Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaMerti Bumi Mbah Bregas - Sleman, D.I. Yogyakarta
Sejarah: Diceritakan, konon mBah Bregas seorang bangsawan dari Kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke arah barat dan kemudian menjadi petapa. Suatu ketika di welayah tersebut dilanda wabah penyakit yang menkimpa warga masyarakat setempat. Wabah tersebut memakan banyak korban. Melihat keadaan tersebut si petapa merasa iba kemudian memberikan pertolongan dengan cara memberikan bantuan pengobatan kepada warga yang sedang terkena musibah tersebut. Bantuan yang diberikan si petapa itu dapat berhasil sehingga banyak warga yang tertolong dan terhindar dari musibah penyakit itu. Mulai dari peristiwa tersebut si petapa mendapat sebutan mBah Bregas, yang berarti seger waras atau sehat. Versi lain menyebutkan, mBah Bregas merupakan cikal bakal dari masyarakat Ngino. Beliau adalah pengikut setia dari Sunan Kalijaga yang mendapat tugas untuk mengembangkan agama Islam di wilayah Desa Margoagung Deskripsi: Upacara meri bumi mBah Bregas dilaksanakan satu tahun sekali, setelah selesai musim panen padi. Upacara tersebut dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon. Sehari sebelum pelaksanaan upacara (hari Kamis) diadakan mementasan seni seni kuda lumping. Kemudian dilanjutkan pada malam harinya (Kamis malam) dilakukan pengambilan air suci tujuh Klinting Tirto Saptomulyo di sendang Planangan dan ziarah kubur. Setelah itu dilanjutkan dengan acara pementasan seni cokekan, karawitan, mocopatan, dan tirakatan. Pada pagiharinya Jum’at pukul 09.00 WIB , dilakukan kenduri yang diikuti oleh para peserta dari masyarakat setempat. Setelah itu, dilanjutkan dengan pementasan wayang kulit dengan cerita Sri Mulih. Selesai pementasan wayang kulit, pada pukul 16.00 WIB diadakan kirab budaya dan gunungan, yang terdiri dari hasil bumi masyarakat Margoagung. Kirab berangkat dari Balai Desa Margoagung menuju lapangan Ngino. Sebagai puncak dari upacara mBah Bregas adalah diperebutkannya gunungan oleh para peserta dan masyarakat yang menonton. Ada kepercayaan dari sebagian masyarakat setempat, bahwa apa yang mereka peroleh dari rebutan tersebut dapat membawa berkah. Rangkaian upacara merti desa Mbah Bregas diakhiri dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk.