Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Tradisional Pesta Giling Tebu PG.Sragi/Upacara Penganten Tebu - Pekalongan, Jawa Tengah
Sejarah : Upacara tradisional Pesta Giling Tebu di Pabrik Gula (PG) Sragi mulai dilaksanakan tidak ada data yang pasti. Ada dua sumber yang menyebutkan mengenai kapan upacara tersebut dilaksanakan, sumber pertama menyebutkan semenjak pabrik tersebur berdiri dan dioperasikan. Sumber kedua sejak tahun 1928. Pabrik Gula Sragi didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sebagai bagian dari politik Tanam Paksa (culture stelsel). Sesuai namanya letak PG.Sragi di Kalurahan Sragi, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan. Menurut sumber yang didapat, pimpinan PG Sragi yang yang didapat semenjak Mr.Machler. Mr.Machler memimpin PG.Sragi selama 11 tahun dari tahun 1928 sampai 1939. Pemimpin PG.Sragi selanjutnya adalah Mr.Havlar (1939-1942). PG.Sragi dalam menunjang aktivitasnya sudah memiliki 6 unit loko, buatan Jerman. Upah harian pegawai PG.Sragi sebesar 15 sen. Uang sebesar itu bisa dibelikan 6 kg gula pasir. Tahun 1942, masuknya tentara Jepang ke Indonesia, pengelolaan PG.Sragi diambil alih Jepang. Kurangnya pengalaman dalam pengelolaan pabrik gula, aktivitas PG.Sragi dihentikan. Pegawai diberhentikan. Pabrik dialihfungsikan menjadi tempat membuat semen odol, yaitu semen yang terbuat dari tanah liat dicampur kapur. Setelah diproklamasikannya Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, PG.Sragi dikuasai bangsa Indonesia. Pimpinan PG.Sragi adalah Sri Pamekas dari Solo. Pada tahun 1957, PG.Sragi berstatus Perusahaan Negara. Perkembangan politik, ekonomi, dan sosial menimbulkan restrukturasi PG.Sragi. Sejak tahun 2000, PG.Sragi menjadi satu unit kerja dari BUMN, yaitu PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) beserta tujuh pabrik gula lainnya di Jawa Tengah. Lahan kebun tebu yang dimiliki PG.Sragi seluas 6.390 Ha. Tebu yang dipanen sebelum digiling terlebih dahulu diadakan upacara pesta giling tebu. Upacara Tradisional Pesta Giling Tebu dilakukan oleh pihak pengelola pabrik gula adalah tradisi baru yang diciptakan Pemerintah Kolonial belanda sebagai upaya meredam potensi pemberontakan kaum tani di Jawa, sebagai implikasi Politik Tanam Paksa. Hasil pertanian dan perkebunan merupakan komoditas ekspor yang potensial dalam perdagangan internasional. Hasil perdagangan tersebut merupakan income yang besar bagi Belanda. Penyelenggaraan pesta penggilingan tebu sebagai bagian dari proses produksi merupakan bagian dari Politik Etis. Upacara dilakukan guna memberi hiburan sekaligus ucapan terima kasih kepada petani tebu dan masyarakat di sekitar lokasi pabrik. Alasan tersebut kemudian dipadukan dengan adat istiadat dan tradisi Jawa yang meyakini bahwa apabila hendak melakukan suatu pekerjaan skala besar, yang melibatkan banyak orang harus diawali dengan upacara selamatan sekaligus syukuran. Upacara tradisional pesta giling tebu di PG.Sragi masa sekarang ini dimaksudkan agar seluruh karyawan PG.Sragi tidak mengalami musibah atau kecelakaan selama proses penggilingan tebu dilakukan. Dimaksudkan juga sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas panen tebu yang berhasil baik dan tidak diserang hama. Deskripsi : Upacara Tradisional Pesta Giling Tebu di PG.Sragi atau Upacara Pengantin Tebu merupakan upacara yang diselenggarakan dalam rangka memetik tebu (memanen tebu) sebagai bahan baku industri gula dan untuk mengawali proses penggilingan tebu. Dalam Upacara Pengantin Tebu yang dianggap sebagai pengantin adalah dua batang (sepasang) batang tebu terpilih yang akan digunakan sebagai awal dimulainya prosesi musim giling tebu. Tujuan upacara sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena diberkahi panen tebu yang melimpah dan permohonan agar panenan mendatang semakin baik serta terhindar dari hama tanaman. Selain itu sebagai permohonan keselamatan di awal proses penggilingan tebu menjadi gula agar tidak terjadi musibah atau kecelakaan. Upacara Pesta Giling Tebu PG.Sragi diselenggarakan setiap setahun sekali, yaitu pada awal musim panen tebu. Tepatnya kapan hari H-nya bisa berbeda tergantung perhitungan ahli spiritual atau ilmu ghaib. Mula-mula, sekitar bulan April, tebu diambil dari ladang secara acak, untuk mengetahui siap dipanen atau belum.Seorang mantri bertugas memeriksa tanaman tersebut. Apabila tebu sudah siap dipanen, pihak PG.Sragi mengadakan arapat dan berkonsultasi dengan seorang ahli spiritual. Ahli spiritual segera meminta petunjuk dari Tuhan dengan cara menyepi. Setelah mendapatkan tanda, ahli spiritual menghitung dan menetapkan hari dimulainya upacara. Ditetapkan pula lokasi lahan tebu yang akan diambil sebagai calon temanten tebu. Biasanya menurut kalender nasional pada bulan April – Mei. Di antara bulan tersebut dicari hari rangkap manis (menurut kalender Jawa). Pada hari tersebut merupakan hari paling baik bagi dimulainya penggilingan tebu sehingga menghasilkan gula tebu manis. Adapun waktu puncak acara dilaksanakan pada jam 08.00 wib. Tempat pelaksanaan upacara dipusatkan di kompleks PG.Sragi. Persiapan upacara sudah dimulai sekitar satu bulan sebelum puncak upacara. Sehari menjelang Pesta Giling Tebu, seorang ahli spiritual, mantri tanaman, beberapa mandor, dan karyawan PG.Sragi mengambil dua batang tebu sebagai pasangan temanten tebu. Selain itu diambil sekitar 15-20 batang tebu lain yang akan digunakan sebagai pengiring temanten tebu. Semua tebu tersebut harus diambil dari areal lahan yang berada di sebelah utara rel kereta api. Pasangan calon temanten dan pengiringnya kemudian diarak ke tempat transit yaitu di Kantor Tebang/Angkut diiringi kesenian tradisional. Tebu-tebu lalu dibersihkan, dikenakan pakaian, dirias dan diberi nama untuk dipersiapkan sebagai pusat perhatian pada puncak acara keesokan harinya. Semalam calon temanten tebu dan tebu pengiring diinapkan di Kantor Tebang/Angkut. Dalam waktu yang sama, dipersiapkan sepasang pengantin yang terbuat dari bahan glepung, yang dinamakan Penganten Glepung. Kesakralannya menjadikan proses pembuatan dilakukan dengan ritual oleh orang tertentu yang mampu. Bahan glepung terbuat dari beras yang pulen, kurang lebih 20 kg. Beras digiling halus, lalu dikukus, diremas-remas, diuleni dengan alat kayu sampai matang. Glepung yang sudah matang dituang di atas tampah, diuleni lagi sampai pulen, kemudian didinginkan. Dipersiapkan 4 buah pepaya matang guna membuat kerangka kepala dan membentuk perut pengantin. Buah pepaya dirangkai dengan bambu, kemudian dibalut glepung yang sudah pulen tersebut sampai rata dan membentuk tubuh manusia lengkap dengan kepala, telinga, hidung, mulut, mata, leher, tangan, dada, dan kaki dalam posisi duduk. Di dalam buah pepaya sebagai pembentuk perut pengantin glepung diisi kinco (gula jawa yang dicairkan) sebagai simbol darah. Pasangan calon penganten glepung dikenakan pakaian layaknya pasangan pengantin yang akan naik ke pelaminan. Kedua calon pengantin tebu dan glepung berjalan beriringan menuju kompleks PG.Sragi. Teriring doa, kedua pasangan pengantin tersebut dimasukan ke mesin penggilingan tebu.