Sejarah : Sejak kapan Kerajinan Tatah Sungging di lakukan masyarakat Dusun pucung tidak di ketahui secara pasti. Namun pada tahun 1920 sebagian masyarakat Dusun Pucung hidup dari hasil kerajinan Tatah Sungging.
Pelopor kerajinan ini bernama Atmokaryo Glibo. Ia seorang penjual kayu bakar. Ia belajar membuat kerajinan ini pada priyayi yang tinggal di sekitar Kepatihan Yogyakarta. Setelah bisa, kemudian pulang ke Dusun Pucung dan menularkan ilmunya pada orang yang di anggap berbakat, yaitu Atmorejo. Lama-kelamaan perajin Tatah Sungging semakin bertambah dan kemudian di wadahi dalam suatu organisasi bernama Koperasi ‘’Maju Lestari’’.
Deskripsi : Kerajinan Tatah Sungging yaitu Kerajinan membuat Wayang Kulit kerajinan ini di lakukan oleh masyarakat Dusun Pucung, Desa Wukirsari, Kec.Imogiri, Kab. Bantul, Prop. DIY. Cikal bakal kerajinan Tatah Sungging bernama Atmokaryo Glibo. Ketrampilan yang di miliki tersebut kemudian di tularkan pada masyarakat sekitarnya. Akhirnya pada tahun 1920, hampir sebagian besar penduduk Dusun Pucung bisa membuat Wayang Kulit. Kerajinan tersebut dapat menambah income dan dapat menyerap tenaga kerja cukup banyak. Pendokumentasian kerajinan Tatah Sungging dapat sebagai media pelestarian, penyebarluasan informasi kakayaan budaya.