Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kirab Pusaka Mbah Andongsari/Manganan/Khoul - Bojonegoro, Jawa Timur |
Sejarah : Pada zaman dahulu, ketika Belanda mulai masuk di bumi Jawa, Mbah Andongsari pernah terlibat peperangan dengan Cakraningrat dari Madura (Bangkalan). Akibatnya sampai mengungsi ke wilayah Ngurawan, dan mengabdi kepada Bupati Ngurawan. Pangeran Cakraningrat mengejar sehingga terjadi peperangan lagi, kemudian melarikan diri dengan menyamar sebagai tukang barang (ngamen) kentrung. Hal ini sekaligus menyebarkan agama Islam ke arah timur lau Bojonegoro sampai Regel wilayah Tuban. Di Regel ini ada Dusun Andong dan petilasan Mbah Andong. Setelah dari daerah Regel beliau menuju ke wilayah Bojonegoro, kemudian membantu pembangunan masjid Agung Bojonegoro pada waktu itu. Kemudian beliau menjadi tukang tambangan di daerah Ledok Kulon, dan menikah dengan Mbah Sari, sehingga lebih dikenal dengan nama Mbah Andongsari.
Pernikahan Mbah Andong dan Mbah Sari tidak dikaruniai keturunan. Suatu hari Mbah Sari mempunyai permintaan kepada Mbah Andong, yaitu jarik Parang Rusak (batik) dan stagen biru. Padahal kedua jenis tersebut patangan bagi Mbah Andong. Berhubung Mbah Sari terus mendesak, akhirnya permintaan tersebut dikabulkan. Karena Mbah Andong pernah berjanji, maka bila meninggal makamnya tidak mau jadi satu tempat dengan istrinya. Oleh karena itu, maka makam Mbah Andong dulu di daerah Ledok Kulon sebelah selatan. Namun, adanya erosi Sungai Bengawan Solo, pada pemerintahan Orde Baru makam Mbah Andong dipindahkan ke lokasi yang sekarang di area makam umum Desa Ledok Kulon berdekatan makam Mbah Sari.
Deskripsi : Terkait dengan perjuangan Mbah Andong dan nguri-nguri leluhur, masyarakat Desa Ledok Kulon sampai saat ini masih mengadakan manganan/khoul dan kirab pusaka. Acara ini sebelum tahun 1988/1989 dengan istilah Manganan, dan setelah itu diganti dengan acara khoul. Hal ini merupakan salah satu upaya menambah citra Islami. Acara ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Suro pada hari Selasa Kliwon. Sebelumnya pada hari Senin Wage pagi diadakan Tahtimul Qur’an (Khataman Al Qur’an) di area makam Mbah Andong. Kemudian dilanjutkan pada hari Senin malam Selasa Kliwon diadakan pengajian umum.
Sebelum dilaksanakan kirab pusaka, dilakukan jamasan, yaitu tanggal 1sampai 5 bulan Sura. Ada beberapa pusaka yang dimiliki Mbah Andong yaitu pusaka Gagak Cemani, Godong Andong, Tongkat Galih Kelor, Tongkat Menjalin Bang, Tongkat Menjalin Porong, Slempang Bupati, Pedang Cakra Budaya, Kentrung, Kutang Singo Barong, dan Kutang Onto Kusumo. Godong Andong, dipercaya berkhasiat untuk keselamatan, Gagak Berani dibawa saat perang, Tongkat Galih Kelor dibawa ke hutan untuk keselamatan.
Adapun prosesi Upacara Kirab Pusaka Mbah Andongsari yang dilaksanakan pada hari Selasa Kliwon, dimulai pukul 07.00 yang berakhir pukul 11.00. Pusaka yang dimiliki Mbah Andongsari tersebut, kemudian dikirab yang dihadiri Lurah Ledok Kulon dan masyarakat setempat serta masyarakat umum lainnya diberangkatkan dari makam menuju kabupaten yang dipimpin juru kunci. Sesaji dalam ritual ini meliputi sego buceng, panggang ayam, jenang abang putih, sekar (bunga), ubarampe jajan pasar dari masyarakat.
Makna dari sesaji tersebut, sego buceng sebagai lambang hormat kepada leluhur, jenang abang putih menghormati kepada leluhur bapa lan ibu yang telah meninggal, sekar,yang diambil warga dipercaya sebagai penolak bala. Setelah kirab selesai diadakan manganan umum (kenduren/bancakan/makan bersama), sedangkan yang memimpin do’a adalah modin Desa Ledok Kulon.