Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kerajinan Topeng: Jerajinan Wayang Golek |
Sejarah:
Jogja boleh diidentikkan dengan tempat segudang pengrajin dan seniman. Ada begitu banyak produk kerajinan dan kesenian di wilayah ini. Salah satunya adalah kerajinan topeng kayu yang berlokasi di Diro, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta (Jl. Bantul KM 7,5). Kerajinan topeng di kampung ini semula dipelopori oleh Warnowaskito pada tahun 1900-an. Kini kerajinan topeng ini dilanjutkan oleh trah Warnowaskito, khususnya Supana atau Ponowiguna (Ponowiguno adalah nama pemberian oleh Kraton Yogyakarta karena Supana merupakan abdi dalem Keraton Yogyakarta). Supana adalah cucu dari almarhum Warnowaskito.
Warnowaskito kecuali sebagai pengrajin topeng kayu juga berprofesi sebagai pengendang yang handal sekaligus pengamen tari topeng. Pada tahun-tahun 1900-an profesi sebagai pengamen tari topeng, ledek, lengger, jatilan, kethek ogleng, dan sebagainya masih merupakan sesuatu yang lumrah. Ngamen dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah mbarang.
Berdasarkan profesinya itu Warnowaskito kemudian begitu intens dengan tari topeng dan segala macam hal yang mengikutinya. Oleh karena itu pula ia paham benar soal karakter tokoh dalam tari topeng yang mengacu pada cerita Panji. Ia juga paham benar mewujudkan sepotong kayu menjadi sebuah topeng yang membentuk karakter tertentu dalam kisahan cerita panji. Berawal dari situlah Warnowaskito mulai menekuni membuat topeng sendiri.
Supana (53) semula hanya ikut-ikutan embahnya. Hal itu dilakukan di sela-sela waktu senggangnya. Apa yang dilakukan Supana ini lambat laun akhirnya menjadi kebiasaan atau kegiatan yang dicintainya. Supana pun akhirnya menguasai pembuatan topeng panji. Berbekal itu pulalah akhirnya Supana menekuni pembuatan topeng panji sebagai profesinya sekaligus sebagai pewaris tradisi dari embahnya, Warnowaskito. Selain menekuni Kerajinan topeng Supana juga ahli membuat kerajinan wayang golek.
Deskripsi:
Kerajinan topeng kayu merupakan kerajinan topeng dengan bahan dasar kayu. Kerajinan topeng kayu di wilayah Bantul berlokasi di Dusun Diro, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta (Jl. Bantul KM 7,5). Salah satu perajin topeng kayu yang ada di Dusun tersebut adalah Supana atau Ponowiguna. Keahlian Supana dalam membuat topeng merupakan keturunan dari embahnya dan dimulai sejak tahun 1971.
Proses pembuatan topeng:
a. Untuk membuat topeng dengan kualitas yang baik dipilih kayu jenis kayu yang mempunyai artistiknya tinggi, selain mudah didapatkan mudah pula dikerjakan. Yang paling memnuhi syarat untuk membuat topeng yang bagus adalah kayu jaranan, karena disamping ringan, liat, lunak juga tidak mudah dimakan bubuk. Bahan baku yang berupa kayu jaranan khusus didatangkan dari Purworejo. maka tidak melelahkan penarinya. Selain bahan baku yang berupa kayu juga kertas limbah. Sedangkan untuk membuat wayang diperlukan juga costum wayang. Untuk pewarnaan Supana menggunakan cat akrilik, di samping itu juga cat tradisional.
b. Alat yang diperlukan diantaranya gergaji, kapak, parang, pisau pangot, pahat ukir, bor dan kertas gosok.
c. Langkah kerja untuk membuat topeng yaitu
1. pertama kayu yang bergaris tengah 25-30 cm dipotong dengan panjang 18 cmdan tebal 17 cm.
2. Kemudian membuat global (bakalan) dengan cara ujungnya dibuat meruncing untuk menentukan letak dagu.
3. Selanjutnya untuk menentukan letak hidung, panjang kayu dibagi 3, bagian I dan III diturunkan 3 cm, kemudian dari lebar kayu diambil tengahnya 3 cm dan kedua sisinya diturunkan 3 cm, sedangkan untuk memnetukan letak mata, panjang kayu dibagi 2 sama panjang. Selanjunya bagian sebaliknya dikeruk dibuat batokan dengan kapak.
4. Mencari karakter yaitu dengan memperjelas letak mata, hidung, dan mulut. Kemudian mata dan mulutnya dipahat hingga tembus, selanjutnya kayu dikeringkan.
5. Pengeringan dengan cara diasap selama 2-3 minggu. Selanjutnya digosok dengan kertas gosok, selanjutnya dukir jamangnya (mahkotanya)
6. Tahap yang terakhir penyempurnaan karakter dan agar lebih awet yaitu dengan cara topeng dicat dengan tekhnik sungging.
Selain menekuni kerajinan topeng Supana juga menekuni pula kerajinan patung wayang golek. Karena Supana mencintai topeng dan wayang golek. Jika hal ini ia tinggalkan ia khawatir tradisi pembuatan topeng dan wayang golek akan hilang.
Hasil karya kerajinan topeng kayu banyak dimanfaatkan oleh penari, di samping itu juga sebagai koleksi oleh kolektor.