Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Telasa Topak Telasan Tongareh - Pamekasan, Jawa Timur
Sejarah: Sebagai penanda berakhirnya bulan Ramadan, secara umum Idul Fitri merupakan puncak atau klimaks perayaan. Namun, tidak demikian bagi masyarakat di Pulau Madura. Di Madura dan wilayah mataraman, kemeriahan pada tujuh hari setelah Idul Fitri (H+7) atau Lebaran Ketupat justru lebih ramai, bahkan mengalahkan kemeriahan Idul Fitri. Disebut Lebaran Ketupat, atau telasan topak karena pada H+7 itu masyarakat di sana membuat dan menyajikan ketupat kepada para tamunya ataupun dibagi-bagikan antartetangga dan sanak-famili sebagai ater-ater. Di Madura, ater-ater ini disebut ter-ater. Sejak saya masih kecil kalau Lebaran Ketupat memang jauh lebih meriah di Pamekasan ini dibanding Idul Fitri,” kata Hami Gamdani, salah seorang warga Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan. , tradisi lengleng trebung ini tetap bertahan di Kelurahan Parteker, Kecamatan Kota Pamekasan, sejak 50-an tahun lalu. Lengleng trebung ini untuk menggambarkan kegembiraan masyarakat, terutama anak-anak, usai Idul Fitri. Telasan Topak (penghabisan kupatan, tujuh hari setelah Idul Fitri). Dikenal juga dengan sebutan Telasan Tongareh. Sebagai masyarakat agamis, setelah Salat led mereka berkeliling ke kerabat, sahabat, relasi, dan tetangga untuk bersilaturahim sekaligus mengucapkan selamat berlebaran. Kupatan atau Telasan Topak atau Telasan Tongareh berasal dari budaya jawa yang mempunyai arti “mengaku salah” yang di simbolkan dengan ketupat. Makna dari Telasan Topak itu sendiri yaitu merayakan kemenangan setelah menjalankan puasa sebagai sarana saling memaafkan antara manusia satu dengan yang lainnya. Dari sinilah muncul bahwa ketupat adalah simbol kemenangan umat islam. Sehari setelah Salat led, mereka lazimnya berpuasa kembali selama lima hari, yaitu puasa Syawal. Baru tujuh hari setelah Idul Fitri mereka merayakan kemenangan yang sesungguhnya dengan ditandai dengan  Telasan Topak. Itulah sebabnya Telasan Tongareh di Madura lebih meriah daripada hari “H” Lebaran. Telasan Topak adalah sebuah perayaan yang menandai kemenangan umat islam setelah menjalankan puasa selama 1 bulan sebagai sarana mendekatkan diri dengan Allah swt.  Dulu Telasan Topak  merupakan perayaan para prajurit atas kemenangannya setelah berperang dalam medan tempur yang dismbolkan dengan ketupat Deskripsi: Selama Telasan Topak ini, banyak warga menghentikan aktivitas rutinnya untuk beranjangsana ke rumah sanak-saudara. Setelah itu, mereka umumnya menyerbu tempat-tempat wisata.Di kota Pamekasan, kemarin pusat perbelanjaan hampir semua tutup. Masyarakat menghabiskan waktunya untuk beragam kegiatan berbasis budaya yang digelar pada Telasan Topak.Selain ter-ater, ada pula tradisi lain,yakni lengleng trebung atau mengitari pohon siwalan, yang digelar meriah di Pamekasan. Perayaan lengleng trebung diadakan pukul 16.00 dengan melibatkan sekitar 300 becak hias dan puluhan andong yang melintasi Jl Cokroatmojo, Jl R Abd Aziz, Jl Trunojoyo, Jl Diponegoro dan kembali lagi ke Jl Cokroatmojo. Acara itu disaksikan ribuan masyarakat Pamekasan, termasuk Bupati Pamekasan dan Wakil Bupati. Tradisi lengleng trebung ini tetap bertahan di Kelurahan Parteker, Kecamatan Kota Pamekasan, sejak 50-an tahun lalu. Lengleng trebung ini untuk menggambarkan kegembiraan masyarakat, terutama anak-anak, usai Idul Fitri.Saat Idul Fitri, anak-anak mengikuti orangtua mereka mengunjungi sanak famili, dan kemudian diberi uang. Uang pemberian yang terkumpul itu, kemudian dipakai untuk naik becak atau andong pada Lebaran Ketupat. Kebetulan di Kelurahan Parteker terdapat banyak pohon siwalan. Perlu diketahui bahwa tradisi ini juga dilakukan di Kabupaten Sampang dan Sumenep. Sejumlah ibu dan remaja sibuk menganyam janur menjadi pembungkus ketupat. Sambil bercanda ria mereka mengisi ketupat dengan beras yang sudah ditiris di atas tampah. Sebagian yang lain membuat lepet (penganan ketan yang dibungkus daun pisang dan diikat dengan pelepah). Lepet Madura agak berbeda dengan lepet di Jawa, karena rasanya tawar. Sehari setelah Salat led, mereka lazimnya berpuasa kembali selama limahari, yaitu puasa Syawal. Baru tujuh hari setelah Idul Fitri mereka merayakan kemenangan yang sesungguhnya dengan Telasan Topak. Itulah sebabnya Telasan Tongareh di Madura lebih meriah daripada hari “H” Lebaran di luar Pulau Garam itu.  Mencari Jodoh.Telasan Topak merupakan hari baik bagi warga Madura. Bulan Syawal sangat cocok untuk mengadakan upacara selamatan seperti tasyakuran, khitanan, pemikahan. Selain itu juga dipercaya sebagai hari yang baik untuk mencari jodoh. Lantaran itu banyak gadis dan jejaka yang ovensif meneari pasangan hidup. Mereka berbusana apik, berpenampilan menarik.Acara temu jodoh itulah yang paling menarik para wisatawan. Tidak hanya perantau Madura yang toron dari Surabaya, Jakarta, dan kota-kota lain yang sengaja menyempatkan diri untuk hadir dalam temu jodoh itu. Namun juga perantau yang toron dari Negeri Jiran, Malaysia. Aeara temu jodoh ini biasanya terjadi di pantai seperti di Sukolilo, Kwanyar, dan Pantai Camplong. Tak pelak, Telasan Topak menjadi sangat bermakna bagi masyarakat Madura.Sejak subuh ibu-ibu sudah sibuk mempersiapkan segala perlengkapan untuk “pesta” ketupat. Ketika ketupat masak, giliran bapak-bapak ambil peran. Mereka meletakkan ketupat di sejumlah benda yang mereka anggap “berjasa” dalam mengumpulkan rejeki dan bekerja. Mulai dari cangkul, sabit, kereta/gerobak, hingga pepohonan yang selama ini memang memberi rejeki lumayan. Ketupat juga dikalungkan di leher sapi, kerbau, sapi kerapan, dan beberapa hewan peliharaan lainnya. Pendek kata, segala benda milik mereka yang “memberikan rejeki”, dikalungi ketupat. saat Telasan Topak itu. “Ini semacam pemutihan dan ucapan terima kasih Konvoi Perahu Hal yang paling menarik adalah, upacara Telasan Topak di tepi pantai. Para nelayan menggantungkan ketupat pada perahu-perahu yang selama ini mereka gunakan mencari nafkah. Puluhan unit perahu “dikalungi” sesaji berupa kupat, lepet, ayam panggang plus aneka aksesori wama wami. Kemudian perahu-perahu cantik itu berkonvoi keliling pantai.Paraawak perahu terlihat sangat bergembira pada hari itu. Mereka saling melempar ketupat dari perahu yang satu ke perahu lainnya, sambil terus melaju.