Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Adat Tunggul Wulung - Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta |
Sejarah:
Asal mula upacara adat Tunggul Wulung sebagai berikut pada masa surutnya Kerajaan Majapahit, salah seorang senopati perangnya, yaitu Kyai Tunggul Wulung meninggalkan kerajaan. Bersama ketujuh pengawal dan istrinya Raden Ayu Gadhung Mlathi dan disertai abdi kinasih yang bernama Nyai Dakiyah kemudian mendirikan pesanggrahan di dusun Tengahan. Pada suatu saat, ketika melakukan tapa di bawah pohon Timoho di tepi sungai Progo, Kyai Tunggul Wulung beserta pengawal dan istrinya hilang beserta raganya (muksa). Tempat muksa Kyai Tunggul Wulung sekarang dikeramatkan menjadi tempat berziarah atau melakukan tapa semedi untuk mencari wangsit. Legenda tentang Kyai Tunggul Wulung berlanjut dengan legenda tayuban ledhek. Tradisi ini bermula dari adanya seorang ledhek yang ingin mencari penglarisan di tempat peninggalan Kyai Tunggul Wulung, tetapi ledhek itu menghilang tanpa sebab yang jelas. Masyarakat percaya, bahwa ledhek tersebut disukai oleh Kyai Tunggul Wulung, oleh karena itu setiap pelaksanaan upacara adat Tunggul Wulung selalu disertai pentas ledhek diiringi gendhing sekar gadhing.
Nama upacara adat Tunggul Wulung berasal dari nama tokoh yang dimitoskan di wilayah itu, yaitu Kyai Tunggul Wulung, Seorang tokoh kharismatik berasal dari kerajaan Majapahit, ia tinggal di Desa Tengahan beserta istrinya yang bernama Raden Ayu Gadhung Mlathi. Lokasi pelaksanaan upacara ini bertempat di Dusun Tengahan, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Waktu pelaksanaan upacara setiap tahun pada hari Jumat Pon bulan Agustus. Adapun tujuannya sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Minggir atas rakhmat Tuhan Yang Maha Esa berupa panen yang melimpah di Dusun Tengahan. Rasa syukur ini dikaitkan dengan penghormatan tokoh yang pernah tinggal di Desa Tengahan, yaitu Kyai Tunggul Wulung, yang telah mensejahterakan masyarakat di desa tersebut
Deskripsi:
Upacara adat Tunggul Wulung dilaksanakan di tempat yang di percaya sebagai tempat muksa Kyai Tunggul Wulung beserta istri dan pengikutnya, Yaitu di tepi Sungai Progo Dusun Tengahan. Upacara adat diawali doa oleh juru kunci dan rois desa. Kemudian sesaji yang telah disiapkan dibagikan pada para peziarah yang menghadiri upacara adat tersebut. Acara diakhiri dengan pertunjukan ledek atau tayuban. Perlengkapan upacara yang berwujud sesaji terdiri atas: tumpeng sekul wuduk, talapan, sega golong, pisang raja setangkep, jajan pasar, ingkung ayam, minuman kopi, arak, kinang, dan rokok candu.