Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Rokat Labheng - Pamekasan, Jawa Timur
Sejarah: Sejarah munculnya Rokat Labheng tidak begitu jelas. Namun asal muasalnya sudah ada sejak dulu mendiang nenek-moyang. Saat ini Rokat Labheng sudah jarang ditemui di tengah-tengah masyarakat. Karena pada hakikatnya, tradisi Rokat Labheng semata-mata hanyalah Do’a untuk keselamatan dan meneruskan tradisi nenek moyang. Masyarakat Desa Teja Timur pada umumnya, warga asli masih ada yang melakukan tradisi Rokat Labheng tersebut. Menurut Ny. Mistiyah sejarah Rokat Labheng tersebut sudah ada sejak dulu, . yang beliau tau dari ibu dan mendiang neneknya itu rokat labeng harus dikerjakan oleh siapapun orang yang  memiliki kesamaan fisik antara anak dengan Ayahnya. Menurut ceritanya, memang sejak dulu ada kejadian bahwa jika ada anak yang memiliki kesamaan fisik dengan Ayahnya, tetapi orang tua dari anak tersebut tidak mengindahkan dan selang beberapa bulan kemudian Ayahnya pun meninggal. Sejak saat itu tradisi Rokat Labheng sudah menyatu, melekat di tengah – tengah masyarakat sekitar. Rokat labheng adalah salah satu adat atau kebiasaan yang sering dilakukan di daerah Teja Timur. Konon, acara adat ini sudah dilakukan oleh para leluhur. Rokat Labheng biasa disebut Slamet Labheng ini sudah tumbuh dan berkembang kurang lebih 150 Tahun yang lalu. Dalam arti luas Rokat Labhengadalah acara selamatan atas ayah dan anaklaki-laki yang memiliki fisik yang sama/ wajah keduanya persis sama. Keduanya akan melakukan serangkaian prosesi adat yang telah ada di daerah tersebut. Kebanyakan masyarakat sekitar melakukan adat ini ketika usia anaknya menginjak usia balita atau sekurang-kurangnya berumur 2 tahun. Ketentuan dalam adat ini hanya diperuntukkan kepada anak laki-laki saja dan tidak di peruntukkan kepada anak perempuan. Jikalau ada anak perempuan yang memiliki kesamaan fisik/ wajah dengan ayahnya maka diyakini sifat baik ayahnya juga akan diturunkan kepada putrinya tersebut. Artinya dalam bahasa madura Bhuet Rejekeh / banyak rejekinya. Hal ini sudah menjadi patokan di daerah ini. Deskripsi: Menurut Ny. Mistiyah tidak ada hal spesial yang harus di lakukan, pada umumnya sama, anak dan bapak sama-sama makan di luar dan dalam pintu rumah, namun tidak boleh ada sisa. Sehubungan dengan Sedekah (Rebbe) adalah air putih dalam gelas yang diberi bunga pasar, diikuti dengan jajanan pasar 7 macam, serta nasi dan lauk seadanya. Namun syarat yang lebih mutlak adalah mensedekahkan makanan tersebut secara onjur artinya mensedekahkan ke arah aliran air yang mengalir.  Prosesi acaranya sebagai berikut; Siapapun yang hendak melakukan tradisi ini haruslah memiliki niat semata-mata hanya ingin memanjatkan Do’a kepada Yang Maha Kuasa. 2.      Membuat tumpeng yang berbahan dasar;Nasi yang di masak di Kontong/Polo’ (Bahasa Madura).Diatas nasi tersebut diletakkan rebusan telur 1 butir. c.       Tumpeng tersebut tidak boleh di wadahi piring, tetapi harus menggunakan kipas yang masih baru (Keppas anyar).Selanjutnya ayah dan anaknya haruslah memakan tumpeng tersebut secara bersamaan di pintu dengan ketentuan;Ayah berada di dalam pintu, sedangkan anak berada di luar pintu. Baik ayah maupun anaknya harus duduk di atas ronjengan, namun karena saat ini sudah sulit ditemukan ronjengan maka diperbolehkan duduk di atas meja.Nasi tumpeng tersebut haruslah ada sisanya, dan sisanya harus diberikan kepada orang lain/tetangganya dengan ketentuan haruslah seindah mungkin. Menurut Ny. Mistiyah dalam pelaksanaan rokat labheng ini bahan-bahan yang harus disiapkan adalah: Bunga pasar, talam, Jajanan pasar 7 macam, air putih, nasi, lauk seadanya. Versi lain bahan-bahan yang digunakan: Polo’, Peralatan masak, lessong, nasi, daging sapi. Adapun prosesi acara sebagai berikut:Nasi diwadahi polo’ diberi tumpeng dendeng.    Ayah dan anak hanya boleh memakan dendengnya saja, sedangkan nasinya disedekahkan kepada orang lain. Rokat Labheng dilakukan semata-mata hanya ingin meminta perlindungan dan pertolongan serta mengucap rasa syukur kepada Tuhan YME atas berkah dan limpahan rahmatNya. Masyarakat dulu pada umumnya menyebutken bahwa tradisi tersebut sebagai ucapan rasa syukur dan tolak balak. Tolakbalak dalam hal ini bertujuan agar kepercayaan yang telah ada sejak dulu tentang mitos kalahnya salah satu anggota keluarga ( ayah dan anak) tidak benar-benar terjadi. Dalam Islam selalu dianjurkan untuk bersedekah, seperti halnya Rokat Labheng ini meskipun hanya sisa makanan yang disedekahkan namun masyarakat sekitar sudah mengerti karena merupakan bagian dari adat tersebut.Pada umumnya Rokat Labheng dilakukan karena dipercaya jika melakukan adat tersebut maka keduanya (ayah dan anak) akan selamat dan tidak kalah salah satunya.