Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Siram Jamas Bende Pete Nyai Ceper - Semarang, Jawa Tengah |
Sejarah:
Keberadaan bende Nyai Ceper diakui oleh masyarakat Desa Sukaharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah dan sekitarnya sebagai pusaka. Tentang asal mula bende ini diperkirakan ditemukan dua ratus tahun yang lalu oleh masyarakat Dusun Pete. Konon oleh seorang sumber yang layak dipercaya bende yang beusia ratusan tahun itu adalah peninggalan Pangeran Diponegoro ketika perang melawan Belanda. Akan tetapi menurut tuturan rakyat setempat bende ini adalah alat perang Ki Ajar Tajuk dan Ki Jayeng Rana. Dari kedua sumber tersebut tidak dapat dipastikan sumber mana yang paling benar. Tentang siapa pemberi nama “Nyai Ceper” terhadap bende tersebut tidak ada yang dapat menjelaskan.
Semula selain benda ini ada lapak (pelana kuda) dan cemeti (cambuk). Ketiga benda tersebut diamankan di sebuah rumah untuk dirawat. Pembawa benda-benda tersebut bergantian dari generasi ke generasi. Hingga kini sudah ada delapan orang generasi pembawa benda-benda ini. Pertama Mbah Mustawi,kedua janda Mbok Towo, ketiga Mbak Wiryo Alit, ke empat Mbah Rono Setiko, ke lima Mbah Asmo Redjo, keenam Mbah Karto Dasman, ketujuh Mbah Amat Redjo, dan terakhir Mbah Sudarto. Mereka hanya berhak untuk merawat, dan tidak punya hak untuk memiliki secara pribadi.
Pusaka-pusaka tersebut kini tinggal bende Nyai Ceper saja, sedangkan lapak dan cemeti menurut cerita pembawanya sekarang di jual oleh Mbok Towo dan saat ini berada di Keraton Solo. Cara merawat Bende Nyai Ceper ini cukup sederhana, yaitu setiap malam Jum’at Kliwon dan Selasa Kliwon diberi sesaji berupa bunga kenanga, menyan madu,dan dupa. Setelah menyan madu dan dupa dibakar habis, kemudian bunga kenanga di masukan ke peti tempat Nyai Ceper bersemayam.
Deskripsi:
Upacara Siram Jamas Bende Pete Nyai Ceper merupakan tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Dusun Pete, Desa Sukoharjo Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Upacara tradisi tersebut dilaksanakan pada hari kedua hari raya idul fitri dan dihadiri oleh banyak orang dari berbagai tempat. Dahulu ketika belum banyak orang mengenal upacara ini, jamasan diselenggarakan dihalaman orang pembawanya. Sekarang ini jamasan dilaksanakan di lapangan dusun, karena sudah dikemas sedemikan rupa, sehingga banyak menarik perhatian warga masyarakat
Adapun tata cara jamasan ini sebagai berikut :
1.Nyai Ceper diarak beramai-ramai kelapangan dusun.
2.Disediakan air bunga kenanga dalam mendeng/pengaron dari tanah dan air jangan sampai terlewati orang diatasnya.
3.Didoakan dengan cara Kejawen ”Para Dayang Desa………dsb”.
4.Busana (pembungkus bende) dilepas dengan hati-hati. Busana berwujud kerudung dan kemben bisa sampai dua puluh sembilan potong.
5.Pakaian dijejer urut dari yang pertama dilepas hingga yang terakhir, diletakkan urut ditali yang telah disediakan.
6.Petugas jamasan telah ditentukan bukan sembarang orang, terkhir Bapak Karto Dasman dan Bapak Karso Sidin. Banyak pasang mata menyaksikan fisik bende pusaka.
7.Selesai dijamas dikeringkan diatas asap dupa.
8.Borehi dengan terek (campuran bedak tabor dan kunyit dioleskan merata dipermukaan bende).
9.Dipukul 5 kali. Dahulu hanya 3 kali( mengikuti perkembangan zaman)
10.Kenakan lagi bajunya, urut seperti sebelum dilepas.
11.Sedangkan yang menjadi catatan disini dalam pelaksanaan wilujengan terdapat.uborarmpe yang memiliki makna simbolik, yaitu:
1.Ambeng berjumlah tujuh
2.Golong berjumlah tujuh
3.Liwet berjumlah tujuh
4.Tumpeng berjumlah tujuh
5.Ingkung dan panggang berjumlah tujuh
Dalam kiasan Jawa, kabeh mau sarwo pitu bisoa dadi among pituduh saka Gusti, pitulungan saka Kang Maha Kuasa, lan pitutur kanggo para mudho saha sing rawuh. Air sisa jamasan diperebutkan untuk diminum, sisa terek dioleskan di leher, sedangkan bunga kenanga untuk obat. Bagi yang percaya bunga kenanga yang kering yang ada di dalam peti tempat Nyai Ceper disemayamkan, dapat digunakan sebagai obat berbagai penyakit.
Setelah selesai upcara jamasan Sang Nyai diboyong kembali kerumah tinggalnya. Banyak orang mengikutinya dari belakang. Mereka melakukan segala sesuatu demi memperoleh tuah dari Nyai yang sedang menjadi obyek perayaan.
Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam upacara Siram Jamas Bende Pete Nyai Ceper adalah :
1.Nilai Religi
2.Nilai Toleransi
3.Nilai Kebersamaan
4.Nilai Kegotongroyongan.