Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Gathean - Pamekasan, Jawa Timur
Sejarah: PERAYAAN Maulid Nabi Muhammad SAW di Pamekasan, perayaan tersebut dirayakan pada acara puncak yangacaranya digelar di pusat kota, tepatnya di Monumen Arek Lancor atau depan Masjid Agung Ash Syuhada. Salah satu keunikannya karena pemkab sudah menyediakan aneka macam makanan gratis. Tradisi ghatean merupakan kegiatan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dan Pemkab Pamekasan, sebagai wujud kepedulian dengan masyarakat lainnya. ”Tujuan dari tradisi ini tidak lain adalah untuk kebersamaan dan persatuan umat. Semua berbaur menjadi satu. Halifaturrahman, salah seorang seniman Pamekasan, mengungkapkan tradisi ini sebagai bentuk pemersatuan semua kalangan, menyatukan dari semua elemen masyarakat untuk menikmati hidangan tanpa melihat strata sosil masyarakat. Tradisi  ghatean merupakan salah satu cermin dari kebiasaan masyarakat Pamekasan yang senang berbagi.tradisi Ghatean merupakan kegiatan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dan pemerintah Kabupaten Pamekasan, sebagai wujud kepedulian dengan masyarakat lainnya. Ghatean sudah biasa dilakukan oleh masyarakat Pamekasan, terutama pada saat hari-hari besar Islam dengan saling peduli memberikan makanan dan buah-buahan antar sesama umat. Sehingga antar umat yang satu dengan yang lain bisa bersatu dalam tradisi ini," Deskripsi: Sejumlah peserta membaca sholawat sambil memainkan rebana saat mengikuti tradisi Ghatean, di monumen Arek Lancor, Pamekasan, Madura. Tradisi tersebut menggambarkan suasana suka cita, warga ketika menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad (Maulid Nabi) dengan membagi-bagikan masakan kepada para kerabat dan tetangga mereka.Usai Salawatan Warga Rebutan Buah.  Salah satu keunikannya karena pemkab sudah menyediakan aneka macam makanan gratis.Di antaranya buah-buahan, nasi tumpeng, bahkan barang-barang seperti gelas, makanan ringan, hingga kaus dan aneka pakaian lainnya. Selain itu, penampilan musik islami seperti hadrah juga sempat menjadi tontonan warga Pamekasan. Menariknya, alunan musik tak hanya dimainkan, tetapi juga diiringi dengan jogetan islami. Secara bergilir para SKPD (satuan kerja perangkat daerah) menunjukkan kebolehannya.  Tradisi ghatean (tradisi peduli) yang rutin diselenggarakan Pemkab Pamekasan tiap tahun. Warga mayoritas hadir dengan mengenakan pakaian serbaputih. Mereka pawai bersama sambil membawa berbagai jenis makanan dan buah-buahan untuk dinikmati bersama di tempat itu. Sebelum berkumpul di Monumen Arek Lancor, warga yang sudah berkelompok itu datang dari dua arah sambil membaca salawat nabi sebagai bentuk penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Setelah warga berkumpul, mereka meletakkan makanan dan buahbuahan menjadi satu di lokasitersebut dengan membentuk lingkaran. Setelah itu, bersama ulama dan pemerintah, warga berdoa bersama memohon agar selalu mendapat keberkahan dari Allah SWT. Sesuai tujuan dari tradisi tersebut, baik warga biasa maupun pejabat dan ulama, duduk bersama menikmati makanan dan buah-buahan. Sebagian warga ada yang berebut makanan seperti buah-buahan yang disusun tinggi. Kegiatan ini dilakukan oleh kelompok masyarakat dan Pemkab Pamekasan sebagai wujud kepedulian dengan masyarakat lainnya. Tujuan dari tradisi ini  untuk kebersamaan dan persatuan umat. Tradisi Ghatean menjelaskan, merupakan kegiatan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dan pemerintah Kabupaten Pamekasan, sebagai wujud kepedulian dengan masyarakat lainnya. Ghatean sudah biasa dilakukan oleh masyarakat Pamekasan, terutama pada saat hari-hari besar Islam dengan saling peduli memberikan makanan dan buah-buahan antarsesama umat. Sehingga antarumat yang satu dengan yang lain bisa bersatu dalam tradisi ini. Dalam tradisi ini, semua masyarakat bebas menikmati makanan apapun yang tersaji, berbaur dengan para ulama, pejabat pemerintah tanpa ada sekat-sekat sosial. Dalam kegiatan Ghatean, warga bersama-sama Pemkab Pamekasan membawa empat jenis tumpeng dan buah-buahan. Satu tumpeng diserahkan ke panitia, satu tumpeng diserahkan ke anak yatim, satu tumpeng diserahkan ke tokoh masyarakat dan sisanya untuk dinikmati bersama masyarakat yang hadir dalam kegiatan Ghatean.