Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kesenian Kuntulan Trengganom - Pemalang, Jawa Tengah |
Sejarah:
Kesenian ini mulai dikenal masyarakat Pemalang pada sekitar awal abad 20 yaitu pada saat di tanah air banyak muncul pergerakan kebangsaan. Tokoh-tokoh masyarakat Pemalang saat itu tak mau ketinggalan ikut dalam kancah perjuangan nasional. Dibentuklah perkumpulan bela diri, khususnya pencak silat. Kegiatan bela diri ini ketika itu selalu diiringi rebana dan pukulan bedug serta dikumandangkan pula doa-doa salawat Nabi Muhammad SAW sehingga terkesan sebagai kegiatan kesenian dan keagamaan. Setelah kemerdekaan kegiatan ini yang kemudian dikenalkan dengan nama kuntulan tetap berlangsung dan berubah dari alat perjuangan menjadi sarana hiburan. Kesenian ini biasanya dipentaskan para acara peringatan hari besar nasional, hajatan atau pun menyambut tamu resmi. Kesenian kuntulan tampak menarik karena memadukan jurus-jurus bela diri yang nampak artistik, demonstrasi akrobatik dan keindahan musik rebana dan bedug.
Deskripsi:
Pemain Trengganom ada sekitar 40 orang dengan perincian: 10 orang sebagai pemain musik dan vokalis, sedangkan yang 30 orang menjadi penari. Kostum pemain terdiri dan peci yang diberi hiasan (kertep), baju atau kaos lengan pendek, celana pendek dan kaos kaki panjang. Pemain yang ada di paling depan dan belakang memakai kacamata. Tarian yang ditampilkan mengambil gerakan jurus-jurus dan pencak silat dan dilakukan secara spontan menurut irama musik. Ketika menari posisi kaki pemain kadang-kadang terbuka, kadang-kadang tertutup, sedangkan posisi lengan rata-rata sedang. Vokal disampaikan dalam bentuk nyanyian berbahasa Arab. Adapun alat musik yang dipakai adalah 3 buah terbang dan 1 (satu) jedor, ditambah seruling dan harmonika. Pemegang instrumen musik umumnya merangkap vokalis. Selain itu juga masih ada vokalis khusus. Letak pemain alat musik bebas, tidak terikat kepada pemain, apakah harus di depan, di belakang ataupun di samping. Para pemain tidak memakai rias muka. Pertunjukan kesenian ini biasanya diselenggarakan dengan menggunakan halaman rumah penduduk ataupun halaman masjid pada malam hari dan memerlukan waktu 4 sampai 5 jam, mulai dari jam 20.00 hingga jam 01.00. Alat penerangan adalah lampu listrik, lampu petromak atau lampu gembreng atau gantung di zaman dahulu.