Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Malang Areh Bayi - Pamekasan, Jawa Timur
Sejarah: Tradisi perayaan empat puluh hari atau malang areh bayi semakin sulit dijumpai. Selain sudah bergeser ke efesiensi, juga karena tergerus budaya modern. Namun, bagi warga Kecamatan Kadur tradisi malang areh tetap dilestarikan. Kapan dan bagaimana asal mmula tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat tidak diketahui. Deskripsi: Setelah azan Maghrib berkumandang, sejumlah warga berdatangan. Mereka yang datang langsung disediakan sebungkus makanan dan minuman yang terselip sebatang rokok. Di ruangan itu tampak remaja putra dan putri sibuk menghias perahu mini. Ada juga dari mereka sedang merangkai bunga dengan seutas lidi dan tali. "Ini acara perayaan malang areh cucu saya, sekaligus aqikahnya. Kami sengaja mengundang tetangga untuk turut mendoakan. Cucu ini merupakan cucu laki pertama dari anak bungsu saya," kata Adnan.Seperti kegiatan keagamaan dan seremonial pedesaan pada umumnya, setiap pembukaan acara dibuka dengan doa. Termasuk, saat ditutup juga dipungkasi dengan doa oleh tokoh agama setempat.Sebelum acara berakhir, salawat Nabi mulai dikumandangkan dan para undangan mulai berdiri semua. Setelah itu, tiga remaja memasuki lokasi undangan yang berjumlah sekitar seratus orang tersebut.Remaja paling depan membawa perahu mini yang dilengkapi dengan lampu hias. Rupanya, perahu mini itu dijadikan wadah bayi yang sudah berumur 40 hari tersebut. Kemudian, bayi dibawa keliling menemui undangan untuk dimintakan doa.Sedangkan remaja yang ada di urutan kedua, terlihat membawa beberapa bunga yang sudah dirajut dengan benang dan lidi. Bunga itu untuk diberikan ke para undangan yang hadir. Itu sebagai belas kasih dan mengartikan kebaikan bagi sang anak. Yang terakhir, pria dengan kopiah tinggi itu terlihat asyik menyemprotkan parfum kepada para undangan. Itu sebagai bagian dari sunnah dalam Islam dan juga berarti sang anak terhindar dari sifat buruk dan kotor. Setelah salawat, sang bayi yang terlihat lelap tersebut ditaruh di depan tokoh agama setempat hingga selesainya acara. Baru setelah selesai diambil oleh kedua orang tuanya.