Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTari Rondhing - Pamekasan, Jawa Timur
Sejarah: Rondhing merupakan suatu bentuk kesenian tradisional yang berupa seni drama tari komedi yang terdapat di wilayah Kecamatan pamekasan, Kecamatan Tlanakan, dan Kec. Propo. Kapan munculnya kesenian rondhing tidak diketahui dengan pasti, secara turun-temurun tarian ini sudah dikenal sejak dahulu dan masih berkembang sampai saat ini. Konon tari Rondhing pada awalnya hidup dan berkembang di kalangan masayarakat pedesaan dan berfungsi sebagai media hiburan yang sangat digemari. Menurut cerita tarian ini diciptakan oleh seniman tradisi yanh hidup dan memiliki latar belakang sejarah di masa penjajahan. Dilihat dari gerak tarinya diperkirakan seni tari ini sudah ada sejak jaman Belanda atau sebelum kemerdekaan. Hal ini diperkuat dengan sajian tarian yang menceritakan tentang kehidupan dan kegiatan para petinggi Belanda yang sedang mengadakan kegiatan latihan keprajuritan. Berikut adalah sejarah perkembangan tari rondhing: 1)Masa sebelum kemerdekaan. Merupakan awal keberadaan tari rondhing. Pada saat itu semua unsur sajian masih relatif sederhana. Penarinya terbatas laki-laki dan ruang geraknya Terikat pada situasi kondisi masa penjajahan 2)Masa setelah kemerdekaan (1945-1965). Bahwa keberadaan tari rondhing tidak terlepas dari Keberadaan kesenian sandhur sebagai induk pertunjukannya. Pada saat itu kesenian sandhur Berikur tari rondhing mendapat tempat yang baik di kalangan masyarakat setempat khusus nya pedesaan. Hampir setiap ada hajadan bahkan perayaan kemerdekaan selalu tampil, dan tata sajiannya lebih baik dar sebelumnya. Boleh dikata masa itu kesenian ronding berada dalam masa keemasan. 3)Masa Kemunduran (1965-1975). Masa ini masa suram bagi keberadaan tari rondhing. Aktivias maupun volume pertunjukkan menurun drastis, bahkan jarang muncul. Hal ini karena dipicu adanya: a)Terjadinya peristiwa G30S PKI b)Keadaan perekonomian masyarakat yang terpuruk c)Banyaknya bentuk hiburan dari luar (modern) yang masuk d)Persepsi dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian tradisional ronding kurang e)Upaya pelestarian dan ksderisasai terhadap kesenian rondhing kurang 4)Masa Kebangkitan kembali (1975-2000). Sekitar th 1976 Suparta mencoba mengenalkan tari rondhing kepada kalangan pelajar dan masyarakat perkotaan dengan mengadakan egiatan lomba tari tradisional dalam rangka Porseni SD tingkat kabupaten dan provinsi. Tahun 1987 Suparta mengenalkan tari tersebut dan memberikan pelatihan kepada siswa/siswi SMKI Surabaya yang saat itu ada kegiatan nyantrik di Kota Pamekasan. Tahun 1990-an Suparta memberikan bimbingan dan pelatihan rondhing kepada mahasiswa IKIP Surabaya (sekarang UNESA) dalam rangka thesis dan ujian. Tahun 1995-2000 kesenian ronding mulai berkembang di kalangan masyarakat perdesaan maupun perkotaan. Tari rondhing mulai ditampilkan di kalangan masyarakat maupun pemerintah. 5)Masa Pembaharuan dan Pengembangan (2001-sekarang). Awal tahun 2001 Suparta menyusun dan membakukan tari rondhing dalam bentuk tari lepas. Penyusunan pengembangan tari rondhing menyangkut dari tata gerak, iringan, busana maupun tata saji yang disesuaikan dengan tuntutan dan kriteria pergelaran pada umumnya. Pada th 2001 materi tari rondhing yang telah dibakukan tersebut ditetapkan sebagai tari unggulan Kabupaten Pamekasan melalui seminar dan lokakarya yang diadakan oleh Dikbud Kabupaten Pamekasan tgl 20 September 2001. Di samping itu tari rondhing dijadikan sebagai materi muatan lokal untuk diajarkan siswa dari tingkat SD sampai SMA. Selain itu diadakan pelatihan tari rondhing kepada para pelatih, guru seni maupun seniman sebagai bekal pengambangan dan pemasyarakatan tari rondhing baik melalui sekolah maupunsanggar-sanggar. Deskripsi: Tari rondhing merupakan kesenian tradisional drama komedi. Tarian ini menggambarkan tentang kegiatan barisan yang sedang melakukan demonstrasi uji coba baris-berbaris di bawah pimpinan ornas (badhut) di hadapan seorang kapten dan mayor. Kata rondhing dapat diartikan: 1)Berasal dari kata ro’-dhing artinya ikut suara dhing. Suara dhing adalah suara yang ditimbulkan oleh bunyi kendang sebagai pengiring musik yang dominan dan senantiasa berbunyi dhing, dhing, dhing 2)Ada yang berpendapat berasal dari kata rot-dhing, rot=nyorot (mundur), dhing=kot-kondhing (bertolak pinggang). Jadi rondhing berarti mundur sambil bertolak pinggang 3)Sumber lain mengatakan istilah rondhing dari bahasa Belanda Tarian ini juga disebut tari baris karena menggambarkan kegiatan baris-berbaris. Ada juga yang menyebut tari kenca’ yaitu gerakan hentakan kaki disertai dengan alat bunyi-bunyian pada pergelangan kaki yang disebut gongseng. Tari rondhing pada awalnya disajikan terutama sebagai acara pelengkap dalam pertunjukan kesenian sandiwara Madura Sandhur, setelah penyajian tari topeng gettak/topeng klonoan. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam pertunjukan rondhing adalah: (1) empat anak barisan (rondhing), (2) seorang ornas/badhut (pemimpin barisan), (3) seorang kapten dan istri dan anjing peliharaannya, (4) seorang mayor. Semua tokoh menampilkan atraksinya sesuai perannya dalam sebuah certa, berdialog disertai gerakan tari. Dalam perkembangannya tari rondhing menjadi tari lepas. Dalam tari lepas rondhing ada pembaharuan dalam ragam gerak yaitu: yang disebut : (1)Berka’jhitteng – posisi badan tegak, kedua kaki jinjit, tangan kanan lurus ke samping kanan memegang sapu tangan, tangan kiri di pinggang, lari trisik sambil memutar sapu tangan ; (2) Kojherran – sikap badan tegak kaki jinjit, tangan kanan lurus ke samping memegang sapou tangan, tangan kiru di pinggang. Hitungan 1-3 sapu tangan diputar, hitungan 4 sapu tangan dikibaskan ke samping atas, bersamaan dengan ujung kaki kanan dihentakkan di sebelah kaki kiri. Hitungan 5-6 sapu tangan dikibaskan ke bahu kiri bersamaan dengan kaki kanan dihentakkan di sebelah kaki kiri. Hitungan 7-8 sikap tanjak; (3) Kenca’manjheng. Sikap tanjak, hitungan 1-4 kedua tangan ukel silang ke arah kanan, kaki kanan (tumit) di hentak-hentakan arah pandang dan badan condong ke knan. Hitungan 5-8 gerakan ke arah kiri dengan hentakan kaki kanan tetap ; (4) Jhalan gaga’. Sikap badan tegakj/tegap, hitungan 7-8 kaki kanan melangkah maju tangan kanan ke samping dengan ibu jari menghadap ke bawah tangan kiri di pinggang kepala menoleh ke kanan. Hitungan 1-2 kaki kiri melangkah maju, tangan kanan ke depan dengan ibu jari mengarah ke bagian dada, tangan kiri di pinggang. Hitungan 3-4 sama dengan 7-8 dst; (5) Kenca’maju. Sikap badan tegak agak mendhak, bahu kanan datar ke samping lengan tegak, telapak tangan menghadap ke depan tangan kiri lurus ke samping dan pandangan ke depan. Hitungan 1-8 kaki kanan di hentak-hentakan (kenca’) sambil bergeser maju diikuti kaki kiri. Setiap hitungan genap ujung tangan kiri digerakan ke bawah-ke atas, kepala digerakan ke depan(lengguk); (6) Kenca’ nyorot. Sikap badan mendak agak condong ke depan, pandangan ke bawah, kedua tangan di pinggang. Hitungan 1-8 kaki kanan dihentak-hentakan sambil bergeser mundur diikuti kaki kiri, kepala digerakan ke kanan ke kiri. (7) Kenca’ ghibhes. Hitungan 1-8 kaki kanan di hentak-hentakan sambil bergeser serong kanan diikuti kaki kiri, tangan kanan mengibas-ngibaskan sapu tangan tangan kiri di pinggang. (8) Tok-sotok , kemudian (9) sembhaan, sembhaan I, II, (10) Kenca’ lembay, (11) Kenca’ nyerek’, (12) Kenca’ neter, (13) pencak, (14) permainan, I,II, III, IV, V , (15)Ngormat MUSIK Peralatan iringan berupa gamealn Sronen Kenong Tello, kendang/jidor, kempul 1 dan 6, gong besar/barang, kenong tello 6,5 dan 2 atau ditambah 1, balungan saron dan demong, sronen. Lagu/gendhing: sendhuan sramaan, jidor baris, sronen rondhing keras, olah kendang, kendhangan sembhaan, balung rondhing. BUSANA Ikat kepala, kalung (kace), baju hem lengan panjang, baju rompi, sabuk/ikat pinggang, celana tanggung, rape’ depan, belakang, samping, kaos kaki, bay-rambay/tanda pangkat, gongseng, sapu tangan, gelang