Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Tradisi Melasti - Kab. Bantul, D.I. Yogyakarta |
Sejarah:
Upacara melasti atau Labuhan Suci merupakan upacara keagamaam yang dilaksanakan oleh umat Hindu setiap tahun sekali yaitu pada tiga atau empat hari sebelum melaksanakan Nyepi. Umat Hindu yang berada di Bali biasanya melaksanakan upacara Melasti di bibir pantai, begitu juga umat Hindu yang ada di seluruh Indonesia. Di Yogyakarta ada dua tempat pelaksanaan upacara yaitu di Ngobaran, Gunung Kidul dan di Parangkusumo, Bantul.
Dalam ajaran agama Hindu makna upacara Melasti untuk melenyapkan penderitaan masyarakat dan kotoran dunia, serta mengambil air suci kehidupan di tengah-tengah manusia. Selama prosesi upacar Melasti, terjadi penyucian diri pribadi, Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung. Saat Melasti inilah umat Hindu memantapkan tawun Agung kasanga dan Nyepi. Sehingga simbolisasi hilangnya sifat-sifat buruk manusia dan jagad raya , maka dilakukan Sesaji ke laut serta menyucikan arca, pratma, nyasa,pralingga sebagai wujud atau sthana Ida Sang Hyang Widi Wsa dengan segala manifestasinya. Adapun sifat-sifat buruk yang mesti di buang adalah 6 musuh atau sad ripu yaitu kama (nafsu biologis), lobha (rakus), Krodha (kemarahan), madha (kemabukan), moha kama (kebingungan)dan matsyarya (iri dengki)
Deskripsi:
Prosesi Upacara melasti biasanya dimulai dengan pengambilan air suci, nuur toya suci di Sendang Beji. Selanjutnya umat Hindu Yogyakarta berkumpul di Pura Jaganatha, Plumbon, Banguntapan, Bantul untuk memanjatkan do’a. Kemudian rombongan menuju ke pantai Parangkusumo dengan membawa ubarampe yang diperlukan untuk prosesi upacara.
Di Parangkusumo prosesi diawali dengan iring-iringan Jampana dan sesaji tepi pantaihingga para pengusung menyentuh air laut. Selanjutnya sesaji diletakkan di atas meja yang sudah disediakan, setelah itu mulailah pemujaan. Selama prosesi pembacaan do’a dan pemujaan do’ kepada Sang Hyang Widhi Wasa umat Hindu mengikuti dengan khidmat. Saat Pandita mengalunkan mantra berupa kidung-kidung yang indah dengan alunan gamelan Bali umat Hindu menjunjung tangan dengan bunga diujung jarinya.
Pada upacara ini pemuka agama Hindu mengambil air laut dan memasukkan ke dalam gentong yang telah diisi denganm air dari tiga mata air. Kemudian air suci tersebut dibagi-bagikan kepada umat.
Sebagai penutup pada upacara melasti adalah dilabuhnya berbagai macam sesaji ke laut selatan. Seluruh umat yang hadir menyentuh air laut sebagai simbolisasi penghanyutan segala kotoran beserta bunga-bunga yang oleh umat.