Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tradisi Okol Adu Otot - Pamekasan, Jawa Timur |
Sejarah:
Okol, istilah warga Madura untuk menyebutkan olahraga gulat tradisional.. Okol tidak semata-mata olah raga tapi juga ditujukan meminta hujan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi okol biasa dilakukan pada saat musim kemarau berkepanjangan melanda. Seperti diketahui, kekeringan yang dibarengi paceklik air bersih terjadi hampir di wilayah Pamekasan dan kabupaten lainnya di Pulau Garam.
Tradisi okol telah dikenal puluhan tahun lalu. Bahkan kabarnya orang Madura telah mengenal tradisi okol jauh sebelum Indonesia merdeka.Bahkan Tradisi okol konon sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Saat ini tradisi tersebut menjadi hiburan rakyat, sekaligus perekat persaudaraan di antara warga desa sekitar. Soalnya, usai bertanding, peserta langsung bersalaman. Tak ada dendam di antara mereka. Yang ada hanyalah tawa gembira, tentu saja sambil menikmati rokok hasil perjuangan menjatuhkan lawan.Tradisi okol merupakan warisan budaya leluhur masyarakat Madura. Salah satu desa yang mengelar okol adalah Desa Nylabu Laok, Desa Plak Pak Kec. Larangan, biasanya diadakan selepas adzan ashar.
Tradisi olahraga okol yakni bertarung satu lawan satu dengan cara membanting lawan, masih ada dan dipertahankan di kabupaten Pamekasan, Madura. Tradisi ini awalnya cara tradisional meminta hujan, namun kini berubah menjadi hiburan rakyat yang unik dan menarik.
Deskripsi:
Tradisi Okol di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, seperti orang yang begulat. Pemain adalah dua pria dewasa bertubuh kekar hanya mengenakan celana panjang, berada dalam sebuah lingkaran berdiameter 3 meter. Ketika wasit memberi tanda Okol dimulai, kedua pria dewasa tersebut saling memegang lengan keduanya untuk saling menjatuhkan musuhnya. Pergulatan itu butuh waktu 5 sampai 10 menit, untuk mengalahkan musuhnya. Dalam pertandingan Okol, tidak mudah untuk menjatuhkan lawannya. Sebab, di samping harus bertubuh kekar, mereka harus memiliki kuda-kuda yang kuat. Dalam pertandingan ini, siapa yang bisa menjatuhkan musuhnya dengan posisi di bawah, maka dia yang jadi pemenangnya. Meskipun bisa menjatuhkan musuh, tetapi bila posisinya berada di bawah musuhnya dia dinyatakan kalah. Tradisi Okol, biasa dilaksanakan saat musim kemarau berkepanjangan untuk meminta hujan. Tradisi ini, menjadi rangkaian dari tradisi meminta hujan lainnya, seperti sembahyang meminta hujan (shalat istisqa’), dzikir-dizikiran. Namun kini, tradisi Okol dimainkan di musim hujan. Tradisi tersebut bukan sekedar tradisi untuk meminta hujan, melainkan sudah dianggap hiburan.
Di samping itu ketika Okol digelar, masyarakat sangat terhibur. Alasannya, petani butuh hiburan karena musim hujan yang berkepanjangan, banyak tanamannya yang gagal panen. Karena sifatnya hiburan, maka tidak dibuat kompetisi siapa yang kalah dan siapa yang menang. Hanya saja, siapa yang bisa menjatuhkan musuhnya di bawah maka dia yang menjadi juara satu, dan yang berda di atas juara dua. Tradisi Okol di Pamekasan, tidak semua desa menjalankannya. Pemain Okol bisa bermain dari desa ke desa . Ada enam desa yang masih mempertahankan tradisi tersebut. Salah satu desa yang hingga kini masih mempertahankannya, adalah Desa Nyalabu Laok.
Pemain Okol wajib membuka baju, mereka juga harus mematuhi aturan main. Sebelum bertanding, pengarah permainan memeriksa kuku tangan. Pemain juga diharuskan melepas aksesoris seperti gelang dan arloji. Setelah itu, pengarah permainan memberikan aturan main Okol, yakni peserta dilarang menggigit, peserta juga dilarang meninju dan memukul lawan mainnya.Peserta dinyatakan kalah jika punggungnya menyentuh tanah. Peserta tidak boleh memelihara kuku di kedua tangannya. Kuku tangan harus dipotong bersih sebelum bertanding. Panitia akan mengusir peserta berkuku panjang dari luar arena.
Dalam tradisi okol. Yang paling penting adalah peserta yang kalah dan pendukungnya tidak boleh memendam dendam kepada sang pemenang. Sebab, okol merupakan olah raga yang menjunjung spotivitas.Aturan lainnya, adalah, baik peserta maupun penonton tidak boleh berjudi.
Arena okol berukuran bujur sangkar dengan lebar empat meter kali empat meter. Biasanya, garis pembatas ditandai dengan pagar betis penonton. Sebelum okol dimulai, dua orang wasit akan memberi pengarahan aturan main. Ketika pertandingan dimulai para peserta saling menerkam dan sama-sama ingin secepatnya membanting lawan.Agar lebih meriah, panitia mengiringi peserta okol dengan kaset musik Saronen yang dipancarkan lewat pengeras suara. Meski hanya berhadiah sebungkus rokok dan kaos, namun seluruh peserta tampak puas setelah bermain.Untuk meluapkan kegembiraan, sang pemenang langsung diangkat beramai-ramai. Masyarakat setempat menyakini setelah digelar tradisi ini, hujan akan turun membasahi bumi Madura.