Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaBedaya Babar Layar - Kota Yogyakarta, DIY
Sejarah: Bedaya Babar Layar, merupakan salah satu yasan dalem (hasil karya) Sunan Paku Buwono II. Jadi, bisa diperkirakan berapa kira-kira umur tarian tersebut. Yang jelas sudah seabad lebih tarian ini tidak terdengar beritanya (dalam arti dipentaskan). Bedaya Babar Layar menjadi salah satu pusaka tari yang diuri-uri (dilestarikan) Kasultanan Ngayogyakarta bersama Bedaya Semang dan Bedaya Rambu. Itu terjadi  semenjak  Mataram pecah menjadi dua yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Di Yogyakarta Bedaya Babar Layar disempurnakan lagi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono II. Keberadaan Bedaya Babar Layar tertulis di dalam manuskrip yang tersimpan di perpustakaan Keraton Yogyakarta. Bedaya Babar Layar tercium keberadaannya ketika K.R.T. Mangkuwinata ( R. B Sudarsono, M. Hum) membaca kitab kuna tersebut. Dari situ timbul keinginan untuk kembali menghidupkan bedaya tersebut. Bersama sang istri Nyi R. Pujaningsih ( Th. Suharti, M. Sn.) naskah kuna tersebut dicermati. Nama K.R.T. Mangkuwinata serta Nyi R. Pujaningsih adalah gelar yang dianugrahkan dari kertaon Yogyakarta. Sepasang suami-istri yang keduanya merupakan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sekaligus abdi dalem Keraton Yogyakarta ini semakin bersemangat untuk kembali mementaskan Bedaya Babar Layar. Read more: http://baltyra.com/2011/01/03/kenali-tari-tarian-indonesia-2-bedaya-babar-layar/#ixzz2nJNALdCi Deskripsi: Bedaya yang menurut Th. Suharti terkesan lebih kenes dibanding bedaya lain ini, pertama kali dipentaskan kembali di Surakarta, tahun 2006. Kemudian disempurnakan lagi, lalu dipentaskan di dalem Yudaningratan Yogyakarta tahun 2007. Mungkin kesan kenes tersebut salah satunya karena adanya gerak nglayang beberapa kali di sepanjang tarian tersebut. Gerak nglayang tidak mudah dilakukan, ketika tubuh harus meliuk ke belakang kanan dalam posisi jengkeng. Pementasan memakan waktu kurang lebih 100 menit. Hebatnya Th Suharti sabagai penari tertua (60 tahun) staminanya tidak kalah dengan penari yang lebih muda usianya. Yang menarik juga, Th Suharti menari bersama salah satu putrinya. Jadi, satu keluarag terlibat semua. Suami sebagi pengeprak, istri dan putrinya sebagai penari, dan pimpronya adalah putri sulungnya. Rekonstruksi Bedaya Babar Layar ini terlaksana berkat kerja sama antara Puspaning Asih Wiraga (sebagai pelaksana) dengan The Institute of Ethnomusicology Tokyo College of Music dari negeri sakura, sebagai penyandang dana. Jadi pendokumentasian pun hanya boleh dilakukan  pihak penyandang dana. Rekonstruksi tari memang membutuhkan beaya yang besar, waktu, tenaga, dan tentu pikiran. Hanya mereka yang berkomitmen tinggi terhadap seni tradisi yang mampu dan mau melakukannya, yang mendedikasikan hampir seumur hidupnya demi  lestarinya tari klasik gaya Yogyakarta. Perhatian kadang justru datang dari  luar negeri, mungkin karena mereka mampu dan mau mendanai kegiatan semacam ini. Di negeri sendiri seni tradisi kurang mendapat perhatian. Mungkin nanti saat bedaya diklaim negara antah berantah, baru diperhatikan. Read more: http://baltyra.com/2011/01/03/kenali-tari-tarian-indonesia-2-bedaya-babar-layar/#ixzz2nJNJzNZd