Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKerajinan Eceng Gondok - Semarang, Jawa Tengah
Sejarah: Eceng gondok adalah tumbuhan air yang bernama latin Eichornia crassipes ini masuk ke Indonesia berasal dari Negara Brazil. Majalah Ruang, mensinyalir bahwa pada sekitar 1894, tanaman ini dibawa ke Indonesia untuk menghias Kebon Raya Bogor (KRB). Sekarang tanaman ini telah menyebar ke seantero nusantara. Secara fisik eceng gondok mempunyai ciri khas berdaun oval dan berwarna hijau mengkilap, serta berbunga warna ungu muda. Ternyata keelokan tanaman untuk kolam ini mendatangkan berbagai masalah dan sulit diberantas. Di Amerika, tanaman ini diberi julukuan million dollar weed.karena besarnya biaya yang dihabiskan untuk menanggulanginya. Eceng gondok yang tumbuh di telaga Rawa Pening telah menyebabkan kerusakan keramba budidaya ikan bagi warga di sekitar telaga. Akar dan batang eceng gondog juga menyulitkan laju perahu nelayan yang hendak menjaring ikan. Eceng gondok juga menjadi salah satu sebab berkurangnya volume air dan penyebab semakin cepatnya pendangkalan danau. Hal ini karena eceng gondok banyak menyerap air. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas tanaman gulma air ini, namun tidak pernah berhasil, karena tingkat pertumbuhan tanaman ini lebih cepat dibanding dengan pembuangannya. Satu pohon tanaman dalam waktu 52 hari mampu menghasilkan tanaman baru seluas 1 meter persegi. Bisa dibayangkan betapa besarnrnya generatifnya. Namun, kini tanaman yang oleh orang Thailand dijuluki praktob java (penyakit dari Jawa) justeru menjadi komediti yang bisa meraup rupiah bagi masyarakat sekitar telaga Rawa Pening. Eceng gondok di pakai sebagai bahan bahan dasar kerajinan berupa tas, tudung saji, dan souvenier lainnya. Setiap harinya berton-ton eceng gondok basah dan kering dihasilkan masyarakat Banyubiru. Hampir tiap halaman rumah warga terdapat jemuran Eceng gondok. Ada seorang warga mengaku bahwa setiap harinya ia mampu mengirim 8 – 10 ton. Eceng gondok basah dihargai Rp. 150 per kilonya, sedangkan eceng gondok kering bisa mencapai sedikitnya Rp. 5.000 per kilonya. Karena pertumbuhannya yang sangat cepat, maka penduduk setempat tidak pernah khawatir bahwa eceng gondok akan habis. Deskripsi: Kerajinan eceng gondok merupakan kerajinan yang berbahan baku tanaman eceng gondok. Dari bahan baku eceng gondok ini dapat dihasilkan berbagai kerajinan seperti tas, sandal,souvenier, tudung saji, pouch handphone, mobil-mobilan dan juga berbagai barang funsional seperti meja kursi. Pusat kerajinan eceng gondok di Kabupaten Semarang berpusat di sekitar Rawa Pening. Di Banyubiru ada sedikitnya 70 unit usaha yang berkecimpung di industri ini. Ada tiga jenis eceng gondok. eceng gondok sungai, eceng gondok rawa dan eceng gondok kolam. Yang paling bagus adalah eceng gondok rawa. Eceng gondok rawa memiliki serat yang relative kuat sehingga tidak mudah putus saat diproses menjadi sebuah produk kerajinan. Adapun proses produksi kerajinan eceng gondok yaitu eceng gondok yang telah dibersihkan, kemudian dijemur sampai benar-benar kering. Biasanya pengeringan (penjemuran) memakan waktu satu minggu. Eceng gondok yang telah kering kemudian disortir berdasarkan warna dan panjangnya. Setelah penyortiran, eceng gondok kering direndam dalam larutan hydrogen peroksida (H2O2) selama kurang lebih setengah hari (enam jam). Ini bertujuan agar eceng gondok kering agar lebih bersih, juga menghilangkan jamur/cendawan yang menempel juga menghilangkan flek-flek yang menempel. Setelah proses perendaman selama enam jam, eceng gondok dijemur lagi hingga tiga hari untuk kemudian dibelah menjadi lembaran-lembaran dengan ukuran variatif (sesuai dengan tujuan pembuatan dan jenis produk kerajinan) agar mudah dianyam. Lembaran-lembaran yang dihasilkan masih perlu dipress untuk memimpihkan sesuai dengan ketebalan yang diinginkan. Setelah menjadi lembaran tinggal dibuat menjadi produk kerajinan tergantung atau berdasarkan pola yang telah disiapkan. Biasanya lembaran-lembaran tersebut dipakai untuk anyaman atau kepangan. Setelah proses pembuatan bagian-bagian yang dibutuhkan selesai, kini perlu proses perakitan.Untuk itu diperlukan lem kayu atau lem perekat yang diperuntukkan untuk jenis kayu. Setelah perakitan selesai, maka tinggal finishing. Finishing berupa pemberian impra dan penyemprotan melamin. Hal ini dilakukan agar produk yang dihasilkan menjadi kaku, awet, mengkilap dan tentu saja tampak lebih menarik.). Kerajinan yang dihasilkan dari bahan dasar tumbuhan eceng gondok siap dipasarkan.