Tradisi ini biasanya digelar pada saat bulan Sura atau tahun baru Saka, namun kadang-kadang juga digelar setelah masa panen. Puncak acara tradisi ini digelar pada sore hari setelah Assar, bertempat di punden cikal bakal desa. Pada hari yang telah ditentukan masyarakat berkumpuk di pusat dusun untuk menyaksikan atraksi reog Ponorogo yang akan terus berkeliling dusun. Sore harinya warga berkumpul di punden atau makam untuk menggelar selamatan. Sesaji selamatan yang berupa tumpeng setelah diberi doa kemudian dibagikan kepada warga serta pengunjung yang hadir. Acara selamatan ini diakhiri dengan pergelaran kesenian tayub. Biasanya seni tayub ini diawali dengan pengalungan sampur (selendang ) kepada kepala desa, lalu diikuti oleh sekretaris desa, kamituwo dan kemudian warga yang ingin menari.
Tradisi ini digelar setiap tahun sebagai salah satu bentuk rasa syukur pada Tuhan yang sudah memberikan kecukupan hasil panen dan ketenteraman desa.