Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Tradisional: Tradisi Iriban Banyu - Semarang, Jawa Tengah
Sejarah: Tradisi Iriban Banyu atau Mot Banyu merpakan salah satu tradisi yang dilaksanakan masayarakat ,Dusun Suruhan,Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tepatnya di sendang Watu Kemloso. Tradisi tersebut dilakukan secara turun temurun sejak kira-kira 40 tahun yang lalu. Tradisi Tradisi Iriban Banyu digelar pada setiap Sabtu Pahing di Bulan Rajab. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk ikhitiar warga Dusun Kemloso kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Dusun tersebut tidak kekurangan air di musim kemarau. Deskripsi: Tradisi Iriban Banyu atau sering disebut juga dengan Mot Banyu merupakan tradisi yang dilakukan di Watu Kemloso, Dusun Suruhan, Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tradisi ini secara turun temurun ini dilaksanakan setiap tahun sekali yaitu pada setiap Sabtu Pahing di Bulan Rajab bertempat di sendang watu Kemloso.Maksud dan tujuan dilaksanakan tradisi Iriban Banyu atau Mot Banyu sebagai bentuk ikhtiar warga kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tidak kekurangan air pada musim kemarau. Adapun prosesi tradisi Iriban Banyu diawali dengan iring-iringan yaitu pada barisan pertama tampak seorang bocah yang membobong ayam jantan yang dibungkus dengan daun kelapa di dalam kurungan bambu. Bocah pembawa ayam tersebut dirias seperti pangeran kecil diiringi dua putri kecil yang ada dibelakangnya dengan membawa replica kembang manggar. Dilanjutkan iring-iringan kuda lumping lengkap dengan para penabuh gamelan, gunungan nasi kuning yang digotong para sesepuh desa dan puluhan warga. dengan langkah khidmat, berjalan menyusuri lereng bukit sejauh sekitar dua kilometer. Barisan terdepan adalah sesepuh desa yang bertugas sebagai pembuka jalan sebagai menuju Sendang Kemloso. Dalam perjalanan menuju sendang, kelompok kuda lumping tersebut terus menari. Sesepuh Desa yang berada di barisan paling depan berjalan sambil melafalkan doa-doa. Setelah sampai di Sendang Watu Kemloso, ayam yang dibawa oleh seorang bocah yang dirias seperti pangeran tersebut kemudian diserahkan kepada sesepuh desa untuk kemudian disembelih di atas sumber mata air tersebut. Darah segar pun mengucur mengalir bersama jernihnya air sendang. Ayam yang sudah dipotong tersebut, kemudian dibakar. Adapun beberapa warga lain, membersihkan saluran air dan menanam pohon Beringin.Setelah ayam selesai dimasak, warga pun berkumpul dalam tiga kelompok menghadap nasi urap dan gunungan nasi kuning.) Kemudian salah satu sesepuh, mulai membagikan beberapa potongan ayam yang sudah dibakar kepada warga. Tak hanya orang tua, yang mengikuti ritual tersebut pemuda-pemudi dan anak-anak. Adat yang sudah turun temurun tersebut sebagai bentuk masyarakat menghormati budaya nenek moyang. Selain itu, ritual tersebut diadakan sebagai bentuk ikhtiar warga untuk memohon kepada Tuhan, agar tidak kekurangan air pada musim kemarau. Semangat gotong royong warga diharapkan terus tertanam melalui media iriban ini. Makna yang terkandung dalam tradisi Iriban banyu antara lain kegotongroyongan, kebersamaan, dan kebersihan lingkungan. Sehingga melalui tradsi Iriban Banyu maka kerukunan warga senantiasa tetap terjaga dan lingkunganpun menjadi bersih dan mereka tidak kekurangan air di musim kemarau.