Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKerajinan Pande Besi - Kudus, Jawa Tengah
Sejarah: Kudus merupakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah. Kudus termasuk kota industri dan perdagangan, baik indutri kecil maupun menengah tumbuh dan berkembang di daerah tersebut . Di bidang industri kecil banyak usaha rumahan yang dapat menopang kehidupan masyarakat Kudus, salah satunya industri pande besi. Di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekula, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah merupakan sentra industri pande besi yang menghasilkan bermacam-macam alat rumah tangga berupa alat-alat pertukangan yaitu gunting, pisau,tatah dll. Usaha pande besi di Desa Hadipolo pengerjaannya masih bersifat tradisional yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur mereka. Hingga kini industri kerajinan pande besi tersebut masih bertahan. Diskripsi: Kudus memang kota yang mempunyai segudang keunikan dibanding dengan kota lain di Indonesia khususnya di Jawa. Hal tersebut dapat dilihat dari segi kultur, bangunan-bangunan bersejarah serta etos kerja masyarakatnya. Di Kota ini mempunyai banyak industri, baik industri besar maupun industri kecil. Kudus terbagi atas Sembilan kecamatan, di setiap kecamatan mempunyai penghasilan yang unik. Salah satu hasil kerajinan yang unik terdapat di Kecamatan Jekulo, tepatnya di Desa Hadipolo. Di Desa tersebut terkenal sebagai sentra pande besi. Karena hamper setiap warganya mempunyai usaha membuat peralatan dapur yang terbuat dari besi. Di Desa ini banyak pande besi yang menyulap besi tua menjadi peralatan yang berguna untuk kebutuha sehari-hari dan tentunya menghasilkan rupiah. Di tangan bapak-bapak paruh baya inilah besi-besi tua yang sudah tidak bisa lagi dipergunakan disulap menjadi peralatan rumah tangga yang berupa gunting, arit, tatah dll. Salah satu pande besi di Desa hadipolo adalah Bapak Kamil yang telah berusia 57 tahun. Bapak Kamil memulai usaha sebagai pande besi sejak 15 tahun yang lalu. Dengan dibantu 2 orang saudaranya Bapak Kamil khusus memproduksi tatah . Pada setiap bulan mampu menghasilkan rata-rata 6 kodi atau 120 buah tatah. Untuk 1 kodi tatah dengan ukuran 1- 3cm dijual dengan harga RP 100.000. Bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat tatah yaitu berupa baja dan per yang sudah tidak bisa dipergunakan. Sedangkan alat-alat yang diperlukan terdiri dari paron, martil, godem, blower, gerinda, las dan keplekan. Proses pembuatan tatah memerlukan tenaga, kesabaran dan tahan terhadap panas yang ditimbulkan oleh pembakaran besi yang akan dibuat menjadi tatah. Mula-mula besi digepengkan dengan dibakar dan kemudian dipukul-pukul dalam keadaan panas. Sampai besi menjadi gepeng. Selanjutnya untuk menghasilkan tatah yang halus maka tatah digerenda. Baru kemudian diberi pegangan dan tatah siap untuk dipasarkan. Untuk memasarkan tatah hasil kerajinan Bapak Kamil tidak langsung menjual kekonsumen, namun diambil oleh grosir yang membantu dalam memasarkan tatah hasil kerajinannya.