Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Musik Rebana - Semarang, Jawa Tengah |
Sejarah:
Musik Rebana banyak dijumpai ditengah komunitas masyarakat pemeluk Islam. Konon dalam sejarah pengembangannya music rebana berasal dari Timur Tengah atau Jazirah padang pasir Arabia. Seni music Rebana masuk kawasan nusantara dibawa atau diperkenalkan oleh para pedagang Arab yang tinggal di sepanjang pesisir pantai Indonesia.
Deskripsi:
Musik rebana merupakan salah satu dari sekian banyak seni tradisional yang ada di berbagai daerah Indonesia yang bernafaskan keislaman. Di lingkungan Semarang kesenian rebana tidak hanya dilestarikan akan tetapi dikembangkan menjadi kesenian yang komersial yang mampu memberikan kontribusi bagi kelangsungan hidup para pendukungnya, baik secara social, ekonomi, politik serta budaya. Salah satu kelompok music rebana yang berkembang di Semarang adalah kelompok music rebana Tombo Kangen yang berasal dari Kecamatan Gunungpati, Semarang.
Pada pementasan music rebana lagu-lagu yang disajikan adalah lagu-lagu yang syairnya merupakan sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangka alat yang digunakan dalam memainkan musik rebana terdiri dari genjring, terbang,kempling dan gembur.
Makna simbolis dari music rebana apabila ditinjau dari bentuk dan jenis instrumen, bahwa semua alat utama musik rebana berbentuk bulat yakni terbang genjring, terbang kempling, dan gembur. Jenis instrumen yang bulat tersebut mengandung berbagai tafsir. Di antaranya adalah: (a) kebulatan tekad menjadi hal yang sangat penting dalam mengarungi hidup dan kehidupan, (b) hidup bagaikan sebuah lingkaran yang tak berujung, maknanya adalah di dalam kehidupan ini setiap orang tidak pernah mengetahui perjalanan nasibnya, kapan untung dan kapan rugi, dan selalu silih berganti antara enak dan tidak enak, sedih dan gembira, yang dalam budaya Jawa identik dengan cakra manggilingan. Kebulatan bentuk instrumen rebana juga dapat ditafsirkan sebagai manifestasi atau simbol kebulatan tekad dalam bertaqwa kepada Allah SWT. Taqwa sering
dipandang sebagai modal yang sangat krusial dalam menjalani hidup.
Ditinjau dari komposisi music nilai harmonis dalam musik rebana mengandung nilai pluralitas yang mampu dipersatukan untuk mencapai satu tujuan, yang dalam hal ini adalah suatu komposisi lagu musik rebana yang memberi kesan dinamis. Nilai-nilai semacam inilah sesungguhnya juga menjadi sebuah kenyataaan dalam kehidupan manusia. Di dalam hidup dan kehidupan ini selalu ada hal-hal yang bersifat bertentangan, berlainan, dilematis. Namun semua itu hendak dipahami sebagai sesuatu dinamika hidup yang harus demikian adanya. Oleh karenanya, komitmen untuk selalu harmonis sebagaimana yang diajarkan dalam musik dapat menjadi suatu kekuatan nilai yang bisa dimanfaatkan untuk menyiasati kehidupan.
Apabila ditinjau dari bentuk lagu dalam music rebana terdiri dari satu bagian dan dua bagian yang merupakan simbol komunikasi. Dengan komunikasi yang baik dapat membuahkan sikap toleransi, saling memahami, dan akhirnya menumbuhkan motivasi untuk bekerjasama. Pada sisi lain, tempo lagu dalam musik rebana sering berubah ketika menjelang akhir lagu. Kenyataan ini merupakan simbol yang memaknakan, bahwa suatu perjalanan hidup pada akhirnya juga berubah menjadi tua, dan usia tua inilah biasanya orang semakin mendekatkan diri kepada Allah. Demikian juga ekspresi lagu rebana yang terdiri atas solo (suara tunggal) dan koor (suara kelompok) merupakan simbol hidup manusia sebagai mahkluk individual (solo) dan makhluk sosial (koor).
Syair-syair lagu rebana merupakan sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW dan sebagian bermuatan dakwah Islam yaitu agar kita selalu ingat kepada Allah SWT. Sanjungan tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada seorang tokoh yang telah berjasa bagi kehidupan manusia untuk menuju jalan yang benar dan baik, taqwa kepada Allah SAW, dalam arti selalu menjauhi larangan dan menjalankan apa yang diperitahkan-Nya.
Ditinjau dari fungsinya, musik rebana memiliki fungsi ritual atau sebagai sarana religius, sebagai seni pertunjukan, sebagai hiburan, dan sebagai promosi. Fungsi religius adalah sebagai sarana untuk mengagungkan kebesaran Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, serta sebagai dakwah agama Islam (nilai ritual-sakral dan bernuansa politik budaya). Dalam konteks inilah syair-syair rebana senantiasa mengajak kepada umat manusia kepada keselamatan hidup di dunia dan diakherat. Fungsi rebana sebagai seni pertunjukan (tontonan), dalam arti seni sebagai media komunikasi dengan pihak-pihak lain yang membutuhkan (nilai tontonan dan tuntunan yang bernuansa komunikasi sosial). Hal ini tampak dari cara memanfaatkan rebana pada acara peringatan hari-hari besar Islam, seperti Maulud Nabi, Isro’ Mi’roj, dan sebagainya. Dalam hal ini musik rebana selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan pada acara-acara tersebut. Fungsi rebana sebagai hiburan tampak pada acara-acara perkawinan, khitanan, yang intinya untuk memberi hiburan kepada para tamu yang hadir, dan sekaligus juga menjadi hiburan pribadi para pemainnya (nilai psikologi sosial). Fungsi rebana sebagai promosi terutama untuk memperkenalkan keberadaan suatu grup atau kelompok rebana termasuk tempat asal rebana yang bersangkutan (nilai pragmatis yang bernuansa ekonomi dan politik). Popularitas suatu grup rebana di suatu daerah maka juga akan mempopulerkan daerah asalnya.