Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kesenian Tradisional Rebana/Rebana Solawat Ainama - Pekalongan, Jawa Tengah |
Sejarah : Kesenian Robana Sholawat Ainama diciptakan Kyai Khudhori Musyrab dari Desa Kertijayan, kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. Latarbelakang terciptanya Kesenian Rebana Sholawat Ainama karena pengalaman Kyai Khudhori yang selama pendidikan di Jawa Timur banyak dijumpai pertunjukan sholawat dengan iringan instrumen dan ketika melihat pertunjukan sholawat di Aceh. Para santri di lingkungan madrasah yang dipimpinnya kurang aktif bersholawat. Kedua hal tersebut menginspirasi Kyai Khudhori untuk menciptakan Kesenian Rebana Sholawat Ainama. Rebana berasal dari kata Robbana yang berarti Tuhan kami. Sholawat berarti kumpulan doa kepada Allah SWT untuk keselamatan Nabi Muhammad SAW. Ainama berasal dari kata aina dan ma. Ainama berarti dimana saja. Maksudnya Kesenian Rebana Sholawat Ainama mampu menenpatkan diri di manapun dan berkenan di hati masyarakat siapa pun juga.
Deskripsi : Kesenian sholawatan merupakan bentuk seni yang diekspresikan pemeluk agama islam pada saat membaca kalimat sholawat. Kesenian Rebana Sholawat Ainama berfungsi sebagai pengiring kirab khitanan atau pengantin, dan juga sebagai seni pertunjukan pada saat acara khitanan, pernikahan, dan peringatan hari besar Islam. Unsur-unsur yang terdapat di dalam Kesenian Rebana Sholawat Ainama adalah s eni vokal, musik, dan tari. Kalimat sholawat yang dibaca bersumber dari kalimat sholawat yang sudah ada, kecuali pada bagian pembuka dan penutup merupakan kalimat yang disusun oleh pencipta.
Jumlah seniman pendukung Kesenian Rebana Sholawat terdiri dari rois (pemimpin jalannya pertunjukan) satu orang, pemusik/pentrebang (pemain trebang) sebanyak 4 atau 8 orang , dan leyek (penari) kurang lebih 16 orang dengan posisi saling berhadapan. Apabila kelebihan pemain, bisa membantu leyek dalam bidang vokal. Seniman Kesenian Rebana Sholawat Ainama kesemuanya pria yang merupakan santri dari Kyai Dzakiron.
Pementasan Kesenian Rebana Sholawat Ainama selama kurang lebih 3 jam, namun bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Waktu penyajian bisa pagi, sore, dan malam hari. Penyajian dapat dilakukan secara menetap atau berjalan. Bentuk penyajian secara menetap dilakukan di tempat pentas, baik panggung maupun tempat khusus yang telah disediakan. Sedangkan dilakukan secara berjalan atau parade, kirab pada acara khitanan dan pernikahan.
Busana yang dikenakan saat pentas adalah baju jawan putih. Pakaian bagian bawah berupa sarung dengan motif kotak-kotak atau sering disebut sarung palekat. Kepala memakai kupluk (tutup kepala) berwarna putih yang bentuknya melingkar agak tinggi. Tata rias hanya menggunakan pensil alis sebagai penghitam garis bawah mata dan memakai parfum.
Alat musik yang digunakan dalam Kesenian Rebana Sholawat Ainama berupa rebana (terbang). Terbang yang digunakan umumnya 4 buah, namun bisa juga 8 buah (dua set). Masing-masing rebana dalam satu set memiliki suara yang sama, sebab bentuk, jenis dan ukurannya sama. Suara yang dihasilkan berbeda karena perbedaan tehnik memainkannya. Semua leyek harus ikut membaca kalimat sholawat dalam melakukan gerakannya, juga pendukung yang lain. Penerbang tidak harus membaca sholawat karena harus konsentrasi untuk memainkan terbang. Namun, ketika berhenti memainkan terbang mereka membaca sholawat.
Secara garis besar bentuk kesenian tersebut terdiri dari: duduk timpuh, duduk seperti silantoyo dalam ragam gerak tari Jawa, berdiri tumpuan dua lutut, berdiri tegak tangan ngapurancang, tangan tengadah, sujud, tangan di depan mulut, dan kepala nyeklek. Adapun urut-urutan gerak tari Sholawat Ainama terdiri dari 33 urutan yaitu: Nahnu lau Kunna, Assalamu Laik, Assalamu ala Muqodam, Assalamu ala Kholifah, Yabarq, Illahi Nasaluk, Wulidal Khabib, Baena Katifa, Asholatu ala Nabi, Nahnu lau Kunna II, Sholla Robbuna, Yaman qod Khador, Sholli ya Robbi, Sholatu Minalloh, Asholatu Taghsy, Allahu Allah, Adzbul Maani, Allah-Allah, Alaya,Likhamsati, Lailahailallah, Wakhidil, Markhaban, Ya Robbana, nahnu lau Kunna III, Yaman Awadu, Ya Alim Bilkhal, Ya Khayu ya Qayum, Tholabna, Khoiru man, Nahnu lau Kunna IV, Ya Robbana ya Karim, Ayuhan Ihwa. Urutan tersebut harus dilakukan secara runtut, tidak boleh dibolak-balik antara satu gerakan dengan gerakan lainnya.