Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKesenian Brendung - Pemalang, Jawa Tengah
Sejarah: Seni tradisi Brendung merupakan kebudayaan turun-temurun dari nenek moyang asli Suku Kaso. Dimana tradisi ini dimunculkan ke tengah-tengah masyarakat, sebagai perwujudan ungkapan rasa syukur pada Tuhan, atas berkah, limpah rezeki dan keselamatan dalam menjalani hidup. Biasanya kesenian Brendung dipertunjukkan selepas panen padi. Bukan hanya pada saat mendapatkan keberkahan, kesenian Brendung juga dipertunjukkan manakala warganya menghadapi masa-masa sulit atau paceklik. Seperti adanya musim kemarau berkepanjangan, Brendung akan keluar untuk meminta "kesediaan" Tuhan untuk menurunkan hujan. Seni Brendung kini kerap dipertunjukkan saat Suku Kaso mempunyai pekerjaan besar, yakni untuk menyambut kedatangan para tamu besar dari luar yang berkunjung ke desa Deskripsi: Sebelum pertunjukkan, Brendung yang terbuat dari batok kelapa,rangka tubuh dari bambu, berjilbab dan berbalutkan baju, terlebih dahulu harus ditaruh di tempat-tempat angker tertentu yang ada di Desa Sarwodadi sebagai bentuk penjamasan.Dengan tujuan,nantinya roh yang merasukinya akan menunjukkan eksistensinya dalam boneka Brendung yang telah dihiasi sedemikian rupa hingga menyerupai manusia. Dimana untuk persiapan ini, setidaknya memakan waktu tiga hari, mulai Rabu Pon, Kamis Wage, hingga hari terakhir pada Jumat Kliwon. Mengiringi pertunjukan Brendung, berbagai kelengkapan seperti kembang telon, lantunan lagu-lagu Jawa, tabuhan bumbung pring (bambu), buyung, dan penampi, akan membuat Brendung " tersenyum" kegirangan. Hal ini ditunjukkan dengan keinginannya untuk terus menari-nari. Brendung ingin melepaskan diri agar bisa menari dihadapan orang banyak. Bagi masyarakat yang ragu, Kepala Suku menyarankan untuk mencobanya sendiri dengan memegang. Karena dalam pertunjukkannya, Seni Brendung digelar secara umum bagi masyarakat.