Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Seni Lengger - Jember, Jawa Timur |
Sejarah;
Masyarakat Jember merupakan campuran antara etnis Jawa dan Madura. Masyarakat campuran ini di Jember dikenal sebagai masyarakat Pendalungan. Masyarakat Jember mengaku bahwa mereka memiliki kesenian khas yang dinamakan kesenian Lengger. Kesenian ini diasosiasikan dengan budaya masyarakat perkebunan, karena kesenian Lengger muncul dalam komunitas ini dan ditampilkan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil perkebunan.
Dalam perkembangan seni saat ini, lengger dapat ditemukan di beberapa daerah. Selain di Jember, daerah yang mengangkat seni lengger sebagai ikon adalah daerah Banyumas. Dengan demikian kesenian lengger memiliki persebaran wilayah yang cukup luas. Sudah barang tentu disetiap wilayah memiliki ciri khusus yang membedakan dengan daerah lainnya. Dahulu seni lengger di Jember hanya dipentaskan pada malam hari namun saat ini ada juga lengger yang dipentaskan pada siang hari.
Lengger di Jember menurut budayawan Ayu Sutarto, sangat lekat dengan budaya Pandalungan. Kesenian ini awalnya berupa tarian sacral yang digelar untuk nadzar atau untuk sebuah permohonan.
Deskripsi;
Seni Lengger sudah hampir punah. Hanya sebagian masyarakat di daerah Jember yang masih mengingatnya. Dalam tradisi awalnya kesenian Lengger ditampilkan dalam format semalam suntuk dan hanya pada malam hari. Kesenian ini berupa bentuk tarian, nyanyian, musik tradisional, dan diselingi dengan adegan banyolan atau adegan lucu sebagai upaya menghibur masyarakat. Banyolan atau adegan itu menggunakan bahasa local, dan masuk dalam sesi Sekar Gadung. Namun saat ini, format pertunjukan telah dibuat fleksibel, tergantung dari keinginan pihak penanggap (yang mengundang) dan tidak lagi tabu untuk ditampilkan pada siang hari.
Pada masa dahulu tari Lengger ini banyak diminati masyarakat Jember, khususnya mereka yang tinggal disekitar perkebunan. Sebab banyak masyarakat yang meyakini, jika tarian tersebut mampu mewujudkan setiap keinginan dari para pengundangnya. "Dulu kalau ada orang yang berhajat, pasti mengundang Lengger. Seperti ingin mewujudkan cita-cita anaknya, atau ingin kebun kopinya berhasil dalam panennya," tutur Jumai (seorang keturunan penari lengger yang sekarang aktif memimpin sebuah sanggar seni). Bahkan setelah sukses, mereka kembali mengundang tari Lengger, sebagai membayar nazar yang telah dijanjikan. Jumai meyakinkan, jika kepercayaan masyarakat tentang tari Lengger itu sangat beralasan. Sebab Lengger merupakan tarian yang sangat sakral. Bahkan setiap akan menampilkan tariannya tersebut, mereka harus menyediakan sesajen untuk roh leluhurnya. Sejak Yaimo sang penemu tari hingga pada generasi ketujuh sekarang, setiap penari Lengger bisa menampilkan tarian dengan lincahnya tanpa harus latihan terlebih dahulu. Menurut penuturan Jumai penari lengger keturunan Yaimo bisa menari seperti ini bukan karena latihan. Tapi tubuh itu dituntun langsung oleh roh leluhur . Oleh karena itu sebelum menari, harus ada sesajen buat leluhur itu, Karena itulah, meski penari Lengger tampil mulai malam hingga subuh, mereka tetap mampu menari dengan lincah.
Kesenian ini kurang diminati oleh generasi muda, hal itu tampak pada pelaku kesenian ini umumnya sudah lanjut usia. Mungkin minimnya minat ini terkait dengan jarangnya kesenian ini diminta untuk tampil dalam berbagai acara di daerah ini. Saat ini, Universitas Jember tengah mendorong agar kesenian ini tidak punah, yakni dengan menampilkan kesenian ini pada acara yang dilakukan di universitas ini.