Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Labuh Garap Siti - Gunungkidul, D.I. Yogyakarta |
Sejarah:
Upacara yang berkaitan dengan kesuburan tanah dilakukan oleh masyarakat Kalurahan Banjarejo, Kec. Tepus, Kab. Gunungkidul. Ladang pertanian di Banjarejo merupakan tadah hujan sehingga hanya pada musim penghujan ladang di sana dapat ditanami padi jenis gogo. Tahap penggarapan ladang meliputi :
1. Upacara Garap Siti
2. Upacara Labuh
Upacara Garap Siti meliputi: pekerjaan membajak, nyadran tahun, ngawu-awu.
Setelah ada tanda-tanda akan datang hujan masyarakat pemilik ladang mulai membajak ladangnya. Bagi dusun-dusun yang berada di Desa Banjarejo yang masih memiliki resan (pohon besar yang dianggap keramat sebab diperkirakan pohon tersebut dihuni makhluk halus) setelah membajak mereka melakukan nyadran tahunan. Nyadran tahunan merupakan penghormatan kepada arwah nenek moyang, roh-roh halus dari cikal bakal, mereka ini dianggap sebagai penjaga tanah pertanian.
Tahap berikutnya melakukan selamatan (kenduri) menjelang menyebar benih yang disebut ngawu-awu. Selamatan ini dihadiri oleh para warga yang punya kepentingan ngawu-awu, dipimpin oleh seorang dukun. Pagi hari setelah selamatan ngawu-awu, para pemilik ladang lalu menuju ke lahan masing-masing, mula-mula mereka meletakkan pisang ambon dan kue srabi di alas (ladang), sesudag itu baru menyebar biji.
Deskripsi:
Setelah tanaman padi berusia tua, sebelum panen para petani melakukan upacara Labuh atau Nglengani. Penyelenggaraan upacara tersebut dua tahap yaitu pada saat pemetikan padi mantenan sebanyak dua ikat padi. Kegiatan memetik padi pengantin memiliki hari yang dianggap baik, jumlah padi dalam tiap ikat berdasarkan perhitungan jumlah hari dan pasaran saat memetik. Setelah selesai pembacaan doa dalam rangka labuh pemilik ladang lalu membawa pulang dua ikat padi pengatin. Sampai di rumah padi pengantin ini diletakkan di tempat penyimpanan. Pada dasar tempat penyimpanan tersebut diletakkan berbagai perlengkapan. Bagi masyarakat setempat padi pengantin dianggap sebagai perwujudan dari tokoh Sri dan Sadana.
Selesai meletakkan padi pengantin di tempat penyimpanan para petani lalu kembali ke alas masing-masing untuk meneruskan pemetikan padi. Setelah padi tersebut sampai di rumah lalu dijemur hingga kering sesudah itu disimpan, posisinya di atas padi pengantin.