Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaSerabi Kalibeluk - Batang, Jawa Tengah
Sejarah: Dinamakan serabi Kalibeluk karena dibuat di Desa Kalibeluk dan nama serabi tersebut sudah lama melegenda. Sejak dulu warga yang membuat serabi di Desa Kalibeluk hingga sekarang tidak lebih dari 8 keluarga. Ke delapan para pembuat serabi di desa ini masih keturunan Nyai Randinem, cikal bakal pembuat serabi di Desa Kalibeluk. Nyai Randinem mendapat restu dan diberi bekal cara membuat serabi oleh Ki Ageng Cempaluk tokoh sakti yang bertempat tinggal di Kesesi (kini wilayah Kabupaten Pekalongan). Adapun Ki Ageng Cempaluk tersebut adalah ayahanda Tumenggung Bahurekso, Senopati Kerajaan Mataram pada zaman Sultan Agung. Dalam Babad Batang, nama Tumenggung Bahurekso sangat dikenal. Bahurekso berhasil membuka hutan belantara Alas Roban yang angker menjadi pemukiman penduduk dan berkembang menjadi Kabupaten Batang. Ki Ageng Cempaluk bersabda bahwa dengan keahlian membuat serabi maka Nyai Randinem bersama anak keturunannya kelak, hidupnya akan mendapat berkah dan tidak akan mengalami kesulitan. Deskripsi: Serabi Kalibeluk berbeda dibanding serabi lainnya, baik dari tekstur, rasa maupun ukurannya. Serabi Kelibeluk ukurannya relatif besar, tebal dan beratnya untuk satu tangkep atau satu set, dua ons lebih. Rasanya juga gurih, manis dan harum. Di Desa Kalibeluk Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang, saat ini hanya terdapat delapan rumah atau 8 keluarga pembuat serabi dan mereka masih merupakan kerabat dekat yang membuat serabi secara turun temurun. Salah satu di antara mereka adalah pasangan suami-isteri, Yatin Tasripin dan Surini. Keduanya menekuni pembuatan serabi sudah puluhan tahun, menggantikan orangtuanya. Resepnya pun diwarisi dari kakeknya. Adapun peralatan untuk membuat serabi juga masih sederhana. Cetakan serabinya bentuknya seperti mangkuk terbuat dari tanah liat dan perapiannya juga memakai tungku dengan menggunakan kayu bakar. Penggunaan kayu bakar dimaksudkan untuk menjaga aroma serabi agar tidak berubah. Surini hanya menggunakan satu tungku perapian dan alat pencetak serabi yang bisa mencetak 4 serabi sekaligus. Membuat serabi diperlukan kesabaran agar kue serabi tidak gosong. Awal mula usahanya, pada awal tahun 1980, serabi buatannya dijajakan ke pasar atau toko. Seiring dikenalnya serabi buatannya, justru para pembeli yang kemudian mendatangi rumashnya untuk membeli serabi. Sebelum pukul 11.00 siang, lebih dari 100 serabi yang dijajakan oleh Surini di rumahnya itu sudah habis terjual. Bahan baku serabi menggunakan beras pilihan. Dalam satu minggu dibutuhkan beras 1 kwintal lebih. Adapun cara membuat serabi sebagai berikut: setiap 1 kg beras dicampur dengan satu butir kelapa lalu ditumbuk hingga kedua bahan menjadi halus. Tahap berikutnya tepung beras bercampur kelapa yang telah halus itu lalu diberi gula aren atau gula pasir dan vinili sebagai pengharum serta air secukupnya lalu diaduk hingga berbuih. Ada dua jenis serabi, yaitu serabi berwarna cokelat menggunakan gula aren dan serabi berwarna putih menggunakan gula pasir. Dalam menumbuk tepung bercampur kelapa dibuat secara berangsur tidak sekaligus. Hal itu semata-mata untuk menjaga kwalitas dan tekstur serabi agar tetap empuk dan gurih.