Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kesenian Tradisional Sintren - Pekalongan, Jawa Tengah |
Sejarah : Kesenian Sintren merupakan bagian dari kelengkapan upacara ritual bersih desa, kesuburan tanah, sedekah laut dan tolak bala wabah penyakit. Latar belakang timbulnya kesenian Sintren adalah legenda atau cerita rakyat Jaka Bahu atau Bahurekso. Legenda ini mengkisahkan percintaan antara Sulasih (seorang gadis Desa Kalisalak) dengan Raden Sulandono. Raden Sulandono adalah putra seorang Bupati di Mataram, yaitu Joko Bahu atau Bahurekso dengan ibu bernama Rr.Rantamsari. Percintaan keduanya tidak mendapat restu orang tua Raden Sulandono dan ditentang pemuda yang menaruh hati pada Sulasih. Pada suatu ketika kedua orang tua R.Sulandono meninggal muksa.
Percintaan Sulasih dan R.Sulandono sepeninggal muksanya kedua orang tua R.Sulandono tetap ditentang para pemuda yang menaruh hati pada Sulasih. Sukma Rr.Rantamsari menyarankan kepada R.Sulandono untuk mengindari pertentangan dengan para pemuda untuk pergi bertapa di hutan. R.Sulandono diberi sapu tangan oleh Rr.Rantamsari untuk bisa bertemu Sulasih sekembalinya dari bertapa. Sedangkan Sulasih apabila ingin bertemu dengan R.Sulandono, maka harus menjadi penari pada upacara bersih desa. Pada saat Sulasih menari Rr.Rantamsari akan menyatu dengan Sulasih (nyurupi).
Saat bulan purnama dalam upacara bersih desa, diadakan berbagai macam pertunjukan, Rr.Rantamsari membangunkan R.Sulandono yang sedang bertapa untuk mendatangi pertunjukan tersebut. R.Sulandono secara sembunyi datang ke keramaian tersebut. Sulasih yang kesurupan roh Rr.Rantamsari menari dengan gemulai. R.Sulandono mendekati Sulasih dan melempar sapu tangan pemberian ibunya. Sulasih pingsan setelah terkena lemparan sapu tangan. R.Sulandono kemudian membawa lari Sulasih. Keduanya kemudian menikah dan hidup berbahagia.
Tarian yang dibawakan Sulasih yang kemasukan roh Rr.Rantamsari kemudian disebut tari Sintren. Sedangkan saat R.Sulandono melempar sapu tangan disebut balangan. Disamping legenda tersebut, keberadaan tari Sintren dilatarbelakangi kisah percintaan antara Rr.Rantamsari dan Ki Joko Bahu yang tidak direstui oleh Sultan Agung, raja Mataram. Sultan Agung berkeinginan mengambil Rr.Rantamsari sebagai permaisuri. Dalam upaya memisahkan keduanya, Ki Joko Bahu diangkat menjadi senapati untuk menyerang Batavia. Nama Ki Joko bahu diubah menjadi Ki Bahurekso. Sebelum pergi ke Batavia, Ki Bahurekso memberikan sapu tangan kepada Rr.Rantamsari sebagai tanda tali asih. Ki Bahurekso gugur dalam pertempuran dengan VOC di Batavia. Rr.Rantamsari mencari keberadaan Ki Bahurekso ke Batavia dengan menelusuri wilayah pantai utara. Rr.Rantamsari menyamar sebagai penari Sintren bernama Dewi Sulasih. Berbekal bantuan sapu tangan pemberian Ki Bahurekso, Dewi Rantamsari dapat bertemu Ki Bahurekso yang masih hidup. Kegagalan menyerang Batavia, Ki Bahurekso tidak berani kembali ke Mataram. Ia bersama Rr.Rantamsari ke Pekalongan untuk bertapa guna menambah kesaktian dan kekuatan yang akan digunakan untuk menyerang Batavia. Ki Bahurekso dan Rr.Rantamsari ketika bertapa keduanya muksa.
Deskripsi : Sintren dipertunjukan untuk keperluan upacara ritual seperti bersih desa, sedekah laut, tolak bala, nazar, dan ruwatan. Dipakai juga untuk memeriahkan pernikahan dan peringatan hari kemerdekaan. Pertunjukan Sintren terdiri dari: pawang satu orang bisa laki-laki atau perempuan, penari sintren satu orang yaitu remaja putri yang masih gadis, dayang/cantrik berjumlah 4-10 orang, pengiring berjumlah 3-10 orang. Tempat pertunjukan di arena terbuka, tidak terlihat batas antara penonton dan penari Sintren. Pakaian atau busana yang dikenakan penari Sintren dahulu berupa atasan kebaya dengan berjarir. Masa sekarang menggunakan busana penari golek dan berjarit. Penari Sintren memakai kaos kaki hitam dan putih dan berkacamata hitam. Kacamata dimaksudkan sebagai mempercantik penampilan dan penutup mata yang terpenjam selama menari karena intrance (kerasukan).Pertunjukan Sintren dahulu saat bulan purnama terutama malam Kliwon, namun sekarang bisa dipertunjukan siang atau malam hari tanpa batasan hari. Peralatan yang dipergunakan dalam penyajian kesenian Sintren adalah: kurungan atau sangkar, kursi, tampah dan nampan, anglo, dupa atau kemenyan, bunga tiga macam, piring, lilin, keris atau pedang.
Urutan penyajian Sintren sebagai berikut:
1. Pra Pertunjukan
Saat mulai, ditabuhnya gamelan sebagai tanda akan dimulainya pertunjukan kesenian Sintren dan dimaksudkan untuk mengumpulkan massa.
2. Dupan
Berdoa bersama-sama dengan membakar kemenyan dengan tujuan memohon perlindungan kepada Tuhan agar selama pertunjukan bisa selamat.
3. Menjadikan Sintren
Pawang membawa calon penari Sintren ke arena kemudian tubuhnya dililit tali. Calon penari dimasukan ke kurungan bersama busana sintren dan perlengkapan merias wajah. Beberapa saat kemudian, sintren sudah berdandan dalam keadaan terikat tali. Sintren dimasukan ke kurungan lagi. Adanya tanda kurungan bergetar atau bergoyang merupakan isyarat sintren sudah siap. Kemudian kurungan dibuka, sintren sudah lepas ikatan talinya dan siap menari. Selain menari, sintren melakukan pertunjukan akrobatik. Selama pertunjukan sintren berlangsung, pembakaran kemenyan harus terus dilakukan.
4. Balangan dan Temohan
Balangan yaitu penari Sintren sedang menari maka dari arah penonton ada yang melempar (mbalang) sesuatu ke arah penari, yang mana setiap dilempar penari akan pingsan. Pawang akan menggunakan mantra dan diasapi kemenyan agar roh bidadari datang lagi sehingga sintren melakukan tarian lagi. Temohoan adalah penari Sintren dengan tampah/nyiru/nampan mendekati penonton untuk meminta tanda terima kasih berupa uang seikhlasnya.
5. Paripurna.
Penari dimasukan ke dalam kurungan yang sudah ada pakaian biasa. Pawang membawa anglo berisi bakaran kemenyan mengelilingi kurungan sambil membaca mantra, sampai busana sintren dikeluarkan. Ketika dibuka penari sudah berpakaian biasa dalam keadaan tidak sadar. Kemudian penari tersebut disadarkan oleh pawang.