan demikian Islam yang tersebar senantiasa mengalami penyesuaian dengan lingkungan peradaban dan kebudayaan setempat. Hal inilah yang diduga kuat sebagai titik awal munculnya Upacara adat Mitoni yang tersebar secara turun temurun.
Upacara adat yang disebut “Mitoni”,Upacara adat Mitoni berasal dari kata pitu yang berarti tujuh. Mitoni merupakan upacara adat untuk memperingati usia kandungan bagi ibu hamil yang telah menginjak usia tujuh bulan. Upacara adat Mitoni merupakan bentuk sarana sosialisasi bagi warga masyarakat tradisional khususnya. Penyelenggaraan upacara itu penting bagi pembinaan sosial budaya bagi warga masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat Jawa percaya bahwa dalam pelaksanaan upacara adat merupakan suatu bentuk rasa syukur atas nikmat yang di berikan Tuhan, dengan suatu harapan sebuah Kamulyan dalam hidup si anak kelak. Di dalam kebudayaan jawa, kamulyan berarti mengertikan awal dan akhir hidup atau wikan sangkan paran. Kamulyaan di hayati dengan seluruh kesempurnaan cipta rasa karsa. Manusia sempurna berarti telah menghayati awal akhir hidupnya. Orang menyebutnyamulih mula mulanira atau manunggal. Manusia telah kembali manunggal dengan penciptanya, manunggaling kawulo gusti. Manusia smpurna meiliki kawicaksanaan dan kemammpuan mengetahui peristiwa-peristiwa di luar jangkauan ruang dan waktu atau kawaskithan.
Deskripsi:
Dalam upacara adat mitoni perlengkapan yang disediakan yaitu, kursi, air kembang setaman,bokor, dan tempurung kelapa atau siwur, boreh sebagai pengganti sabun, kendi, telur, dua kelapa gading , serta kain sebanyak tujuh buah.
a. Siraman di laksanakan oleh para sesepuh atau yang dituakan. Para sesepuh tersebut sejumlah tujuh orang, yakni ayah ibu dari anak yang sedang hamil, nenek, budhe, atau yang dituakan dalam keluarga. Namun, sebaiknya yang memandikan adalah orang yang sudah memiliki cucu. Siraman pertama dilaksanakan oleh ayah calon ibu, lalu dilanjutkan oleh ibu dari sang calon ibu. Kemudian, dilanjutkan oleh ibu-ibu para pinisepuh.
b. Acara dilanjutkan dengan pemakaian dua setengah meter kain putih yang dililitkan ketubuh calon ibu bayi. Selanjutnya, upacara memasukkan telur ayam kampung kedalam kain calon ibu oleh sang suami melewati perut hingga pecah.
Setelah itu, dilanjutkan dengan berganti kain panjang dan pakaian sebanyak tujuh kali. Dalam acara berganti pakaian ini dilandasi dengan kain putih.
d. Pada acara berganti pakaian sebanyak tujuh kali di persiapkan kebaya tujuh macam, kain panjang batik atau jarik tujuh macam, dua meter lawe, dan stagen. Salah satu dari jarik yang dipakai ada yang bercorak Truntum.
Kemudian, dilanjutkan dengan acara pemutusan tali lawe yang dilingkarkan diperut calon ibu. Pemutusan tali lawe ini dilakukan oleh calon ayah, dengan harapan bahwa bayi yang dikandung akan dilahirkan dengan mudah, lancar, dan selamat.
e. Acara selanjutnya adalah memasukkan dua kelapa gading didekat perut ibu yang hamil. Kelapa itu diperosotkan dari atas kebawah dan diterima oleh calon nenek.
f. Calon ayah memilih satu diantara dua buah kelapa gading yang bergambar tokoh Kamajaya dan Dewi Kamaratih. Pada waktu memilih satu diantara buah kelapa gading , kedua kelapa tersebut berada dalam posisi terbalik.
Upacara selanjutnya adalah memilih nasi kuning yang terletak didalam Takir sang suami. Selain itu, dilanjutkan dengan acara jual dawet dan rujak. Bagi pembeli yang menginginkan dawet atau rujak cukup membayar dengan pecahan genting. Uang hasil penjualan, lalu dimasukkan kedalam kwali yang terbuat dari tanah liat. Kwali yang berisi uang yang terbuat dari pecahan genting itu, lalu dibawa kedekat pintu dan dipecah didepan pintu tersebut.