Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tari Bedhaya Santi Mulyo - Demak, Jawa Tengah |
Sejarah:
Kata Santi Mulya berasal dari Bahasa Jawa Santi yang artinya pandonga, sedangkan Mulya artinya kamulyan. Santi Mulya digunakan untuk sebuah nama tarian bedhaya di Demak menjadi Bedhaya Santi Mulya. Sesuai dengan nama tersebut diatas bahwa tari Bedhaya Santi Mulya yaitu tari kelompok wanita yang bermakna untuk memohon kemakmuran. Tari bedhaya Santi Mulyo merupakan salah satu tari tradisi masyarakat Demak yang diciptakan sekitar bulan Agustus tahun 2006 oleh Sindang Sriyati, Spd dan dibantu oleh Kuntari dan Gunawan dalam penggarapannya. Gerak tari Bedhaya Santi Mulya berpijak dari gerak tradisi gaya Surakarta.
Deskripsi:
Tari Bedhaya Santi Mulya merupakan perkembangan dari tari Bedhaya Tunggal Jiwa sebagai salah satu tari pendukung dalam kegiatan tradisi ritual Grebeg Besar di Kabupaten Demak. Tari Bedhaya Tunggal Jiwa tidak mengandung unsur sakral dan disakralkan. Artinya bahwa tari tersebut berfungsi sebagai hiburan dan asset wisata dalam penyajiannya tanpa ada persiapan khusus yang berhubungan dengan hal hal supranatural semacam sesaji, puasa dan sebagainya. Disamping itu, beberapa komponen sewaktu waktu bisa mengalami perubahan baik itu dari segi gerak, iringan dan kostum.
Tari Bedhaya Santi Mulya yang merupakan bentuk perkembangan dari Tari Bedaya Tunggal Jiwa adalah tarian yang muncul sebagai akibat dasar atas adanya kesepakatan masyarakat di Demak. Dimulai dengan munculnya tari/ beksan Srimpen yang dibawakan oleh empat penari wanita dengan serangkaian bentuk gerak sederhana, terdiri dari maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Gerak – gerak yang dipakai diambil dari gerak tari tradisi gaya Surakarta dan Yogyakarta, seperti misalnya sembahan, laras sawit, golek iwak, lung manglung, engkyek, sekar suwun, lincak gagak, lembehan, ridhong sampur. Tari Srimpen memiliki keunikan tersendiri yaitu dengan menggunakan tasbih berukuran besar warna hitam sebagai properti. Tasbih tersebut dipakai saat beksan peperangan. Maksud yang disampaikan yaitu sebagai simbol bahwa Demak merupakan salah satu kota yang bisa disebut menjadi kota Wali. Hal tersebut terbukti dari lika- liku perjuangan Wali Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di Kabupaten Demak.
Tari Srimpi/Srimpen ini ditampilkan pada Grebeg besar tahun 1986 sampai pada dua tahun berikutnya yang kemudian jumlah penari ditambah menjadi sembilan penari wanita. Sejak saat itulah tari srimpi berubah nama menjadi tari Bedhaya Tunggal Jiwa.
Selanjutnya Tari Bedhaya Tunggal Jiwa berkembang menjadi Tari Bedhaya Santi Mulyo Makna yang dapat diperoleh dari bedhaya Santi Mulyo menurut penciptanya yaitu bahwa
untuk mewujudkan permohonan manusia (sebagai ciptaan) kepada Tuhan yang telah menciptakan alam semesta, semoga dengan ini penyajian bedhaya Santi Mulya, Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta memberi kemakmuran kepada pemerintahan dari pimpinan sampai bawahan hingga rakyat di wilayah Kabupaten Demak Bintoro. Mendapat dan menemukan kebahagiaan, kemakmuran dan kecukupan dalam ketentraman jauh dari segala marabahaya.