Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Tradisi Jolenan - Semarang, Jawa Tengah |
Sejarah:
Jolenan berasal dari kata Jolen, kependekan dari kata “aja lalen”atau jangan lupa. Kalimat ini mengandung makna bahwa masyarakat Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang tidak boleh lupa terhadap Tuhan Pencipta Alam dan para leluhurnya yang telah berusaha mendirikan desa tersebut. Melalui suatu tradisi metri bumi yang kemudian disebut Jolenan, masyarakat Desa Kemetul mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunianya yang telah dilimpahkan kepada masyarakat. Acara tersebut digelar sekali dalam setahun yang jatuh pada setiap hari Jumat Kliwon pertama, bulan Juni hingga Agustus. Tradisi tersebut dilaksanakan secara turun temurun, akan tetapi menganai sejak kapan tradisi mulai ada, tidak ada yang mengetahui secara pasti. Namun mereka percaya bahwa tradisi ini ada bersamaan dengan keberadaan mereka.
Deskripsi:
Jolenan merupakan suatu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kemetul, Kecematan Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tradisi ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia yang telah dilimpahkan kepada masyarakat..
Tradisi itu berupa mengirimkan Jolenan yang berisi hasil bumi untuk dibawa ke balai desa. Selanjutnya, Jolenan yang berasal dari seluruh RT itu akan dibagikan kepada segenap masyarakat. Selain kirab Jolenan, juga diadakan pementasan wayang kulit pada malam harinya, yang bisa dinikmati oleh segenap warga desa tanpa terkecuali. Dana yang digunakan untuk menggelar tradisi tahunan itu juga berasal dari swadaya masyarakat setempat. Meski begitu, kondisi tersebut seolah tidak berpengaruh bagi masayarakat Desa Kemetul, Susukan, Kabupaten Semarang ini.. Ribuan masyarakat tumplek blek di halaman balai desa setempat sebagai pusat dari kegiatan itu untuk merayakan syukuran atas hasil bumi yang mereka peroleh.
Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam Tradisi Jolenan adalah seluruh warga masyarakat Desa Kemetul. Pada saat menjelang acara Tradisi Jolenen nuansa kemeriahan sudah terlihat manakala sudah memasuki kawasan desa tersebut. Jalan menuju ke balai desa juga dihias dengan berbagai umbul-umbul. Segenap masyarakat desa berkumpul, baik tua atau muda, laki-laki atau perempuan.Mereka dengan suka rela jolenan yang berisi hasil bumi untuk datang Dalam ritual ini warga mengarak berbagai hasil bumi mengelilingi desa setempat dengan menggunakan tandu ataupun gerobak dorong yang telah dihias sedemikian rupa. Tak ayal acara ini menjadi daya tarik warga sekitar. Acara arak-arakan hasil bumi diawali dengan tarian siswa siswa SD setempat. Hal ini dilakukan sebagai wujud semua lapisan masyrakat beryukur dan bersuka cita usai musim panen.
Melalui Tradisi Jolenan masyarakat berharap agar hasil bumi di Desa Kemetul semakin melimpah dari tahun ke tahun, sehingga kemakmuran warga bisa tercapai. Usai diarak dan berkumpul di halaman kantor Desa Kemetul, hasil bumi kemudian diperebutkan warga. Mereka berkeyakinan hasil bumi yang telah diarak akan mendatangkan berkah.
Tradisi Jolenan mempunyai makna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki berupa hasil panen di desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang karena sebagian besar warganya bermata pencaharian sebagai petani. Selain itu juga sebagai sarana permohonan do’a keselamatan desa dan semua warganya.