Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKliwonan - Batang, Jawa Tengah
Sejarah: Tradisi Kliwonan pada masa itu bermula ketika pada jaman pemerintahan Sultan Agung di Kerajaan Mataram, Batang dahulu masih berupa hutan-hutan besar dan luas yang disebut Alas Roban. Di Alas Roban ini ada sekelompok perampok yang sangat berbahaya dan selalu meresahkan masyarakat setempat, kadang juga mengganggu orang-orang yang lewat di daerah tersebut. Sultan Agung dalam upaya memperluas wilayah Kerajaan Mataram, memerintahkan seorang punggawa kerajaannya yang sakti bernama Ki Ageng Cempaluk dengan menebang hutan Alas Roban dan sekaligus memusnahkan para perampok di hutan tersebut. Alas Roban ini nantinya akan dijadikan lahan persawahan yang selain untuk pertanian bagi masyarakat, juga untuk mencukupi kebutuhan bahan makanan bagi prajurit Mataram yang sedang berperang melawan Belanda (Buku Kumpulan Cerita di Kabupaten Batang, tidak diterbitkan 1984). Punggawa kerajaan yang telah mendapatkan perintah dari Sultan Agung tersebut kemudian memerintahkan anak buah sekaligus muridnya yang bernama Joko Bahu atau Bahurekso. Pelaksanaan tugas dimulai dengan penebangan hutan, dan pembuatan bendungan di sungai Lojahan. Bendungan di sungai Lojahan tersebut digunakan untuk mengairi persawahan di daerah tersebut. Tetapi dalam melaksanakan tugas tersebut Bahurekso mendapat perlawanan dari perampok. Pertempuran sama-sama kuatnya di kedua belah pihak dan tidak ada yang terkalahkan. Tapi dengan perlawanan yang kuat, akhirnya Bahurekso berhasil mengalahkan para perampok tersebut . Setelah perlawanan Bahurekso selesai kemudian mulai melanjutkan penebangan hutan dan dilakukan dari arah timur yaitu mulai daerah Subah ke Barat hingga ke Sungai Lojahan. Di Sungai tersebut kemudian dibangun sebuah bendungan yang digunakan untuk menampung dan mengalirkan air sungai tersebut ke daerah yang baru saja ditebang pohonnya, sehingga lahan tersebut menjadi lahan yang siap tanam. Pada waktu Bahurekso membangun bendungan di Sungai Lojahan, pernah bersemedi di tepi Sungai ini pada hari Jumat Kliwon, dengan maksud agar proses pembuatan bendungan di tepi sungai tersebut berhasil. Peristiwa itulah yang kemudian dikenal dengan nama sungai Kramat, karena sungai tersebut dipercaya mempunyai hal yang berbau keramat. Deskripsi: Tradisi malam Jumat Kliwon atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kliwonan berkaitan dengan cerita rakyat atau legenda dari daerah setempat yaitu Kabupaten Batang. Pada mulanya tradisi ini diadakan dengan maksud untuk mengenang jasa leluhur dan nenek moyang Batang yang dulunya telah membangun daerah Batang. Tradisi Kliwonan yang dulunya digunakan untuk ajang melakukan ritual-ritual sederhana kemudian berkembang seperti sekarang ini. Kliwonan di daerah Batang mengalami perubahan dari bentuk dan fungsi yang secara sesungguhnya. Pada awalnya Tradisi Kliwonan merupakan sarana atau tempat pengobatan bagi orang sakit. Seiring dengan perkembangan masyarakat yang mencakup multi dimensi, tradisi Kliwonan mengalami perubahan fungsi menjadi sebuah pasar yang sering disebut dengan pasar kliwonan. Tradisi kliwonan ini diselenggarakan di alun-alun Kota Batang setiap 35 hari sekali atau disebut selapan dina menurut perhitungan Jawa tepatnya pada malam Jumat Kliwon. Acara ini selalu dilaksanakan pada Kamis Wage, malam Jumat Kliwon yang oleh sebagian masyarakat Jawa dianggap sebagai malam sakral. Jika diamati dari tahun ke tahun semakin banyak masyarakat yang melakukan Kliwonan. Tradisi Kliwonan yang sekarang ini pada mulanya diadakan dengan pertimbangan untuk mengenang para leluhur masyarakat Batang yaitu Bahurekso yang dahulu pernah bersemedi di sungai Lojahan atau Kramat. Terdapat kebiasaan di makan Sunan Sendang atau Sayid Nur pada setiap malam Jumat Kliwon banyak orang-orang datang ke sana untuk berziarah, kemudian ditiru oleh masyarakat Batang. Masyarakat Batang khususnya para orang tua sering bersemedi di sungai Kramat. Dalam tradisi Kliwonan ini, warga masyarakat melakukan tradisi berupa upacara ngalap berkah (mencari berkah) dan juga dalam rangka penyembuhan dan kesehatan untuk anak-anak kecil dengan melakukan beberapa ritual yaitu ritual gulingan, mandi di Masjid Agung Batang dan membuang pakaian bekas yang dipakainya sewaktu ritual gulingan dan membagi-bagikan uang logam serta makanan khas pasar (jajan pasar). Air yang digunakan untuk membasuh muka atau untuk mandi dalam ritual tersebut terletak di tempat wudlu Masjid Agung sebelah selatan dan konon air tersebut berasal dari mata air yang terdapat di dekat makam Sunan Sendang yang dibawa Raden Joko Cilik ke Batang. Air itu dipercaya dapat menyembuhkan penyakit atau menghindari dari segala penyakit. Sekitar dekade 1980-an hingga 1990-an, ritual tersebut masih sering dilakukan oleh masyarakat Batang setiap Kliwonan, khususnya bagi masyarakat yang memiliki anak kecil. Ritual tersebut dilakukan dengan harapan agar si anak bisa tumbuh sehat dan terhindar dari semua marabahaya dan penyakit. Ritual guling dimulai dengan mengguling-gulingkan anak yang sakit-sakitan di Alun-alun Batang. Setelah itu, baju kotor yang dipakainya harus dibuang di Alun-alun sebagai tanda membuang sial. Selanjutnya, anak dimandikan dengan air dari sumur yang ada di Masjid Agung Batang, yang terletak di sisi barat Alun-alun. Usai dimandikan, si anak diberi pakaian baru dan diajak kembali ke Alun-alun untuk melakukan ritual sawuran, yaitu melempar (membuang) sejumlah uang di Alun-alun sebagai ungkapan rasa syukur. Ironisnya, ritual tersebut sekarang makin jarang dilakukan warga Batang saat Kliwonan. Saat penyelenggaraan tradisi ini diadakan juga pasar malam di Alun-alun Kota Batang. Ada mitos kalaupun dagangan mereka tidak laku di pasar malam Kliwonan tersebut di lain tempat dagangan mereka akan laris. Keberadaan acara ini cukup membantu menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Banyak juga pedagang dari luar daerah yang turut menimba rezeki. Salah satu makanan khas Kliwonan, campuran antara klepon, gemblong (juadah) dan ketan yang diberi santan kental dan gula jawa cair (kinco).