Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKetoprak Sandhur - Pamekasan, Jawa Timur
Sejarah: Kapan munculnya kesenian sandhur tidak diketahui secara pasti. Secara turun-temurun kesenian sandhur sejak dulu sudah ada dan hingga kini masih bisa dijumpai. Kesenian Sandur sebenarnya telah ada sejak lama. Dalam catatan sejarah seni tradisi, Kesenian Sandur pernah mengalami zaman keemasan. Pementasan kesenian Sandur digelar hampir di setiap pelosok di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kesenian sandur sendiri merupakan kesenian yang diperuntukkan sebagai ritual dalam menghadapi berbagai masalah atau kesulitan. Tapi juga kesenian tersebut kadang kala dilakukan sebagai ungkapan keberhasilan seperti pesta panen, dll. Namun seiring dengan pesatnya perkembangan zaman, terutama munculnya bentuk-bentuk kesenian modern yang lebih atraktif, maka kesenian Sandur pun ikut tergusur bahkan mungkin untuk generasi muda banyak yang tidak kenal sandur apalagi menyaksikan kesenian sandur ini kesenian ini saat ini menjadi langka. Para pemain sandhur pada waktu dulu biasanya setiap pemain dari penabuh Gamelan, Penari  hingga Pemeran Cerita (aktor) sudah dibekali dengan mantra-mantra yang tujuan nya adalah untuk memproteksi serangan dari pihak musuh-musuhnya, baik dengan orang-orang yang tidak suka dengan Kethoprak Sandur tersebut maupun penjajah belanda pada saat acara tersebut dipentaskan. Dengan demikian pementasan Kethoprak Sandur pada waktu itu, benar-benar diliputi dengan nuansa sakral. Maka tidaklah mengherankan apabila pada saat pementasan berlangsung, mampu memunculkan motivasi semangat juang melawan penjajahan Belanda juga memicu berkobar nya jiwa patriotisme dari para penontonnya. Seiring dari perkembangan jaman, ketika penjajah Belanda sudah hengkang dari Bumi Madura, Kethoprak Sandur sudah mulai bergeser dari nilai-nilai kesakralan dan heroismenya ke seni pertunjukan yang bersifat hiburan belaka. Hal ini dapat dimungkinkan karena mulai berkembangnya seni pertunjukan lain yang bersifat profan dengan berbagai alternatif penampilan. Dalam perjalanannya, Kethoprak Sandur kemudian sering diundang untuk dipentaskan ketempat-tempat orang yang diindikasikan memiliki ilmu kanuragan yang di kalangan orang Madura di sebut “Bajingan” (Madura: Orang yang memiliki ilmu beladiri yang tinggi, pengaruh besar, kaya yang terkadang bisa berbuat baik tetapi juga berbuat jahat ) sehingga citra Kethoprak Sandur menjadi bias dari eksistensi awal keberadaannya. Dalam perkembangannya, pada saat pementasan Kethoprak Sandur berlangsung, kadangkala terjadi keributan antara penonton yang berujung kematian akibat perkelahian massal dengan menggunakan senjata tajam Celurit yang dikenal dengan istilah “Carok” Nilai sakral dan heroisme Kethoprak Sandur juga mulai bergeser karena pada saat hajatan dengan pementasan Kethoprak Sandur tersebut tidak jarang pula muncul arena judi dan mabuk-mabukan yang berakhir pada perkelahian massal dan kematian.Setelah era 1980-an walaupun Kethoprak Sandur sudah jarang dipentaskan, namun ada juga yang mengundang untuk pementasan dalam acara hajatan tertentu seperti acara khitanan atau pernikahan misalnya, bahkan salah satu Tabbuhan(baca: iringan musik) dari Sandur saat ini sering juga digunakan untuk memberi semangat dan memeriahkan lomba Kerapan sape . Sandur juga terdapat di daerahlain, seperti Bojonegoro,Probolinggo, Pamekasan, Bangkalan, Jombang, Surabaya, Tuban dan Lamongan. Menurut pengamatan dewasa ini di daerah-daerah tsb hampir tidak pernah ada pementasan kesenian sandur. Tulisan diatas menyalin dari : Tembang Sandur Madurahttp://www.lontarmadura.com/tembang-kidung-sandur-madura/#ixzz2mCoUkhzQ Harap mencatumkan link sumber aktif Deskripsi: Kesenian Sandhur merupakan jenis kesenian rakyat yang sangat digemari di Pamekasan Madura, khususnya dikalangan masyarakat pedesaan.  Hampir di semua pelosok daerah Pamekasan mengenal kesenian Sandhur, terutama di wilayah kecamatan kota Pamekasan, Kecamatan Tlanakan, dan Kecamatan Proppo.Kesenian Sandhur merupakan salah satu jenis hiburan yang memasyarakat dan spesifik,  hal ini dapat dibuktikan dari keberadaan pertunjukan seni Sandhur pada setiap ada pesta perkawinan, khitanan ataupun hajatan lainnya.  Dalam pertunjukan Kesenian Sandhur, terdiri dari 4 macam sajian kesenian yang  membentuk satu repertoar penyajian  yaitu Pajuan (andhongan), Tarian Rondhing, Tari Topeng Klonoan/Getak, dan  Cerita semalam suntuk. Tari Topeng Getak merupakan salah satu tarian pembuka dalam suatu sajian Kesenian Sandhur. Kesenian sandhur berupa seni pertunjukan drama/sandiwara dengan menggunakan bahasa daerah dan iringan musik tradisional. Jenis kesenian ini serupa dengan kesenian ludruk di daerah Jawa Timur. Tempat pementasan berupa arena terbuka dan pada bagian belakang terdapat dekorasi khususu dengan lukisan realis dan pada dekorasi tersebut terdapat nama identitas group kesenian tersebut. Dekorasi tersebut dikenal dengan sebutan keller. Di bagian tengah dekorasi diberi tirai penutup yang disebut drapsen sebagai pembatas tampilan pemain. Pada saat pertunjukan akan dimulai drapsen yang terbuat dari kain digetar-getarkan sebagai pertanda akan dimulai. Pelaku kesenian berjumlah 20-30 orang yang terdiri dari pemeran cerita dan pemain gamelan atau najaga. Semua pemeran laki-laki, laki-laki yang berperan wanita disebut ne’-bine’an. Musik pengiringnya gamelan sederhana disebut tabbuwan kene’ (gamelan kecil) tabbuwan sronen, atau tabbuwan kennong tello’ (gamelan kenong tiga), gamelan lengkap disebut tabbuwan raja (gamelan besar) atau disebut klenangan. Para penari menggunakan gerak tari yang disebut tandang atau tandha’, nyanyian vokal yang disebut kejung dan gerak-gerak silat untuk mendukung ekspresi laku dramatisnya. Busana yang dikenakan berupa busana tradisi sesuai peran yang dibawakan. Lakon cerita yang lazim dipentaskan antara lain Pak Selor, Pak Sakera, Pak Truno, Pak Lerap, Semprong-Brudin, Pak Etem-Bu’Etem. Jakannya pertujukan yaitu: (1) penampilan juru penerangan yang menyampaikan pembukaan dengan tampilan khas yang menarik, (2) Penampilan tari topeng Gettak/topeng klonoan, (3) penampilan drama tari komedi Rondhing. Pertunjukan pokok yaitu pertunjukan drama/sandiwara dengan sajian cerita pilihan sutradara atau permintaan penanggap. Dalam tampilannya ada tembang yang isi syair pada tembang tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat diambil. Isi bait yang pertama adalah Unsur Pendidikan, pendidikan yang disampaikan kepada generasi penerusnya berisikan penanaman budi pekerti sejak dini. Lantunan syair-syair dalam pementasan Kethoprak Sandur, merupakan suatu metode bagaimana cara mengajarkan kepada generasi penerusnya agar menjadi orang baik,bukan menjadi pencuri atau dalam konteks yang lebih besar disebut “koruptor”. Kethoprak Sandur masih dijumpai di Kabupaten Pamekasan seperti di desa Kangean, Larangan Tokol atau Tlanakan, Nyelabuh dan Bugih sedangkan di Kabupaten lain seperti Bangkalan, Sampang (Ketapang)dan Sumenep diyakini juga ada.