Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kuda Lumping Brebes - Kab. Brebes, Jawa Tengah |
Sejarah:
Keberadaan Kuda Lumping terkait dengan epos Airlangga. Semasa pemerintahan Airlangga, banyak daerah yang ditaklukan. Epos mengenai Airlangga dan penaklukan digambarkan melalui bentuk kesenian semacam barongan, celengan, reog, dan sebagainya. Prabu Airlangga digambarkan sebagai Kalasuwandana. Di Kerajaaan Ngurawan diperintah Prabu Ami Seno. Beliau mempunyai dua anak yaitu Dyah Ayu Sangga Langit dan Raden Tubagus Putut. Hati Sang Prabu gundah karena putrinya Dyah Ayu tidak mau menikah namun berkeinginan menjadi seorang pertapa. Sang Prabu membujuk putrinya mau menikah, lama kelamaan hati Dyah Ayu melunak. Dyah Ayu mau menikah dengan syarat yaitu dalam pernikahan nanti ketika menaiki kuda tunggangan, sang pengantin laki-laki tidak diperbolehkan menyentuh tanah.
Sayembara dilakukan untuk mencari calon pengantin laki-laki. Kecantikan Dyah Ayu sudah terkenal sehingga banyak kaum lelaki baik dari kalangan bangsawan ataupun rakyat jelata mengikuti sayermbara. Sementara itu adik Dyah Ayu yang bernama Tubagus Putut mengembara dan mengabdikan dirinya di Kerajaan Bantar Angin yang dipimpin Prabu Kala Suwandana. Tubagus Putut diangkat menjadi patih dengan gelar Pujangga Anom. Kala Suwandana tidak mengentahui bahwa Pujangga Anom adalah saudara dari Dyah Ayu Sangga Langit. Pujangga Anom diperintahkan Prabu Kala Suwandana untuk melamar. Pujangga Anom agar tidak diketahui identitasanya menyamar dengan memakai topeng. Lamaran diterima. Guna mempersiapkan diri, Prabu Kala Suwandana bertapa. Dalam bertapa mendapat bisikan gaib yang memerintahkan mencari bambu, lempengan besi dan pecut Samandirman. Bambu digunakan untuk membuat mainan jaranan, sedangkan lempengan besi dibuat untuk kethuk, kenong, kempul, gong, ditambah terompet dan kendang. Terbentuklah kesenian jaranan lengkap dengan tetabuhan.
Berangkatlah Prabu Kala Suwandana ke kediaman calon pengantin putri. Kepergiannya diiringi para menteri dengan jaranan dan tetabuhan sebagai musik pengring. Sesampai di Kerajaan Ngurawan sudah ada pesiang lainnya, di antaranya Prabu Singa Mbarong dan Patih Singa Kumbang. Keduanya dikenal sebagai Singa Wraha dari Kerajaan Lodaya. Terjadilan pertempuran antara ketiganya, Prabu Kala Suwandana berhasil mengalahkan kedua pesaingnya. Prabu Singa Mbarong dan Singa Kumbang kalah terkena Pecut Samandirman. Keduanya oleh Prabu Kala Suwandana dijadikan barongan dan celengan dalam permainan jaranan. Permainan ini lama kelamaan menyebar.
Di Brebes jaranan bukan dibuat dari bambu, melainkan dari kulit kerbau yang dinamakan lumping sehingga dikenal sebagai kuda lumping. Kudanya berjumlah empat ditambah dengan belo (anak kuda). Dalam perkembangan sekarang kesenian kuda lumping diiringi dengan musik dangdutan, jaipong dangdut, dan musik genjringan.
Deskripsi:
-