Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaSeni Musik : Terbang Kencer - Pemalang, Jawa Tengah
Sejarah: Ada dua versi yang berkenaan dengan asal-usul terbang kencer. Versi pertama adalah yang mengatakan bahwa terbang kencer berasal dari suatu daerah yang ada di Jawa Timur. Versi ini sangat erat kaitannya dengan seorang yang bernama Gari (almarhum). Konon, ketika ia masih muda memperdalam agama Islam (mengaji) ke sebuah pesantren yang ada di daerah Jombang (Jawa Timur). Ternyata ia di sana bukannya memperdalam ajaran-ajaran agama Islam, tetapi mempelajari kesenian terbang, sehingga yang diperoleh bukannya ilmu agama tetapi ilmu suatu kesenian yang kemudian disebut sebagai terbang kencer. Ilmu kesenian yang dipelajari dan dikuasai itu kemudian diajarkan kepada para pemuda yang ada di desanya. Salah satu diantaranya adalah Yasin. Ia juga pernah memperdalam agama Islam di pesantren Kaliwungu (dekat dengan kota Semarang). Di sana ia sempat belajar selama 3 tahun. Ia adalah seorang pemuda yang aktif dalam berbagai kegiatan, baik yang menyangkut politik, agama, maupun kebudayaan (kesenian). Dalam bidang politik ia bergabung dengan partai Nahdatul Ulama (NU) dan terdaftar sebagai Pemuda Ansor dan Barisan Serbaguna (Banser). Dalam kesenian ia pernah membentuk suatu organisasi kesenian yang disebut samproh, yaitu suatu kesenian yang ketika itu hanya membutuhkan peralatan: gambus (semacam gitar yang bagian perutnya mengelembung menyerupai kura-kura), piyul (biola), gendang, dan tamburin (kecrek). Yasin merupakan ketua terbang kencer yang ada di Kelurahan Beji. Ini artinya, terbang kencer yang ada di kelurahan tersebut berasal dari suatu daerah yang berada di Jawa Timur (Jombang). Versi lain mengatakan bahwa terbang kencer berasal dari desa tetangga (Wanarejan), sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang guru terbang yang berasal dari Keluarahan Beji, yaitu Kambali. Berbeda dengan Yasin, ia belajar terbang kencer bukan pada guru terbang yang ada di desanya, tetapi guru yang ada di lain desa lainnya (Wanarejan) yang bernama Kurdi. Di masa lalu perlatan terbang kencer hanya sejumlah terbang (4 buah). Kemudian, biar kelihatan lebih semarak ditambah dengan bedug, khususnya ketika arak-arakan. Bedug tersebut diboncengkan sepeda karena ukurannya lebih besar (kurang lebih garis tengahnya 60 centimeter), sehingga jika dibawa dengan tangan relatif berat. Jadi, ada orang yang menuntun sepeda dan ada orang yang berperan sebagai penabuh. Dewasa ini bedug tersebut telah diganti bedug drumband. Alasannya adalah disamping praktis membawanya (tidak perlu dengan sepeda), tetapi biar kelihatan lebih canggih (modern). Deskripsi: Pemain terbang kencer minimal berjumlah 4 orang. Jumlah ini ada kaitannya dengan peranan pemain dalam kesenian terbang kencer itu sendiri. Dalam konteks ini ada yang berperan sebagai: telon, banggen, kapat, dan pajek. Masing-masing mangkon terbang tersendiri. Oleh karena itu, dalam suatu pelatihan atau petunjukkan yang hanya dilakukan oleh 4 orang pemain disebut sepangkon. Demikian juga terbang-nya yang berjumlah 4 buah itu disebut terbang sepangkon. Disebut demikian karena pada saat terbang itu tidak dibunyikan (ditabuh dengan telapak tangan), ia ditaruh di atas pangkuan. Group kesenian terbang kencer Keluarahan Beji memiliki 8 buah terbang (rong pangkon). Jika dalam suatu pelatihan dan atau pergelaran ke-8 terbang tersebut digunakan, maka disebut rong pangkon. Meskipun pemainnya ada 8 orang bukan berarti bahwa ketukan yang dilakukan oleh setiap orang berbeda, tetapi sama seperti sepangkon. Jadi, setiap peran dilakukan oleh 2 orang (telon, banggen, kapat, dan pajeg dilakukan oleh 2 orang pemain). Selain pengetuk terbang, ada 3 orang lagi yang berperan sebagai penjawab (pelantun lagu) dan sekaligus ebagai pengganti jika ada salah seorang pengetuk terbang yang karena satu dan lain hal harus diganti (capai misalnya). Lagu-lagu yang dilantunkan bersumber pada kitab Barzanji yang berbahasa Arab. Dengan demikian, secara keseluruhan jumlah pemainnya ada 11 orang. Rangkaian dan ketukan antarpemain yang berbeda itu pada gilirannya membuat satuan bunyi yang khas. Bunyi ini tidak akan terwujud jika ada ketukan yang tidak pas (keliru). Untuk itu, setiap pemain harus betul-betul menguasainya. Kostum yang dikenakan oleh para pemain dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Di masa lalu mereka berkemeja putih, bersarung palekat, berjas dan berkopiah (pecis). Kemudian, pernah juga mereka berkemeja, bersarung byur1 dan berkopiah (pecis). Sekarang mereka berbaju muslim (tanpa leher), bersarung byur dan tetap berkopiah. Alasannya adalah lebih leluasa dan praktis.Dewasa ini Perkumpulan terbang Beji yang dipimpin oleh Yasin memiliki 6 stel seragam yang warnanya berbeda-beda. Dengan demikian, dalam setiap kesempatan (pementasan) bisa menampilkan seragan dengan warna yang berbeda dari pementasan sebelumnya.Terbang kencer tidak membutuhkan tempat atau ruangan yang luas serta panggung. Ia bisa dilakukan di lantai ruang tamu yang dialasi dengan tikar, bahkan bisa cukup dimainkan dengan berjalan. Pemain terbang kencer terdiri atas pemain yang berperan sebagai: telon, banggen, kapat, dan pajek. Telon (bahasa Jawa) berarti “tiga”. Pemeran telon menjadi sangat penting karena ketukannya menjadi pembuka dalam penerbangan. Ketukan tersebut disusul dengan ketukan pemegang banggen, lalu kapat dan diikuti dengan pajek. Pajek dalam suatu permainan terbang kencer dapat dikatakan hanya sebagai pelengkap. Dalam konteks ini ia hanya mengikuti akhir dari rangkain bunyi yang dihasilkan oleh pemegang telon, banggen, dan kapat. Jadi, jika akhiran itu berbunyi “tong”, maka ia akan “mengetong”. Demikian juga jika akhiran itu berbunyi “ding”, maka ia akan “mengeding”. Oleh karena itu, di kalangan penerbang ada semacam guyon (gurauan) bahwa pemajeg diibaratkan sebagai “anak bawang” karena tanpa pajeg permainan terbang kencer tetap berjalan. Hanya saja kumandang-nya (gema bunyi terbang) tidak sempurna. Selain itu, biasanya para penerbang berusaha untuk menguasai berbagai ketukan terbang, baik itu telon, banggen, maupun kapat, termasuk para pemain lainnya yang berperan sebagai penjawab (pelantun lagu-lagu pengiring).