Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Tradisional Malam Selikuran - Semarang, Jawa Tengah
Sejarah: Upacara Tradisi Malam Selikuran yang dilaksanakan di Desa Nyatnyono,KecamatanUngaran Barat Kabupaten Semarang, Jawa Tengah erat kaitannya dengan tokoh penyebar Islam di desa tersebut, yaitu Wali Hasan Munadi. Wali Hasan Munadi adalah salah satu tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Demak. Wali Hasan Munadi merupakan sosok yang baik, datang ke daerah Nyatnyono pada abad XV. Wali Hasan Munadi wafat pada tanggal 21 Ramadhon dan dimakamkan di Desa Nyanyono, Kecamatan Ungaran Barat. Semasa hidupnya beliau adalah suri tauladan yang baik bagi warga di sana dan merupakan tokoh yang disegani di desa tersebut, ketika beliau wafat masyarakat Desa Nyatnyono membuat suatu acara untuk mengenang beliau yaitu Malam Selikuran. Deskripsi: Upacara tradisional Malam Selilkuran merupakan upacara tradisi yang dilakukan di Desa Nyatnyono Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Upacara tradisonal tersebut diselenggarakan satu tahun sekali yaitu bertepatan pada tanggal 21 Ramadhan. Upacara tradisi Malam Selikuran yang sudah dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Desa Nyatnyono. Upacara Tradisi Malam Selikuran pada hakekatnya adalah sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan dari diadakannya upacara adat Malam Selikuran, diantarnya:         - Untuk mengagungkan jasa-jasa wali Hasan Munadi.         - Untuk melestarikan jasa-jasa wali Hasan Munadi agar tidak terlupakan oleh genereasi berikutnya.          - Merupakan perwujudan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan adanya membaca ayat suci - Al-quran, tahlil dan yang lainnya ketika upacara itu berlangsung.         - Untuk memohon berkah keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan kepada Tuhan Yang Maha Esa.   Adapun tempat pelaksanaan Upacara adat Malam Selikuran ini di areal komplek makam wali Hasan Munadi, Masjid Nyatnyono dan Sendang Kewarasan (konon katanya sendang ini dapat menyembuhkan penyakit). Pelaksanaanya setelah melaksanakan solat Isya. Para kerabat dan warga pendukung acara tersebut berdatangan ke areal makam dan sendang. Ada dua versi dalam melaksanakan upacara adat Malam Selikuran ini, versi pertama berkumpul di sendang kemudian bersama-sama pergi ke makam wali Hasan Munadi. Versi kedua adalah kebalikan dari versi pertama tersebut, para warga berkumpul di areal makan wali Hasan Munadi kemudian pergi ke sendang. Namun kebanyakan , para warga lebih memilih terlebih dahulu di makam wali Hasan Munadi kemudian bersam-sama pergi ke sendang untuk mengambil air di sana untuk diminum ada juga yang mandi di areal sendang tersebut. Prosesi Upacara dimulai dengan berkumpulnya warga di tempat pelaksanaan upacara. Pelaksanaan Upacara di dahului dengan Pembukaan dilakukan oleh seorang imam atau sesepuh. Sesepuh tersebut memberikan ucapan (sambutan) dengan kata-kata dalam bahasa Jawa yang isinya bermaksud kepada mendoakan wali Hasan Munadi. Dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat Al-quran kemudian mengirim do’a atau tahlil. Tahapan selanjutnya adalah Upacara Kenduri (Kenduren). Upacara ini merupakan upacara pokok dari Malam selikuran ini. Kenduren ini adalah upacara mengumpulkan makanan ke daerah Pendopo Desa. Orang-orang yang memiliiki ekonomi lebih tinggi mengumpulkan makanan dengan sukarela. Kenduri ini dimaksudkan sebagai ungkapan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan keselamatan. Dengan selesainya acara Kenduri ini maka berakhirlah sudah acara upacara Malam Selikuran. Selesai upacara para warga ada yang pulang, tapi ada juga yang pergi sendang dan areal makam wali Hasan Munadi.